Beritaꦧꦸꦢꦪ

Membaca Dasar Laut Jawa

Editor: ibn
×

Membaca Dasar Laut Jawa

Sebarkan artikel ini
Gambar ilustrasi artistik; Visualisasi penelitian dasar Laut Jawa menggunakan kapal survei, pemindaian sonar, kendaraan bawah air, dan pengambilan inti sedimen. Penampang dasar laut memperlihatkan lapisan endapan serta alur sungai purba yang terkubur sebagai jejak bentang alam Paparan Sunda.
Example 468x60

Menelusuri Jejak Peradaban Kuno

Geolog Danny Hilman Natawidjaja mendorong pemanfaatan data seismik untuk menelusuri sungai purba dan kemungkinan aktivitas manusia yang tertutup sedimen di Laut Jawa. Gagasan itu mengalihkan perdebatan Atlantis menuju penelitian terukur melalui survei kelautan dan pengujian laboratorium, sebagaimana disampaikannya dalam seminar AIPI pada Agustus 2024.

————————————–

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Laut Jawa yang kini dilintasi kapal, dahulu merupakan bagian dari daratan Paparan Sunda atau Sundaland. Wilayah tersebut terbuka ketika permukaan laut masih lebih rendah pada zaman es.

Perubahan muka laut kemudian menenggelamkan lembah, aliran sungai, dan bentang pesisirnya. Jejak permukaan lama itu kemungkinan masih tersimpan di bawah air maupun endapan dasar laut.

Bagi Danny, bagian tersembunyi tersebut dapat diperiksa melalui teknologi kebumian. Data seismik mampu menampilkan susunan lapisan bawah permukaan berdasarkan pantulan gelombang yang diolah menjadi citra.

Danny mencontohkan penggunaan data seismik tiga dimensi di Teluk Thailand. Data tersebut memperlihatkan alur sungai purba sekitar 70 meter di bawah permukaan laut.

Pada kedalaman lain, terlihat jaringan aliran yang ditafsirkan menyerupai sistem pengairan. Namun, bentuk tersebut tetap memerlukan pemeriksaan lanjutan sebelum dikaitkan dengan aktivitas manusia.

“Yang mengejutkan, saat model ini di-slice pada kedalaman 100 meter, tak hanya terlihat jejak sungai yang lebih purba, tetapi jaringan air seperti sarang laba-laba,” kata Danny, sebagaimana diberitakan detikInet.

Contoh itu bukan penemuan permukiman di Laut Jawa. Data tersebut menunjukkan bagaimana teknologi dapat membantu peneliti memilih kawasan yang layak diperiksa secara lebih terarah.

Langkah awal dapat dimulai dengan mengumpulkan peta batimetri, data geologi, dan rekaman seismik yang telah tersedia. Informasi itu digunakan untuk mengenali lembah, dataran, bekas garis pantai, dan jalur sungai.

Baca Juga  Malang Raya Dorong Pembalap Berprestasi

Survei multibeam kemudian menghasilkan peta kedalaman dan bentuk dasar laut secara dua atau tiga dimensi. Gelombang suara dipancarkan dari kapal dan direkam kembali setelah mengenai dasar laut.

Teknologi itu efektif menyisir wilayah luas dan menemukan perubahan relief. Namun, resolusinya dipengaruhi kedalaman serta jarak alat dari sasaran.

Menurut NOAA Ocean Exploration, multibeam dapat memetakan dasar laut sekaligus mendeteksi objek pada permukaan maupun kolom air. Data pantulannya juga membantu membedakan dasar keras dan sedimen lunak.

Setelah sasaran awal ditemukan, side-scan sonar dapat memberikan gambar lebih terperinci mengenai tekstur permukaan. Alat ini sering ditarik mendekati dasar laut agar menghasilkan citra beresolusi lebih tinggi.

NOAA menjelaskan side-scan sonar biasa digunakan untuk memetakan situs warisan budaya, termasuk bangkai kapal. Namun, alat tersebut tidak mengukur kedalaman sehingga perlu dipadukan dengan multibeam.

Keterbatasan itu menunjukkan pentingnya penggunaan beberapa instrumen. Satu citra tidak cukup untuk menentukan apakah sebuah pola berasal dari proses alam atau kegiatan manusia.

Bentuk menyerupai tembok dapat terbentuk dari lapisan batuan, patahan, terumbu, atau erosi. Garis lurus juga belum otomatis menjadi jalan, kanal, dermaga, maupun batas permukiman.

