Dalam Negeri

KM Sabuk Nusantara 104 Kembali Singgah di Eray, Warga Wetar Utara Apresiasi Gubernur Maluku

×

KM Sabuk Nusantara 104 Kembali Singgah di Eray, Warga Wetar Utara Apresiasi Gubernur Maluku

Sebarkan artikel ini
KM Sabuk Nusantara 104 kembali singgah di Pelabuhan Eray, Wetar Utara. Warga mengapresiasi Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa atas penguatan konektivitas laut.
Example 468x60

Ambon, Jatimmandiri.id- Kembalinya KM Sabuk Nusantara (Sanus) 104 melayani masyarakat di Pelabuhan Desa Eray, Kecamatan Wetar Utara, Kabupaten Maluku Barat Daya, menjadi momentum bersejarah bagi warga setempat.

Kapal perintis tersebut kembali bersandar di dermaga Eray bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Senin (17/8/2026).

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Kehadiran kapal ini sekaligus menjawab kerinduan masyarakat yang selama beberapa waktu mengalami keterbatasan akses transportasi laut.

Sejumlah tokoh masyarakat, tokoh agama, hingga tenaga kesehatan di Wetar Utara pun menyampaikan apresiasi kepada Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa.

Mereka menilai Gubernur yang akrab disapa HL tersebut telah berupaya membuka kembali konektivitas laut bagi masyarakat di wilayah terluar dan terpencil.

Kepala Desa Eray Lamberthus Managa mengaku terharu dengan kembali berlabuhnya KM Sabuk Nusantara 104 di wilayahnya.

“Ini momentum bersejarah yang sekian purnama hilang. Dengan sandarnya KM Sanus 104 di pelabuhan kami, kerinduan kami pun terobati,” ujar Lamberthus dengan mata berkaca-kaca.

Menurutnya, kembalinya kapal perintis tersebut merupakan capaian yang sangat berarti bagi masyarakat Wetar Utara.

Sebab, keterbatasan transportasi laut selama ini berdampak langsung terhadap mobilitas warga dan distribusi kebutuhan pokok.

Lamberthus juga mengapresiasi perhatian Gubernur Hendrik Lewerissa terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat Wetar Utara.

Ia menjelaskan, beberapa waktu lalu sejumlah tokoh masyarakat dari berbagai desa menyampaikan surat kepada Gubernur Maluku terkait kondisi keterisolasian dan tingginya rentang kendali di wilayah tersebut.

Menindaklanjuti aspirasi tersebut, Dinas Perhubungan Provinsi Maluku kemudian berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan untuk mencari solusi atas persoalan transportasi laut di Wetar Utara.

“Yang saya dengar Dinas Perhubungan Provinsi Maluku diperintahkan menyurati Kementerian. Tetapi secara substansi Pak Gubernur Hendrik yang melobi Pak Menteri dan Pak Dirjen,” katanya.

Baca Juga  Polisi Selidiki Kematian Sutrimo

Konektivitas Laut Jadi Harapan Warga

Lamberthus menilai, keberadaan KM Sabuk Nusantara 104 memberikan sejumlah manfaat penting bagi masyarakat.

Selain membuka kembali konektivitas laut perintis, pelayaran kapal tersebut diharapkan memperlancar mobilitas warga antarpulau serta distribusi logistik dan bahan kebutuhan pokok.

Dengan demikian, disparitas harga di wilayah terpencil dan terluar seperti Wetar Utara diharapkan dapat ditekan.

Ia mengatakan, masyarakat selama ini menghadapi berbagai kesulitan akibat terbatasnya sarana transportasi. Karena itu, kebijakan yang berpihak kepada masyarakat menjadi sangat penting untuk memastikan warga di wilayah pelosok tetap mendapatkan akses pelayanan dan kebutuhan dasar.

“Makanya benar kalau sejumlah tokoh masyarakat Wetar menilai Gubernur Hendrik adalah putra Lease, tetapi rasa orang Wetar. Bagi saya beliau telah membuktikannya. Sebab pemimpin itu sejatinya adalah pembuktian kata-kata, bukan retorika,” tegasnya.

Akses Kesehatan Ikut Terbantu

Hal senada disampaikan tokoh agama setempat, Pdt. Deasy Tayanne. Menurutnya, penghentian rute KM Sabuk Nusantara 104 sebelumnya sangat dirasakan dampaknya oleh masyarakat dan jemaat di Eray serta wilayah sekitarnya.

Berbagai sektor kehidupan, mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga sosial ekonomi, ikut terdampak akibat keterbatasan akses transportasi.

Karena itu, Deasy berharap kembalinya KM Sanus 104 menjadi awal baru bagi masyarakat Wetar Utara.

“Kemanusiaan kami sudah lama tertekan. Semoga pada momentum HUT ke-81 Proklamasi Republik Indonesia ini, makna kemerdekaan juga benar-benar terasa di Wetar,” ujarnya.

Ia menyebut, kehadiran kembali kapal perintis tersebut merupakan buah dari perjuangan panjang masyarakat dalam mendapatkan akses transportasi yang layak.

“Puji Tuhan, Pak Gubernur Hendrik Lewerissa telah mencari jalan keluar dalam menjawab derita warga,” katanya.

Deasy juga berharap pemerintah dapat menjaga keberlanjutan rute KM Sanus 104 agar masyarakat Wetar Utara tidak kembali kehilangan akses transportasi laut.

Baca Juga  Didakwa TPPU Rp41,6 Miliar, Wawan Cebol Mengaku Tak Tahu Asal Dana Meski Beli Tanah, Mobil, dan Logam Mulia

Pasien Darurat dan Ibu Melahirkan Lebih Mudah Dirujuk

Kepala Puskesmas Desa Eray, Grace Hobataman, menilai kehadiran KM Sabuk Nusantara 104 juga sangat penting dari sisi pelayanan kesehatan.

Menurutnya, masyarakat kini memiliki akses transportasi yang lebih baik untuk melakukan rujukan pasien ke fasilitas kesehatan di luar pulau.

“Bisa dibayangkan kalau tidak ada KM Sanus 104, krisis kemanusiaan kian nyata di sini. Pasien gawat darurat dan ibu melahirkan kehilangan rujukan aman ke rumah sakit luar pulau,” ungkap Grace.

Ia mengaku bersyukur karena perhatian pemerintah terhadap persoalan transportasi laut di Wetar Utara mulai membuahkan hasil.

Grace berharap pemerintah terus memperhatikan masyarakat di wilayah pelosok dan memastikan pembangunan tidak hanya berpusat di ibu kota provinsi.

“Maluku yang indah bukan hanya ada di ibu kota provinsi, tetapi juga di kawasan ini. Karena itu, kami berharap setiap pemimpin daerah tidak mengabaikan kemerdekaan warga Wetar yang jiwa dan hatinya merindukan Indonesia sebagai tanah tumpah darah,” tuturnya.

Pemprov Maluku Dorong Transportasi yang Terjangkau

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Maluku Samuel Huwae menyampaikan rasa syukur atas kembali dilayarinya kawasan Wetar Utara oleh KM Sabuk Nusantara 104.

Menurutnya, kehadiran kapal perintis tersebut menjadi salah satu upaya untuk membuka keterisolasian wilayah dan memperkuat konektivitas antarpulau.

Dengan transportasi laut yang kembali tersedia, distribusi kebutuhan pokok masyarakat diharapkan menjadi lebih lancar.

“Bapak Gubernur berharap dengan masuknya KM Sanus 104 di Pelabuhan Eray, tingkat kesulitan selama ini dapat terpecahkan. Berikutnya, gambaran transportasi publik yang murah dan terjangkau bagi masyarakat Wetar Utara tidak lagi ibarat dalam mimpi,” ujar Huwae.

Ia mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga keamanan dan kedamaian di wilayah tersebut.

Baca Juga  Sagu sebagai Alternatif Pengentasan Kemiskinan dan Pelestarian Lingkungan

Menurutnya, keberlanjutan pelayanan transportasi laut membutuhkan dukungan semua pihak, termasuk masyarakat dan para pengguna jasa.

Huwae juga mengingatkan pentingnya mendukung semangat Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran serta Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Laut Nomor 618 Tahun 2025 tentang Penetapan Jaringan Trayek Penyelenggaraan Pelayaran Perintis Tahun Anggaran 2026.

Ia berharap seluruh pihak, termasuk awak kapal, dapat menjaga sikap dan perilaku selama menjalankan tugas.

“Saya kira ini penting. Sebab jika ada keputusan omisi lagi, yang rugi adalah masyarakat itu sendiri,” katanya.

Huwae menambahkan, kawasan tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) di Maluku tidak semestinya dipandang sebagai wilayah dengan citra negatif. Kawasan tersebut memiliki tantangan geografis dan keterbatasan infrastruktur, tetapi juga menyimpan potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang besar.

Masyarakat di kawasan 3T, lanjutnya, bahkan memiliki peran strategis sebagai garda terdepan dalam menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kembalinya KM Sabuk Nusantara 104 ke Pelabuhan Eray pun diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat konektivitas, meningkatkan pelayanan publik, sekaligus menghadirkan makna kemerdekaan yang lebih nyata bagi masyarakat Wetar Utara.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dalam Negeri

Jakarta, Jatimmandiri.id – Ketergantungan Indonesia terhadap bawang putih impor masih menjadi pekerjaan rumah besar di tengah upaya pemerintah mengejar swasembada…