Jatimmandiri.id – Persebaya Surabaya menatap musim baru dengan target dan visi yang lebih besar. Bukan hanya soal kekuatan skuad di lapangan, klub berjuluk Bajul Ijo itu juga terus memperkuat fondasi profesionalisme dan membangun sinergi dengan berbagai pihak.
Hal tersebut disampaikan CEO Persebaya, Azrul Ananda, saat Launching Synergy Persebaya yang digelar di halaman Balai Kota Surabaya, Sabtu (29/8/2026). Dalam kegiatan tersebut, Persebaya memperkenalkan skuad yang akan berlaga di kompetisi Super League sekaligus memaparkan arah pengembangan klub.
Azrul menegaskan, ukuran kekuatan klub profesional tidak semata-mata ditentukan oleh nilai pasar pemain. Menurutnya, ada investasi dan proses panjang yang tidak selalu terlihat dari angka market value.
Ia mengibaratkan kondisi tersebut seperti gunung es. Nilai pasar pemain hanya bagian yang tampak di permukaan, sedangkan di bawahnya terdapat berbagai investasi dan proses pembinaan yang justru menjadi fondasi klub.
“Bicara market value, Persebaya mungkin tidak akan menjadi yang tertinggi. Sebab, Persebaya selama ini fokus pada pembinaan pemain-pemain muda. Secara market value, angka mereka tidak besar atau mungkin belum muncul. Namun, ada nilai besar di balik proses membawa mereka dari level junior ke jenjang yang lebih tinggi,” jelas Azrul.
Menurut Azrul, investasi Persebaya tidak hanya dilakukan melalui perekrutan pemain. Klub juga mengalokasikan investasi untuk pengembangan pemain muda, peningkatan kualitas tim kepelatihan, infrastruktur sports science, sistem pencarian bakat atau scouting, departemen analis, serta berbagai aspek pendukung performa tim.
Tiga Tahun Bangun Komunikasi dengan Bernardo Tavares
Dalam kesempatan tersebut, Azrul juga mengungkap proses perekrutan pelatih kepala Persebaya, Bernardo Tavares.
Menurut dia, komunikasi dengan Tavares sebenarnya sudah dijajaki sejak sekitar tiga tahun lalu. Namun, rencana tersebut belum dapat direalisasikan karena Tavares masih terikat kontrak dengan klub sebelumnya.
“Jadi, sebenarnya sudah sejak tiga tahun lalu kami menjajaki komunikasi dengan Bernardo Tavares. Namun, saat itu dia harus menghormati kontraknya dengan klub lama. Akhirnya, baru bisa direalisasikan pada pertengahan musim lalu,” ungkapnya.
Persebaya Ajak Bonek Perkuat Sinergi
Azrul juga menekankan pentingnya sinergi dalam membangun Persebaya menjadi klub profesional yang kuat. Sinergi tersebut tidak hanya melibatkan manajemen, pemain, dan tim kepelatihan, tetapi juga Bonek, mitra, serta Pemerintah Kota Surabaya.
Salah satu perhatian utama adalah membangun hubungan yang semakin positif antara Persebaya dan Bonek.
Menurut Azrul, Bonek merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan Persebaya. Karena itu, klub ingin mendorong semakin banyak hal positif dari hubungan antara klub dan suporter sekaligus mengurangi berbagai tindakan yang berpotensi merugikan Persebaya maupun Kota Surabaya.
Dalam sembilan tahun terakhir, berbagai kejadian yang merugikan disebut telah memberikan dampak finansial yang cukup besar bagi klub. Nilainya diperkirakan mencapai sekitar Rp20 miliar.
Kerugian tersebut berasal dari berbagai komponen, mulai dari denda, hilangnya pendapatan akibat pertandingan tanpa penonton atau laga usiran, hingga biaya perbaikan kerusakan stadion dan Persebaya Store.
“Bonek adalah bagian yang tidak terpisahkan dari Persebaya. Karena itu, yang ingin kami bangun bukan sekadar hubungan antara klub dan suporter, tetapi bagaimana kita bersama-sama memperbanyak kebaikan dan menghilangkan hal-hal yang merugikan Persebaya dan Surabaya,” kata Azrul.
Flare Bisa Berujung Denda Puluhan Juta
Persebaya juga mengajak Bonek memahami bahwa setiap tindakan di stadion memiliki konsekuensi terhadap keberlangsungan klub.
Salah satu contohnya adalah pelanggaran terkait penyalaan flare saat pertandingan. Azrul menyebut, denda akibat pelanggaran tersebut dapat mencapai sedikitnya sekitar Rp50 juta.
Padahal, menurut dia, dana sebesar itu dapat dialihkan untuk kegiatan yang lebih bermanfaat. Salah satunya mendukung kegiatan sosial komunitas Bonek melalui Bonek Panti.
Azrul menyebut, Rp50 juta setara dengan biaya operasional sekitar empat bulan bagi panti asuhan yang dikelola komunitas tersebut, dengan kebutuhan sekitar Rp13 juta per bulan.
“Uang sebesar itu sebenarnya bisa digunakan untuk hal-hal yang lebih positif,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa dalam industri sepak bola profesional Indonesia, pendapatan dari penjualan tiket bukan satu-satunya sumber pemasukan klub. Bahkan, pendapatan tiket rata-rata hanya mampu menutup sekitar 15 persen dari total biaya operasional tim dalam satu musim.
Karena itu, keberlangsungan Persebaya membutuhkan dukungan dan sinergi dari berbagai pihak.
Mitra Persebaya Bukan Sekadar Logo
Selain Bonek dan Pemerintah Kota Surabaya, hubungan dengan para mitra juga menjadi bagian penting dalam pengembangan Persebaya.
Klub ingin memastikan keberadaan mitra tidak hanya berhenti pada penempatan logo di jersey atau berbagai materi publikasi. Kemitraan diharapkan berkembang menjadi kolaborasi yang memberikan manfaat lebih luas bagi klub, mitra, suporter, dan masyarakat.
Semangat tersebut menjadi bagian dari visi besar Persebaya dalam memperkuat fondasi klub menuju perjalanan 100th Glory, dengan membangun klub yang tidak hanya kompetitif di lapangan, tetapi juga semakin profesional, mandiri, dan memiliki hubungan yang kuat dengan seluruh ekosistem sepak bola Surabaya.












