Malang, Jatimmandiri.id – Isu kekerasan seksual di lingkungan pendidikan memerlukan penanganan serius yang tidak sekadar berfokus pada penindakan, melainkan juga pemulihan jangka panjang dan proteksi sistemik.
Menanggapi urgensi ini, Anggota DPD RI asal Jatim, Dr Hj Lia Istifhama MEI menekankan pentingnya membangun resiliensi bagi generasi muda serta menciptakan ekosistem sekolah yang aman dan inklusif.
Pesan kuat tersebut disampaikannya saat hadir sebagai narasumber dalam Seminar Nasional yang menjadi rangkaian Musyawarah Wilayah (Muswil) Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Jawa Timur di Malang.
Di hadapan ratusan kader pelajar, Lia memaparkan betapa destruktifnya dampak kekerasan seksual.
Luka yang ditimbulkan tidak hanya berhenti saat kejadian, tetapi berpotensi menjalar ke berbagai aspek kehidupan korban, mulai dari kesehatan mental, fisik, hingga keberlangsungan pendidikan.
“Setiap korban memiliki pengalaman yang berbeda. Karena itu, dukungan psikologis, pendampingan hukum, serta lingkungan yang tidak menghakimi menjadi faktor penting dalam proses pemulihan,” ujar Lia.
Selain mitigasi dampak trauma, Lia mendorong penguatan resiliensi sebagai kecakapan hidup utama yang harus dimiliki pelajar saat ini.
Resiliensi dipandang sebagai modal krusial agar generasi muda memiliki ketahanan emosional untuk bangkit dari situasi sulit, mengelola tekanan, dan terus berkembang secara positif.
Lia menilai, jika kemampuan ini dipupuk sejak dini, sekolah akan melahirkan generasi yang tangguh, memiliki empati tinggi, serta berani mengambil sikap untuk menjadi bagian dari solusi ketika melihat tindakan kekerasan di sekitarnya.
“Generasi muda bukan hanya penerus bangsa, tetapi juga penjaga nilai-nilai kemanusiaan. Ketika pelajar saling menjaga, saling menghormati, dan berani melawan kekerasan, maka sekolah akan menjadi ruang belajar yang aman, inklusif, dan penuh harapan,” kata Lia.
Seminar Nasional ini menjadi momentum penting bagi IPM Jawa Timur dalam mempertegas komitmennya menciptakan lingkungan pendidikan yang bebas dari perundungan, diskriminasi, dan segala bentuk kekerasan.
Melalui diskusi interaktif, para peserta dibekali pemahaman komprehensif mengenai ragam bentuk kekerasan, pentingnya keberanian untuk melapor, hingga langkah taktis membangun budaya saling menghormati di sekolah.
Sinergi dan edukasi masif ini diharapkan mampu melahirkan kader-kader pelajar yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat, kepedulian sosial yang tinggi, serta mampu menjadi pelopor terciptanya ruang belajar yang aman, sehat, dan memanusiakan manusia.












