Surabaya – Jatim Mandiri
Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) kembali dibuka untuk wisatawan mulai Kamis besok (20/8). Ini seiring posko penanganan resmi ditutup Selasa (18/8), setelah karhutla di Bromo yang berdampak pada kawasan mencapai 1.121 hektare berhasil dipadamkan.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan keputusan pembukaan diambil setelah kondisi kawasan dinilai cukup aman dan tidak ditemukan lagi kebakaran masif. “Pada hari ini (kemarin), secara resmi saya atas nama Menteri Kehutanan Republik Indonesia mengumumkan bahwa pembukaan kembali Taman Nasional Bromo Tengger Semeru sejak tanggal 20 Agustus yang akan datang,” ujar Raja di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (18/8).
Raja Juli mengingatkan masyarakat dan wisatawan menjaga kawasan tersebut setelah dibuka kembali. Ia secara khusus melarang aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran. “Jangan sampai memakai api unggun yang kemudian membakar, puntung rokok, apapun yang kemudian justru akan membuat nanti kebakaran kembali di Bromo Tengger Semeru tersebut,” katanya.
Raja Juli menegaskan kebakaran kembali akan merugikan banyak pihak karena menguras tenaga dan anggaran serta mengganggu aktivitas ekowisata. “Kita tahu betapa habisnya tenaga, habisnya dana, dan akhirnya juga mengakibatkan ekowisata kita tidak berjalan, masyarakat juga rugi,” katanya.
Kebakaran Bromo sebelumnya ditangani melalui kerja sama lintas kementerian, lembaga, pemerintah daerah, serta petugas gabungan yang melakukan pemadaman, penyisiran, dan pembasahan.
Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur Gatot Soebroto juga mengatakan posko penanganan karhutla resmi ditutup setelah penyisiran dan pembasahan memastikan tidak ada lagi titik api yang masif.
“Hari Selasa, saya sampaikan bahwa Posko Penanganan Bromo sudah ditutup. Karena sudah kami lakukan penyisiran maupun water bombing pembasahan di beberapa titik sudah tidak ada titik api yang masif,” kata Gatot.
Meski posko ditutup, pemantauan tetap dilakukan petugas TNBTS. Jika ditemukan api yang berpotensi membesar, pemadaman akan dilakukan secara mandiri.
Meski demikian, Gatot mengungkapkan petugas masih menemukan warga membakar sampah di lahan pribadi selama pemantauan. “Dalam beberapa kegiatan pengecekan lapangan kemarin sempat ditemukan ada beberapa warga yang melakukan pembakaran sampah di area lahan milik pribadi. Dan ini dikhawatirkan bisa punya potensi baranya terbawa angin dan menyebar,” ungkapnya.
Kondisi vegetasi yang kering dan angin kencang selama musim kemarau dinilai dapat mempercepat penyebaran api. Karena itu, warga diminta tidak membakar sampah di lahan kering. Jika pembakaran terpaksa dilakukan, api harus dipastikan benar-benar padam menggunakan air atau alat pemadam api ringan.
“Karena api sekecil apapun kalau di Bromo dengan dukungan angin yang kencang ini bisa mengakibatkan kebakaran ataupun perluasan dampak kebakaran yang terjadi,” kata Gatot. (ant/ibn)












