Beritaꦧꦸꦢꦪ

Menguji Atlantis di Tiga Pola Gosong Gia

Editor: ibn
×

Menguji Atlantis di Tiga Pola Gosong Gia

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi rekonstruksi artistik Gosong Gia yang memperlihatkan pola konsentris dasar laut, tonjolan di bagian tengah, survei multibeam/ROV, serta pusaka yang disinyalir berkaitan dengan peradaban kuno.
Example 468x60

Menelusuri Jejak Peradaban Kuno

Gosong Gia di Laut Jawa menyimpan tiga pola bawah laut yang oleh Dhani Irwanto dibaca sebagai petunjuk kemungkinan struktur kota kuno, sehingga perlu diuji dengan geologi dan arkeologi. Pola konsentris, bukit kecil di tengah, serta kedalaman sekitar 55–60 meter menjadi titik awal penelitian, bukan kesimpulan.

——————-

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Dalam rekonstruksinya, ahli teknik sipil hidro (hydro civil engineer), peneliti independen  Dhani Irwanto menempatkan Gosong Gia atau Annie Florence Reef sebagai lokasi yang diduga berkaitan dengan ibu kota Atlantis dalam narasi Plato. Ia menyebut tiga benchmark atau titik acuan utama yang terlihat melalui data bathimetri, yakni formasi melingkar konsentris, bukit kecil dekat pusat, dan cekungan dengan kedalaman sekitar 55–60 meter.

Ketiga pola tersebut penting karena memiliki kemiripan dengan deskripsi Plato mengenai kota Atlantis yang memiliki lingkaran daratan dan perairan serta sebuah bukit di bagian tengah. Dalam bahan penelitiannya, Dhani menyebut pola tersebut sebagai dasar untuk menguji kemungkinan konfigurasi kota dan pelabuhan kuno.

“Bukti dari survei multibeam/batimetri di Gosong Gia menunjukkan adanya tonjolan (knoll) di bagian tengah dan cekungan berbentuk cincin (annular trough) pada kedalaman sekitar 55–60 meter,” tulis Dhani dalam kajiannya mengenai rekonstruksi Atlantis.

Ia menempatkan tiga karakter tersebut sebagai benchmark untuk menguji kesesuaian antara bentuk dasar laut dan deskripsi Plato. Namun, kemiripan bentuk belum dapat langsung menunjukkan adanya konstruksi buatan manusia.

Formasi melingkar dapat terbentuk melalui proses geologi atau pertumbuhan terumbu, sementara sebuah bukit di tengah juga belum otomatis merupakan bekas bangunan atau struktur buatan.

Pertanyaan paling penting karena itu bukan apakah pola tersebut menyerupai kota Atlantis, melainkan apakah proses alam dapat menjelaskan seluruh karakter Gosong Gia secara memadai. Jika dapat, kemiripan dengan deskripsi kuno memiliki nilai pembuktian yang lebih terbatas.

Baca Juga  Pedang Garuda Menembus Dunia Game

Sebaliknya, jika penelitian menemukan pola geometris yang sangat teratur, hubungan antarelemen yang konsisten, serta material konstruksi dalam konteks stratigrafi yang tepat, hipotesis antropogenik akan memperoleh dasar yang lebih kuat.

Dhani mengusulkan pemeriksaan lebih lanjut melalui pemetaan multibeam dan sonar untuk memperoleh gambaran dasar laut beresolusi tinggi. Pemeriksaan tersebut dapat dilanjutkan dengan side-scan sonar, magnetometer dan pengamatan menggunakan remotely operated vehicle atau ROV.

“Pencitraan batimetri/sonar di sekitar Gosong Gia diperkirakan dapat mengungkap struktur relief bertingkat yang hampir membentuk lingkaran konsentris, berupa cekungan-cekungan menyerupai cincin dengan tonjolan kecil di dekat pusatnya,” tulisnya dalam bagian prediksi penelitian.

Tahap berikutnya dapat diarahkan pada sub-bottom profiling dan pengambilan sampel terbatas. Metode tersebut diperlukan untuk melihat apakah struktur terumbu hanya berada di permukaan atau menutupi lapisan yang lebih tua.

Bahan penelitian Dhani juga mengusulkan pengambilan dua hingga tiga core pada bagian crest, back-reef atau lagoon. Sampel kemudian dapat dianalisis menggunakan penanggalan uranium-thorium untuk karang dan optically stimulated luminescence atau OSL untuk pasir.

Apabila ditemukan material yang diduga berasal dari aktivitas manusia, pemeriksaan petrografi, SEM/EDS dan analisis komposisi dapat membantu membedakan material alami dengan material konstruksi.

Mortar atau batu yang dikerjakan manusia, jika benar ditemukan dalam konteks yang tepat, akan memiliki nilai pembuktian jauh lebih besar daripada kemiripan bentuk semata.

Dengan demikian, sebagian informasi tentang Gosong Gia sudah dapat dirumuskan sebagai data pemetaan dan interpretasi bentuk, sedangkan keberadaan struktur buatan manusia, umur struktur, serta hubungan langsungnya dengan peradaban masa lalu masih membutuhkan pembuktian.

Dhani sendiri menegaskan bahwa pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui apa yang berada di dalam atau di bawah terumbu Gosong Gia. Sikap tersebut membuka ruang bagi penelitian lintas disiplin yang mempertemukan geologi, oseanografi, arkeologi bawah air dan ilmu penanggalan.

Baca Juga  Mencari Petunjuk Atlantis di Sundaland

Tiga pola itu akhirnya bukan sekadar persoalan mencari kota yang hilang. Gosong Gia menawarkan pertanyaan yang lebih luas tentang bagaimana lanskap Sundaland berubah ketika muka laut naik, bagaimana terumbu tumbuh di atas permukaan lama, dan apakah jejak aktivitas manusia masih tersimpan di bawahnya. (*/ibn)

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Surabaya, Jatim Mandiri Puluhan sopir truk yang tergabung dalam Gerakan Sopir Jawa Timur (GSJT) masih bertahan di Jalan Jagir Wonokromo,…