Persoalan berikutnya berada di bawah sedimen. Endapan lumpur dan pasir selama ribuan tahun dapat menutup permukaan lama beserta jejak yang mungkin pernah berada di atasnya.

Untuk membacanya, peneliti dapat memakai sub-bottom profiler atau pencitra bawah dasar laut. Alat itu mengirimkan gelombang suara berfrekuensi rendah yang mampu menembus lapisan sedimen.

Pantulan dari setiap lapisan menghasilkan potongan vertikal dasar laut. Dari citra tersebut, peneliti dapat mengenali bekas sungai yang telah tertimbun serta perubahan susunan endapan.

NOAA mencatat teknologi ini dapat menemukan saluran sungai purba yang berpotensi menyimpan peninggalan budaya bawah air. Hasilnya tetap harus dibandingkan dengan sampel fisik.

Baca Juga  Mengapa Hipotesis Dhani Menarik Dikaji

Sediment core atau inti sedimen menjadi tahap penting berikutnya. Tabung khusus dimasukkan ke dasar laut untuk mengambil susunan endapan tanpa merusak urutan lapisannya.

Sampel tersebut dapat menunjukkan perubahan lingkungan, jenis material, serta kemungkinan kandungan organik. Posisi setiap temuan dalam lapisan juga membantu menentukan hubungan waktu dan konteksnya.

Bahan organik yang memenuhi syarat dapat diperiksa melalui penanggalan radiokarbon. Pengujian lain dipilih sesuai jenis sedimen, benda, serta pertanyaan yang hendak dijawab.

Apabila anomali tetap menjanjikan, kamera bawah air, kendaraan kendali jarak jauh, atau ROV dapat diturunkan. Penyelam arkeologi dapat digunakan pada lokasi yang aman dan memungkinkan.

Tahap ini memberikan gambar nyata, ukuran, posisi, dan hubungan antarbenda. Sampel juga dapat diambil secara terkendali untuk diperiksa di laboratorium.

Sebuah lokasi baru layak disebut memiliki jejak kegiatan manusia apabila didukung beberapa jenis bukti. Bentuk geometris harus diperkuat material, susunan, umur, dan konteks yang saling berkaitan.

Rangkaian pemeriksaan tersebut dapat melibatkan geolog kelautan, arkeolog bawah air, ahli sedimentasi, Badan Geologi, BRIN, dan Pushidrosal. Masing-masing memiliki keahlian berbeda dalam membaca data maupun kondisi lapangan.

Penelitian juga membutuhkan sasaran yang realistis karena bentang Laut Jawa sangat luas. Peta sungai purba dapat membantu mempersempit pencarian menuju bekas tepian sungai, muara, dataran tinggi, dan pesisir lama.

Kawasan seperti itu secara umum lebih memungkinkan dimanfaatkan manusia daripada laut terbuka. Namun, kemungkinan tersebut tetap harus dibuktikan melalui temuan yang berada dalam konteks aslinya.

Hasil penelitian tetap bernilai apabila tidak menemukan kota atau pelabuhan. Pemetaan dapat memperjelas sejarah sungai, sedimentasi, perubahan garis pantai, dan perkembangan lingkungan Paparan Sunda.

Data tersebut juga dapat membantu memahami ruang hidup masyarakat prasejarah serta perubahan alam yang mereka hadapi. Nilainya tidak bergantung pada keberhasilan menemukan Atlantis.

Baca Juga  Polisi Bongkar Curanmor Kos

Dengan teknologi, perdebatan dapat diubah menjadi pertanyaan lapangan yang terukur. Dasar Laut Jawa tidak lagi hanya menjadi ruang bagi imajinasi, melainkan arsip alam yang dapat dibaca secara bertahap.

Jawaban akhirnya mungkin berupa jejak hunian, lanskap tanpa permukiman, atau sekadar saluran sungai yang tertutup sedimen. Setiap hasil tetap memperkaya pengetahuan apabila diperoleh melalui metode terbuka dan dapat diuji. (*/ibn)

 

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Kediri, Jatim Mandiri Bea Cukai Kediri bersama Satpol PP Jombang menemukan modus penjualan rokok ilegal menggunakan sepeda motor yang dimodifikasi…

Berita

Menelusuri Jejak Peradaban Kuno Sundaland pernah menjadi bentang daratan luas dengan air, tanah subur, mineral, gunung, dan laut yang mendukung…