Kediri, Jatimmandiri.id – Kabupaten Kediri memiliki kekayaan hasil pertanian yang melimpah. Namun, besarnya produksi belum selalu berbanding lurus dengan nilai ekonomi yang diterima petani.
Karena itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri mulai mendorong penguatan teknologi pascapanen dan pengolahan agar hasil pertanian tak sekadar dijual mentah, tetapi mampu naik kelas menjadi produk bernilai tambah.
Upaya tersebut diwujudkan melalui penjajakan kerja sama dengan Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM).
Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana bertemu dengan delegasi UGM di lingkungan Pemkab Kediri untuk membahas sejumlah peluang kolaborasi.
Pertemuan itu membahas potensi penerapan teknologi pascapanen untuk menjaga kualitas komoditas hingga pengembangan berbagai produk olahan hasil pertanian.
Bupati yang akrab disapa Mas Dhito tersebut mengatakan, penguatan sektor pertanian menjadi perhatian penting karena sekitar 80 persen penduduk Kabupaten Kediri memiliki latar belakang pekerjaan sebagai petani.
Meski sektor industri pengolahan hasil pertanian menunjukkan pertumbuhan, persoalan manajemen pascapanen masih menjadi tantangan.
Sebagian petani masih memilih menjual komoditas secara langsung ketika panen, sehingga peluang untuk mendapatkan nilai tambah belum sepenuhnya dimanfaatkan.
“Untuk menaikkan nilai tambah itu masih perlu kerja keras,” ujar Mas Dhito, Kamis (13/8/2026).
Kabupaten Kediri memiliki sejumlah komoditas unggulan, mulai dari padi, jagung, nanas, cabai hingga mangga podang. Namun, setiap komoditas memiliki tantangan masing-masing.
Cabai, misalnya, kerap menghadapi persoalan ketika harga anjlok saat produksi melimpah.
Sementara mangga podang yang menjadi salah satu ikon pertanian Kediri masih sangat bergantung pada siklus musim.
Kondisi tersebut dinilai membutuhkan sentuhan teknologi dan inovasi, terutama untuk memperpanjang masa simpan hasil pertanian, mengolah bahan baku menjadi produk baru, hingga memungkinkan sejumlah komoditas tersedia di luar musim panen.
Di sisi lain, Pemkab Kediri juga tengah memetakan berbagai potensi unggulan daerah untuk menyambut rencana Bandara Dhoho melayani embarkasi haji pada 2027.
Potensi pertanian dan produk olahannya diharapkan dapat menjadi bagian dari kekuatan ekonomi daerah.
“Pada prinsipnya kami siap menjalin kerja sama dengan Departemen Teknologi Industri Pertanian,” ungkap Mas Dhito.
Perwakilan delegasi UGM, Prof Adi Djoko Guritno, mengatakan kerja sama tersebut nantinya dapat dilakukan melalui sejumlah skema, mulai dari pendampingan hingga kegiatan pengabdian mahasiswa dan dosen yang turun langsung ke lapangan.
Transfer teknologi menjadi salah satu hal yang dinilai penting agar potensi pertanian di Kabupaten Kediri dapat dikelola secara lebih optimal.
Menurutnya, UGM memiliki sejumlah teknologi yang dapat diterapkan untuk membuat bahan baku lebih awet maupun melakukan rekayasa agar komoditas tertentu dapat tetap diproduksi di luar musim.
“Ini menarik, kami berharap nanti kita bisa saling memahami dan mulai mengkristal di mana titik-titik kita bisa kerja sama,” ucap Prof Adi.












