Edu-Life & SportGaya Hidup

Komentar Psikolog Tentang Kandasnya Pernikahan Raisya Bawazier

Penulis: AyundaEditor: Ayn
×

Komentar Psikolog Tentang Kandasnya Pernikahan Raisya Bawazier

Sebarkan artikel ini
Raisya Bawazier
Example 468x60

Jakarta, Jatimmandiri.id – Rumah tangga artis peran dan model Raisya Bawazier dengan Muhammad Zidan menjadi sorotan setelah sang suami mengajukan gugatan cerai talak. Pasangan yang menikah pada 21 Desember 2025 itu baru menjalani rumah tangga sekitar delapan bulan.

Gugatan didaftarkan Zidan di Pengadilan Agama Jakarta Pusat pada 21 Agustus 2026 dengan nomor perkara 1440/Pdt.G/2026/PA.JP. Perkara tersebut memasuki sidang perdana pada 1 September 2026. Dalam persidangan, Zidan menyebut ketidakcocokan dan perbedaan pendapat sebagai alasan pengajuan cerai.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Perpisahan dalam usia pernikahan yang masih relatif singkat bukan fenomena baru. Sebelumnya, komedian Boiyen juga menggugat cerai Rully Anggi Akbar setelah sekitar dua bulan menikah. Gugatan itu diajukan ke Pengadilan Agama Tigaraksa pada 20 Januari 2026.

Lantas, mengapa hubungan yang telah dibangun sebelum pernikahan bisa berakhir dalam waktu singkat? Dokter spesialis kesehatan jiwa dari Primaya Hospital Kelapa Gading, dr. Leonita Ariesti Putri, Sp.K.J., MSc, mengatakan lamanya masa pacaran tidak otomatis menjamin kesiapan pasangan menghadapi kehidupan rumah tangga.

“Seringkali kan jawaban gampangnya bilangnya enggak cocok. Tapi, dinamikanya enggak sesederhana itu,” ujar dr. Leonita, dikutip dari Kompas.com, Rabu (2/9/2026).

Menurut Leonita, pacaran dan pernikahan memiliki tantangan berbeda. Saat menikah, pasangan tidak hanya berbagi perasaan, tetapi juga kehidupan fisik dan emosional serta berbagai tanggung jawab.

“Pacaran mau selama apa pun itu, enggak akan pernah sama dengan kehidupan pernikahan, yang hidupnya benar-benar bersama-sama di dimensi fisik dan emosi, dan berbagi tanggung jawab,” lanjutnya.

Perbedaan yang sebelumnya terasa ringan saat pacaran dapat menjadi lebih kompleks setelah menikah. Persoalan keuangan, hobi, pembagian pekerjaan rumah, kebiasaan sehari-hari, hubungan dengan keluarga besar hingga rencana masa depan mulai berdampak langsung terhadap kehidupan bersama.

Baca Juga  Advokat Dilaporkan ke Polres Jember, Diduga Beri Keterangan Palsu

“Pas nikah, kalau kita enggak setuju pasangan kita punya hobi, misalnya, itu jadi lebih rumit karena dampaknya, konsekuensinya, dan pengaruhnya, itu enggak cuma ke pasangan,” tutur dr. Leonita.

Psikolog klinis NALA Mindspace, Shierlen Octavia, M.Psi., Psikolog, juga menilai pernikahan membuat pasangan berhadapan dengan realitas kehidupan bersama yang lebih konkret.

“Pacaran biasanya menguji perasaan, sementara pernikahan menguji realitas hidup bersama, misalnya tentang membagi peran, tanggung jawab, keuangan, atau aktivitas keseharian lainnya,” tutur Shierlen, dikutip dari Kompas.com, Kamis (29/1/2026).

Menurut Shierlen, masa pacaran masih memungkinkan pasangan mengambil jarak ketika menghadapi konflik. Setelah menikah, terutama ketika sudah tinggal bersama dan berbagi tanggung jawab, persoalan tidak selalu dapat dihindari tanpa konsekuensi.

“Setelah menikah, pasangan tidak lagi bisa menghindar tanpa konsekuensi, sehingga, bisa jadi perbedaan yang selama ini tertutup karena pacaran, baru bisa terlihat saat sudah tinggal bersama,” jelas Shierlen.

Karena itu, perbedaan dalam rumah tangga tidak dengan sendirinya berarti perceraian. Yang menjadi tantangan adalah bagaimana pasangan menghadapi konflik, berkomunikasi, serta menyelesaikan berbagai persoalan ketika kehidupan dan tanggung jawab telah dijalani bersama.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *