Jogja

Ribuan Domba Mati di Laut, Aktivis Indonesia Desak Dunia Akhiri Ekspor Hewan Hidup

×

Ribuan Domba Mati di Laut, Aktivis Indonesia Desak Dunia Akhiri Ekspor Hewan Hidup

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi domba.
Example 468x60

Jogyakarta, jatimmandiri.id — Ombak di lepas pantai Oman tampak tenang bulan lalu. Namun di bawah permukaan laut, ribuan nyawa hewan berakhir tragis.

Tak kurang 4000 domba dan kambing dilaporkan mati setelah kapal pengangkut yang membawa mereka mengalami kecelakaan dalam perjalanan.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Bagi banyak orang, kabar itu mungkin hanya menjadi angka dalam laporan internasional.

Namun bagi para pegiat kesejahteraan hewan, tragedi tersebut hanyalah satu dari sekian banyak kisah penderitaan yang selama ini tersembunyi di balik bisnis ekspor hewan hidup.

Jutaan hewan ternak di berbagai belahan dunia setiap tahun menjalani perjalanan panjang melalui laut dan darat.

Mereka dijejalkan dalam kapal atau truk selama berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, menghadapi suhu ekstrem, kepadatan berlebih, kekurangan makanan dan air, cedera, stres berat, hingga kematian.

“Kita sering melihat daging yang sudah tersaji di meja makan, tetapi jarang melihat bagaimana hewan-hewan itu diperlakukan selama perjalanan menuju tujuan akhir mereka,” kata Dwi Octavia, Manajer Kampanye Advokasi Kesejahteraan Hewan yang Diternakkan dari Animal Friends Jogja (AFJ), Selasa, 16/6/2026).

Kondisi itulah yang mendorong AFJ bersama puluhan organisasi perlindungan hewan dari berbagai negara menyerukan pelarangan ekspor hewan hidup secara global.

Seruan tersebut disampaikan saat peringatan Hari Kesadaran Internasional Penghapusan Ekspor Hewan Hidup (Ban Live Exports International Awareness Day) setiap 14 Juni.

Dwi Octavia mengatakan jutaan hewan ternak terus menjadi korban dari sistem perdagangan yang sesungguhnya dapat digantikan oleh metode lain yang lebih manusiawi.

“Praktik ini tidak lagi dapat dibenarkan, terutama ketika tersedia alternatif perdagangan yang lebih aman,” ujarnya.

Bagi AFJ, revisi standar transportasi hewan yang sedang dilakukan WOAH bukan sekadar pembaruan aturan administratif.

Baca Juga  Pesta Babi dan Jeritan Hutan Papua: Menggugat Investasi di Atas Tanah Adat

“Ini adalah kesempatan langka untuk mengubah cara dunia memperlakukan hewan yang selama ini hanya dipandang sebagai komoditas ekonomi,” katanya.

Sebab, lanjut dia, di balik setiap kapal pengangkut yang berlayar melintasi lautan, terdapat ribuan makhluk hidup yang merasakan lapar, haus, ketakutan, dan penderitaan.

“Perlakuan yang mengakibatkan penderitaan hewan seperti itu sudah berlangsung terlalu lama,” kata dia.

Hewan Bukan Kargo

Charlotte Reid, Wakil Direktur Kampanye Global Compassion in World Farming mengatakan, persoalan utama bukan sekadar soal perdagangan internasional, melainkan cara dunia memandang hewan.

Dalam praktik ekspor hewan hidup, jutaan sapi, kambing, domba, dan hewan ternak lainnya diperlakukan layaknya barang dagangan yang harus sampai ke tujuan dengan biaya serendah mungkin.

Padahal, kata dia, hewan adalah makhluk hidup yang mampu merasakan sakit, takut, lapar, haus, dan stres.

“Hewan adalah makhluk hidup yang memiliki kesadaran dan kemampuan merasakan, bukan sekadar muatan kargo,” ujarnya.

Ia menilai tidak ada alasan yang dapat membenarkan penderitaan jutaan hewan yang dipaksa menjalani perjalanan panjang dan melelahkan setiap tahun.

Mendesak WOAH Bertindak

Momentum desakan ini muncul ketika World Organisation for Animal Health (WOAH) atau Organisasi Kesehatan Hewan Dunia tengah merevisi pedoman global mengenai transportasi hewan.

Menurut koalisi organisasi perlindungan hewan, standar yang berlaku saat ini sudah berusia belasan tahun dan tidak lagi mencerminkan perkembangan terbaru ilmu kesejahteraan hewan.

Karena itu, mereka mendesak perwakilan veteriner dari 183 negara anggota WOAH untuk memperbarui aturan tersebut sekaligus mulai menyusun langkah menuju penghapusan bertahap ekspor hewan hidup jarak jauh.

AFJ juga meminta pemerintah Indonesia melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan agar terlibat aktif dalam proses konsultasi internasional tersebut.

Baca Juga  Mahasiswa FISIPOL UGM Kritik Pemerintahan Prabowo-Gibran, Tegaskan “Kami Menolak Bungkam”

Menurut organisasi yang berbasis di Yogyakarta itu, Indonesia memiliki kesempatan untuk ikut mendorong standar perlindungan hewan yang lebih kuat, baik di tingkat global maupun nasional.

Ancaman bagi Kesehatan Manusia

Bagi para aktivis, persoalan ekspor hewan hidup tidak hanya menyangkut kesejahteraan hewan. Perjalanan panjang dalam kondisi padat dan tidak higienis juga dinilai meningkatkan risiko penyebaran penyakit lintas negara.

Ketika ribuan hewan dari berbagai wilayah dikumpulkan dalam ruang sempit selama berhari-hari, daya tahan tubuh mereka menurun.

Kondisi itu dapat menjadi lingkungan ideal bagi berkembangnya berbagai penyakit zoonosis yang berpotensi menular kepada manusia.

“Karena itu, penghentian ekspor hewan hidup bukan hanya isu etika, tetapi juga bagian dari upaya menjaga kesehatan global,” tegasnya.

Dunia Mulai Berubah

Sejumlah negara sebenarnya telah lebih dulu mengambil langkah tegas.

Britania Raya melarang ekspor hewan hidup untuk penggemukan dan pemotongan sejak 2024 atas dasar kesejahteraan hewan.

Sementara Selandia Baru, Australia, dan Jerman juga menerapkan berbagai bentuk pembatasan terhadap praktik serupa.

Bagi AFJ, langkah negara-negara tersebut menunjukkan bahwa perdagangan hewan hidup bukanlah satu-satunya pilihan.

“Sebagai alternatif, perdagangan dapat dilakukan melalui daging, karkas, maupun material genetik untuk pembiakan yang dianggap lebih aman, efisien, dan tidak menimbulkan penderitaan selama perjalanan,” katanya.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *