Edu-Life & Sport

Nadia Habibie Ingatkan Kunci Indonesia Makmur Ada di Hilirisasi dan Talenta Muda

×

Nadia Habibie Ingatkan Kunci Indonesia Makmur Ada di Hilirisasi dan Talenta Muda

Sebarkan artikel ini
Nadia Habibie, merupakan cucu ketiga B.J Habibie yangs angat inspiratif.
Example 468x60

Jakarta, Jatimmandiri.id – Nadia Sofia Habibie, cucu Presiden ke-3 RI almarhum BJ Habibie, menegaskan bahwa masa depan kemakmuran Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam, tetapi juga oleh kemampuan bangsa membangun teknologi, memperkuat industri, dan berinvestasi pada generasi muda. Menurutnya, penguasaan teknologi merupakan fondasi penting untuk menciptakan peradaban yang maju dan berdaya saing.

Nadia, yang kini menjabat sebagai Executive Board The Habibie Center, menyampaikan pandangannya dalam sebuah kesempatan diskusi mengenai arah pembangunan Indonesia. Putri Ilham Akbar Habibie itu mengajak masyarakat melihat kembali warisan pemikiran BJ Habibie yang sejak muda meyakini bahwa penguasaan teknologi menjadi jalan untuk mengangkat martabat bangsa.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Lulusan University of Chicago dengan gelar Bachelor of Arts (B.A.) Economics serta Imperial College Business School dengan gelar Master of Science (MSc) Finance tersebut mengawali pemaparannya dengan sebuah pertanyaan reflektif.

“Apakah kita yang membentuk teknologi, atau justru kita yang dibentuk olehnya? ujar Nadia.

Menurutnya, sepanjang sejarah, bangsa yang mampu mengembangkan teknologi selalu menjadi penentu arah peradaban. Ia mencontohkan Mesir Kuno yang mampu membangun peradaban besar berkat penguasaan teknologi irigasi dan rekayasa bangunan di kawasan Sungai Nil.

Nadia menilai pemikiran tersebut juga menjadi dasar cita-cita besar BJ Habibie ketika membangun industri dirgantara Indonesia. Baginya, industri pesawat bukan sekadar simbol kemajuan, melainkan sarana membangun kemampuan nasional di berbagai bidang strategis.

“Membangun pesawat menjadi strategis bukan glamornya, tetapi skill dalam material science, aerodynamics, control system, precision manufacturing and supply chain. Jadi industri ini dapat mendorong capability di ekosistemnya,” katanya.

Namun, Nadia mengingatkan Indonesia kini menghadapi tantangan deindustrialisasi. Dalam kurun 1990 hingga 2015, kontribusi sektor manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) disebut menurun sekitar 11 persen. Salah satu penyebabnya adalah ketergantungan terhadap ekspor komoditas mentah seperti batu bara, kelapa sawit, dan nikel yang memiliki nilai tambah lebih rendah dibandingkan produk olahan.

Baca Juga  Bank Mandiri Hadirkan Ekosistem Keuangan, Karier, dan Pemberdayaan Masyarakat dalam Satu Layanan

Karena itu, ia menilai Indonesia perlu memperkuat hilirisasi industri agar kekayaan sumber daya alam mampu menghasilkan nilai ekonomi yang lebih besar sekaligus menciptakan lapangan kerja berkualitas.

Di sisi lain, Nadia menekankan bahwa aset terbesar Indonesia sesungguhnya adalah sumber daya manusia. Ia menyebut terdapat sekitar 64 juta talenta muda yang harus dipersiapkan agar mampu menjadi penggerak kemajuan bangsa.

“Di Indonesia ada sekitar 64 juta talenta muda dan kita tidak mau potensi ini menjadi waste. If we don’t want that to come to waste, we want to invest in this country in one way or another,” tegas Nadia.

Menurutnya, investasi pada pendidikan, pengembangan keterampilan, inovasi, dan teknologi harus menjadi prioritas agar bonus demografi Indonesia benar-benar menjadi kekuatan dalam mewujudkan negara yang maju dan makmur, sebagaimana cita-cita besar BJ Habibie.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *