Edu-Life & SportKota Besar

Gandeng Kadin Jatim dan Swisscontact, PENS Rombak Kurikulum Network Engineer Bersama 6 Industri

Penulis: Jatim MandiriEditor: Alif Bintang
×

Gandeng Kadin Jatim dan Swisscontact, PENS Rombak Kurikulum Network Engineer Bersama 6 Industri

Sebarkan artikel ini
Kadin jatim
Gandeng Kadin Jatim dan Swisscontact, PENS Rombak Kurikulum Network Engineer Bersama 6 Industri
Example 468x60

Intisari Berita:

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id
  • PENS bersama Kadin Jatim, Kadin Institute, dan Swisscontact gelar FGD Job/Occupation Analysis (JOA) untuk okupasi Network Engineer.
  • Enam perusahaan teknologi dilibatkan sebagai panelis guna merumuskan Industry Based Curriculum (IBC) berbasis kebutuhan riil industri.
  • Pendekatan ini mengubah paradigma pendidikan vokasi dari supply driven menjadi demand driven demi memperbesar serapan kerja lulusan.

Surabaya, Jatimmandiri.id — Menjawab tantangan klasik ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan kampus dan kebutuhan dunia kerja, Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) mengambil langkah progresif. Kampus vokasi ini menggandeng Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur, Kadin Institute, serta Swisscontact untuk menyelaraskan kurikulum pendidikan vokasi dengan kebutuhan riil industri melalui forum Focus Group Discussion (FGD) Job/Occupation Analysis (JOA) untuk okupasi Network Engineer di Surabaya, Jumat (4/9/2026) hingga Sabtu (5/9/2026).

Langkah kolaboratif ini dirancang guna mewujudkan konsep link and match yang jauh lebih konkret. Lewat metode JOA, institusi pendidikan tidak lagi sekadar menyodorkan draf silabus yang sudah matang untuk disetujui industri, melainkan membedah langsung beban tugas, tanggung jawab operasional, hingga detail kompetensi harian seorang Network Engineer di garda depan industri teknologi informasi.

Sebanyak enam entitas bisnis terkemuka dilibatkan sebagai panelis ahli, yakni PT Satoria, PT Radnet Digital Indonesia, PT Solusi Media Digital, PT Cyberindo Aditama, PT Naraya Telematika, serta PT Supra Primatama Nusantara (Biznet Networks). Para praktisi tersebut membeberkan dinamika kebutuhan lapangan yang mereka jalani sehari-hari.

Bukan Sekadar Kerja Sama: Dorong Lahirnya Industry Based Curriculum

Direktur Kadin Institute, Nurul Indah Susanti, menegaskan bahwa sinergi pentahelix antara perguruan tinggi vokasi, asosiasi industri, dan lembaga mitra pembangunan internasional seperti Swisscontact merupakan kunci memecah kebuntuan relasi kampus dan dunia usaha.

Baca Juga  Kadin Surabaya 2024–2029 Resmi Dilantik di Taman Surya, Perkuat Kolaborasi dan Dorong UMKM Tembus Pasar Globa

“Selama ini kalau kita melihat link and match, link saja, match-nya belum. Kami berharap melalui kolaborasi ini industri, kampus, dan fasilitas dari Swisscontact dapat menciptakan wadah baru untuk bersama-sama menyusun kurikulum yang sesuai kebutuhan industri,” ujar Nurul.

Nurul menambahkan, luaran dari kegiatan intensif ini diarahkan menjadi Industry Based Curriculum (IBC). Kurikulum berbasis industri ini tidak hanya akan diimplementasikan di lingkungan PENS, tetapi juga dapat direplikasi oleh berbagai politeknik dan lembaga pendidikan vokasi lainnya di Jawa Timur, dengan menempatkan PENS sebagai pelopornya.

Revisi Kurikulum Berkala PENS: Bidik Hard Skill, Soft Skill, dan Hilirisasi

Wakil Direktur PENS, Prof. Moch. Zen Samsono Hadi, menyatakan momentum FGD ini bertepatan dengan agenda strategis kampus yang tengah menjalankan pembaruan kurikulum di seluruh program studi. Siklus evaluasi berkala setiap empat hingga lima tahunan ini dipandang sebagai fase paling tepat untuk menyerap aspirasi pasar tenaga kerja.

“Jadi nantinya kurikulum yang kami buat benar-benar sesuai dengan yang diinginkan oleh pihak industri. Kami ingin mendapatkan masukan tentang kompetensi apa yang dibutuhkan, sertifikasi apa yang diperlukan, termasuk soft skill yang harus diberikan kepada mahasiswa,” terang Prof. Zen.

Zen memastikan kemitraan dengan sektor industri tidak akan berhenti pada meja diskusi selama dua hari. PENS telah menyiapkan serangkaian program hilirisasi berkelanjutan agar kemitraan ini mendatangkan manfaat timbal balik yang konkret bagi institusi dan mahasiswa.

“Harapan kami, dari pihak industri tidak bosan selama dua hari berkumpul dengan pihak kampus untuk meramu apa yang sesuai dan apa yang pas diberikan kepada mahasiswa yang nantinya menjadi generasi emas Indonesia 2045,” tambahnya.

Pergeseran Paradigma: Beralih Menuju Demand Driven Curriculum

Penyelarasan kurikulum vokasi ini diperkuat oleh peran fasilitasi dari Swisscontact. Senior Program Officer SS4C Swisscontact, Benaya Jaya, menjelaskan bahwa pendekatan IBC melalui instrumen JOA bertujuan memangkas disparitas keahlian antara dunia pendidikan dan lapangan kerja secara presisi.

Baca Juga  Piala Ketua DPRD Surabaya 2026, Kaji Ipuk Tegaskan Pentingnya Pembinaan Atlet Muda

“Outcome dari kegiatan ini adalah sekolah dan perguruan tinggi, terutama pendidikan vokasi, memiliki kurikulum yang selaras dengan industri. Dengan kurikulum yang selaras, nantinya lulusan bisa langsung dipakai oleh industri untuk bekerja sehingga peluang kerjanya menjadi lebih besar,” jelas Benaya.

Dalam mekanisme JOA, enam panelis dari enam korporasi berbeda tersebut mengemban profesi yang sama sebagai Network Engineer dengan pengalaman minimal lima tahun dan masih aktif bekerja di bidangnya. Hal ini memastikan data kompetensi yang dihimpun memiliki tingkat kebaruan dan relevansi yang sangat tinggi.

Senada dengan hal itu, Senior Program Officer VET Development Swisscontact, Ilham Hasbiullah, menyoroti perubahan mendasar pada metodologi perancangan silabus: beralih dari model supply driven menjadi demand driven.

“Kita ingin merubah dari supply driven curriculum menjadi demand driven curriculum. Yang dilakukan awal adalah analisis dulu dari pekerjaan industri, baru itu ditransfer atau diterjemahkan menjadi kurikulum yang ada,” urai Ilham.

Ilham menggarisbawahi bahwa pelaku industri diposisikan sebagai rujukan mutlak pembuat kebijakan akademik. Hasil identifikasi JOA nantinya dikonversi menjadi daftar tugas operasional (task and duty), kemudian dikembangkan menjadi desain mata kuliah (course design) beserta bahan ajar, yang pada akhirnya akan kembali diuji kelayakannya oleh pihak industri.

“Industri itu menjadi salah satu referensi, referensi kurikulum yang nyata dengan keterbaharuan kondisi saat ini,” pungkas Ilham.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *