Menelusuri Jejak Peradaban Kuno
Petilasan Raden Wijaya di Desa Kucur, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto, dinilai menjadi pengingat lahirnya Majapahit sekaligus kesinambungan sejarah peradaban Jawa Timur. Pengamat budaya menilai situs tersebut merekam perjalanan panjang sejak masa Airlangga, Kediri, Singhasari, hingga berdirinya salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah Nusantara.
Di balik kesederhanaan situs itu tersimpan kisah tentang proses panjang menuju berdirinya Majapahit. Bagi Pengamat Budaya Arik, petilasan tersebut bukan sekadar penanda tempat, melainkan simbol kesinambungan pemerintahan, budaya, dan peradaban yang berkembang selama berabad-abad.
“Petilasan Raden Wijaya mengingatkan kita bahwa Majapahit tidak lahir begitu saja. Ada proses sejarah yang panjang, mulai dari fondasi pemerintahan yang dibangun Airlangga, berkembang pada masa Kediri dan Singhasari, kemudian mencapai bentuk baru ketika Raden Wijaya mendirikan Majapahit,” ujarnya.
Menurut Arik, Raden Wijaya merupakan pendiri sekaligus raja pertama Majapahit bergelar Kertarajasa Jayawardhana yang memerintah pada 1293–1309 M. Setelah mengalahkan Jayakatwang dan memanfaatkan mundurnya pasukan Mongol dari Jawa, ia mendirikan kerajaan yang kemudian berkembang menjadi salah satu kekuatan politik terbesar di Asia Tenggara.
Ia menjelaskan, meski Raja Airlangga dan Raden Wijaya tidak memiliki hubungan darah langsung berdasarkan sumber-sumber sejarah utama, keduanya memiliki keterkaitan dalam kesinambungan perkembangan peradaban di Jatim. Airlangga mendirikan Kerajaan Kahuripan pada abad ke-11 yang kemudian terbagi menjadi Janggala dan Panjalu (Kediri).
Perkembangan sejarah berikutnya melahirkan Singhasari melalui Ken Arok, sebelum akhirnya bermuara pada berdirinya Majapahit di kawasan yang sebelumnya berada dalam pengaruh kerajaan-kerajaan tersebut.
Menurut Arik, yang diwariskan dari perjalanan sejarah itu bukan hanya wilayah kekuasaan. Tetapi juga sistem pemerintahan, pengelolaan irigasi, tradisi sastra, kebudayaan, hingga gagasan tentang persatuan yang kemudian berkembang pada masa Majapahit.
Selain menyoroti perjalanan sejarah kerajaan, Arik juga mengangkat kajian mengenai kemungkinan penggunaan material meteorit pada sejumlah pusaka dari masa Jenggala, Kediri, Singhasari, hingga awal Majapahit. Menurutnya, kajian tersebut masih memerlukan pembuktian ilmiah dan belum menjadi kesimpulan yang diterima secara umum.
Ia menilai kelangkaan pusaka berbahan meteorit kemungkinan dipengaruhi oleh terbatasnya meteorit besi, rumitnya teknik metalurgi kuno, serta dinamika politik dan peperangan yang menyebabkan banyak pusaka hilang, disembunyikan, atau rusak.
“Pada masa berikutnya, material meteorit diduga lebih banyak dimanfaatkan sebagai bahan pamor pada keris, bukan lagi sebagai bilah utuh seperti yang diyakini pernah dibuat pada masa-masa sebelumnya,” jelasnya.
Arik menegaskan pandangan tersebut masih memerlukan pembuktian melalui penelitian arkeometalurgi modern, termasuk analisis laboratorium terhadap kandungan logam pada pusaka yang masih tersimpan.
Menurutnya, kolaborasi arkeologi, sejarah, metalurgi, geologi, dan filologi penting untuk memperkaya pemahaman mengenai perkembangan teknologi dan kebudayaan Nusantara.
“Semakin banyak penelitian ilmiah dilakukan, semakin jelas pula gambaran tentang kemampuan teknologi, budaya, dan peradaban leluhur kita. Pelestarian situs sejarah dan benda budaya harus berjalan beriringan dengan penelitian akademik,” ujarnya.
Dia berharap masyarakat semakin mengenal Petilasan Raden Wijaya sebagai bagian penting dari identitas bangsa sekaligus warisan budaya yang perlu dijaga untuk generasi mendatang. (mhe/ibn)












