Jateng

Maulid Nabi Jadi Momentum Perkuat Pendidikan Akhlak

×

Maulid Nabi Jadi Momentum Perkuat Pendidikan Akhlak

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

PURWOKERTO, JATIM MANDIRI – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dinilai tidak semestinya berhenti pada kegiatan seremonial semata. Momentum tersebut dapat menjadi ruang untuk memperkuat pendidikan akhlak, keteladanan, sekaligus refleksi terhadap persoalan moral yang dihadapi masyarakat saat ini.

Akademisi Universitas Islam Negeri Prof KH Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Muridan, mengatakan nilai-nilai keteladanan Nabi Muhammad SAW masih sangat relevan untuk diterapkan dalam kehidupan masyarakat modern.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Menurutnya, Maulid Nabi seharusnya tidak hanya diisi dengan lantunan shalawat maupun pengisahan perjalanan hidup Rasulullah SAW, tetapi juga mendorong masyarakat untuk menerjemahkan nilai-nilai kenabian dalam kehidupan sehari-hari.

“Makna Maulid semestinya tidak hanya berhenti pada seremoni, lantunan shalawat atau pengisahan perjalanan hidup Rasulullah, tetapi juga mendorong refleksi terhadap relevansi nilai-nilai kenabian dalam kehidupan masyarakat kontemporer,” ujar Muridan di Purwokerto, Selasa (25/8/2026).

Ia menyebut sejumlah nilai yang perlu terus dihidupkan antara lain kejujuran, kasih sayang, keadilan, penghormatan kepada sesama, serta tanggung jawab moral.

Nilai-nilai tersebut dinilai semakin penting di tengah berbagai persoalan sosial yang berkembang, mulai dari kekerasan verbal dalam keluarga, kebiasaan menghina dan menghakimi orang lain, perundungan di ruang digital, hingga semakin kuatnya sikap individualistis.

Muridan menjelaskan pendidikan akhlak tidak cukup hanya diberikan melalui nasihat. Keteladanan justru memiliki peran penting karena seseorang dapat belajar dengan mengamati perilaku orang lain.

Ia mengaitkan hal tersebut dengan teori pembelajaran sosial Albert Bandura yang menjelaskan bahwa perilaku dapat terbentuk melalui proses mengamati, meniru, dan menginternalisasi perilaku yang dianggap memiliki nilai atau otoritas.

“Nilai moral akan lebih mudah hidup ketika tidak hanya disampaikan dalam bentuk kata-kata, tetapi diperlihatkan melalui tindakan nyata,” katanya.

Baca Juga  Pemkab Temanggung Gaungkan “Merdeka Sampah” Sambut HUT Ke-81 RI

Menurut Muridan, Nabi Muhammad SAW merupakan uswah hasanah atau teladan yang baik. Keteladanan tersebut dapat diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk ketika menghadapi perbedaan, memperlakukan keluarga, berkomunikasi dengan orang lain, merespons kesalahan, hingga membangun hubungan sosial.

Namun, tantangan pendidikan akhlak saat ini semakin kompleks. Generasi muda tidak hanya belajar dari orang tua, guru, maupun tokoh agama, tetapi juga dari berbagai figur yang mereka lihat melalui media sosial.

Karena itu, pendidikan keteladanan perlu dimulai dari lingkungan terdekat, terutama keluarga.

“Cara berbicara kepada pasangan, memperlakukan anak, merespons perbedaan dengan tetangga, hingga memperlakukan orang lain merupakan cerminan kualitas akhlak,” jelasnya.

Ia menilai Maulid Nabi perlu diarahkan dari sekadar seremoni menuju perubahan perilaku. Di lingkungan keluarga, keteladanan Nabi dapat diwujudkan melalui kebiasaan berbicara dengan lembut. Di sekolah, guru dapat memberikan contoh nyata dalam menerapkan nilai moral. Sementara di tengah masyarakat, keteladanan dapat diwujudkan melalui kepedulian terhadap sesama.

Termasuk di ruang digital, masyarakat perlu menjaga akhlak dengan memeriksa kebenaran informasi, menghindari penghinaan, serta menjaga etika dalam berkomunikasi.

Muridan menegaskan kehidupan Nabi Muhammad SAW di tengah masyarakat yang beragam juga memiliki relevansi kuat dengan kehidupan modern. Perbedaan, kata dia, tidak semestinya menjadi alasan untuk saling bermusuhan, tetapi perlu dikelola dengan penghormatan dan adab.

“Akhlak bukan pelengkap agama. Akhlak merupakan wajah agama dalam kehidupan sosial,” tegasnya.

Ia berharap peringatan Maulid Nabi tahun ini dapat menjadi momentum untuk mengubah kecintaan kepada Rasulullah SAW menjadi praktik nyata. Ingatan tentang Nabi diharapkan melahirkan keteladanan, keteladanan menjadi kebiasaan, dan kebiasaan tersebut pada akhirnya membentuk karakter masyarakat.

Dengan demikian, kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW tidak berhenti pada ekspresi emosional, tetapi diwujudkan melalui kejujuran, kelembutan, kesabaran menghadapi perbedaan, kepedulian kepada sesama, serta tanggung jawab dalam menggunakan kebebasan berbicara.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *