Situbondo, Jatimmandiri.id – Upaya membangun disiplin dan karakter siswa sekaligus mengembalikan daya tarik sekolah menjadi tantangan yang tengah dihadapi SMAN 1 Kapongan, Kabupaten Situbondo. Sekolah tersebut memilih konsep Rintisan Sekolah Berbasis Taruna (RSBT) dengan menggandeng Pangkalan TNI AL (Lanal) Banyuwangi.
Konsep itu diarahkan untuk membentuk siswa yang disiplin, bertanggung jawab, mandiri, memiliki rasa cinta tanah air, sekaligus menjunjung tinggi adab. Bagi sekolah, pendidikan tidak cukup hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga harus membekali siswa dengan karakter yang kuat.
Kepala SMAN 1 Kapongan Saiful Bahri mengatakan, tantangan pendidikan saat ini semakin kompleks seiring perkembangan teknologi dan perubahan perilaku generasi muda.
“Di era digitalisasi, teknologi memang mempercepat informasi. Namun, di sisi lain, degradasi moral, krisis kedisiplinan, lunturnya nasionalisme dan adab juga menjadi ancaman. Karena itu, pembentukan karakter menjadi kebutuhan penting,” kata Saiful di Situbondo, Senin (5/10).
Gagasan menerapkan RSBT tidak muncul secara tiba-tiba. Sebelum memulai program tersebut, Saiful bersama para guru melakukan studi tiru ke SMA Negeri Taruna Nala, Malang, Jawa Timur. Dari kunjungan itu, sekolah kemudian mengembangkan pendekatan serupa sesuai kebutuhan SMAN 1 Kapongan.
Langkah berikutnya dilakukan dengan mendatangi Lanal Banyuwangi. Saiful menyampaikan rencana pengembangan RSBT sekaligus meminta dukungan tenaga pengajar untuk memperkuat program pembentukan karakter di sekolah.
Permintaan tersebut mendapat respons positif. Lanal Banyuwangi mengirim dua tenaga pengajar yang hadir setiap hari di SMAN 1 Kapongan. Mereka memberikan materi yang berkaitan dengan kedisiplinan dan pembentukan karakter siswa.
Selain pembentukan karakter, RSBT juga diharapkan menjadi salah satu strategi sekolah meningkatkan daya tarik di tengah menurunnya jumlah peserta didik. Saiful menyebut jumlah siswa SMAN 1 Kapongan terus berkurang dalam beberapa tahun terakhir.
“Semula kami memiliki 24 ruang kelas, tetapi tahun ini hanya delapan kelas yang digunakan. Karena itu, kami juga berharap konsep ini dapat menarik minat siswa untuk bersekolah di SMAN 1 Kapongan,” ujarnya seperti dikutip dari Antara.
Saiful menilai kondisi geografis Situbondo juga mendukung pengembangan sekolah berbasis taruna. Kabupaten tersebut memiliki garis pantai sepanjang 155 kilometer yang menjadi salah satu potensi daerah.
Dukungan terhadap program tersebut datang dari Sekretaris Komisi IV DPRD Situbondo Muhammad Badri. Ia menilai RSBT dapat menjadi inovasi yang membedakan SMAN 1 Kapongan sekaligus menjawab persoalan kedisiplinan yang dihadapi banyak sekolah.
“Kami apresiasi. Baru enam bulan bertugas sudah punya inovasi yang luar biasa. Hampir semua sekolah tantangannya adalah kedisiplinan, dan RSBT hadir untuk membentuk kedisiplinan siswa. Ini menarik,” kata Badri.
Menurut dia, jika dikembangkan secara konsisten, konsep tersebut berpeluang membuat SMAN 1 Kapongan semakin diminati dan kelak menjadi salah satu sekolah menengah atas yang diperhitungkan di Kabupaten Situbondo.












