Jatim

Menuju Panggung Unesco, Komunitas Seni dan Budaya Gelar Srawung Aksara Kawi di Malang

×

Menuju Panggung Unesco, Komunitas Seni dan Budaya Gelar Srawung Aksara Kawi di Malang

Sebarkan artikel ini
Dalam pertemuan tersebut, Menteri Fadli Zon menegaskan komitmen penuh pemerintah untuk mengawal kelestarian Aksara Kawi di tingkat internasional.
Example 468x60

Malang, Jatimmandiri.id – Upaya membawa Aksara Kawi ke panggung dunia kini memasuki babak baru yang semakin progresif.

Menyusul langkah Kementerian Kebudayaan yang memprioritaskan pengusulan aksara kuno ini ke Unesco melalui skema Urgent Safeguarding List dan Joint Nomination, gerakan akar rumput di daerah langsung bergerak cepat.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Salah satu aksi nyata ditunjukkan oleh aliansi pegiat budaya, Kolaborasi Bang Wetan, yang akan menggelar acara Srawung Budaya Aksara Kawi di Gedung Malang Creative Center (MCC) pada Minggu (5/7).

Agenda strategis ini merupakan tindak lanjut konkret dari audiensi para tokoh dan pegiat budaya Malang binaan Anggota DPD RI, AA La Nyalla Mahmud Mattalitti, bersama Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, di Jakarta pada Selasa (30/6) lalu.

Dalam pertemuan tersebut, Menteri Fadli Zon menegaskan komitmen penuh pemerintah untuk mengawal kelestarian Aksara Kawi di tingkat internasional.

“Ini (Aksara Kawi) termasuk yang perlu kami prioritaskan untuk diajukan ke Unesco,” ujar Fadli Zon di sela audiensi bersama Yayasan Satria Lelaku Nusantara tersebut.

Dukungan serupa juga mengalir deras dari La Nyalla Mahmud Mattalitti. Ketua DPD RI ini menilai Aksara Kawi bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan kunci penting untuk membuka tabir peradaban dan kebijaksanaan Nusantara.

Hubungan erat aksara ini dengan berbagai medium sejarah menjadikannya sangat krusial untuk dipelajari generasi masa kini.

“Dari pembacaan dan penafsiran teks Aksara Kawi di benda bersejarah, banyak nilai-nilai warisan leluhur yang bisa kita pahami,” kata La Nyalla.

Berangkat dari visi besar tersebut, Srawung Budaya Aksara Kawi didesain bukan sekadar sebagai forum diskusi seremonial.

Acara ini menjadi momentum penting untuk mengonsolidasikan para pemangku kepentingan dalam membangun ekosistem pelestarian budaya yang adaptif terhadap perkembangan zaman.

Baca Juga  Germas Lansia RW 12 Sawahan Tetap Eksis Jaga Kesehatan Warga

Gerakan kolektif ini dimotori oleh Kolaborasi Bang Wetan, yang merupakan gabungan dari enam paguyuban budaya terkemuka.

Yakni, Masyarakat Adat Nusantara (MATRA), Joglo Pawiyatan Aksara dan Budaya Kota Batu, Rumah Pawiyatan Aksara Singhasari, Mukti Laku, Pelestari Purbakala Budaya Indonesia (PPBI), dan Satria Lelaku Nusantara.

Melalui sinergi ini, para peserta diajak merumuskan cetak biru aksi nyata agar Aksara Kawi tidak hanya mandek sebagai artefak sejarah, tetapi tumbuh sebagai bagian dari identitas modern bangsa.

Perwakilan penyelenggara, Achmad Muhtarom, menggarisbawahi bahwa penyelamatan warisan literasi kuno ini menuntut kerja bersama yang masif dan multisektoral.

“Pelestarian Aksara Kawi tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kolaborasi pemerintah, akademisi, komunitas, media, dunia pendidikan, dan masyarakat luas agar warisan ini tetap hidup serta relevan di era digital,” tegasnya.

Ke depan, Srawung Budaya Aksara Kawi ini diproyeksikan menjadi batu pijakan bagi lahirnya berbagai kerja sama strategis yang lebih luas.

Mulai dari perluasan literasi di sekolah, riset akademis, digitalisasi manuskrip-manuskrip kuno, penguatan *font* nasional Aksara Kawi di perangkat digital, hingga pengembangan inovasi kreatif berbasis teknologi. (*)

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *