ꦧꦸꦢꦪ

Ki Satriya, Dalang Muda Penjaga Kelestarian Seni Wayang Kulit

Penulis: Hari Agung Editor: Ayn
×

Ki Satriya, Dalang Muda Penjaga Kelestarian Seni Wayang Kulit

Sebarkan artikel ini
Ki Satriya saat memainkan wayang kulit di Sanggar Prayogo Laras.
Example 468x60

Sidoarjo, Jatimmandiri.id – Di tengah masifnya gempuran gawai dan peralihan minat generasi muda ke platform digital, seni pertunjukan tradisional wayang kulit menghadapi ujian regenerasi yang kian menantang. Namun, denyut pelestarian budaya adiluhung tersebut tetap menyala di Kabupaten Sidoarjo lewat tangan dingin Satriya Khairunisa (15). Seorang remaja asal Desa Sawotratap, Kecamatan Gedangan, yang memilih panggung kelir sebagai ladang berkarya.

Dikenal luas dengan nama panggung Ki Satriya, pemuda kelahiran Sidoarjo ini telah menaruh ketertarikan mendalam pada seni pedalangan sejak masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanak (TK). Langkahnya di jagat seni tradisional terbilang unik, sebab ia lahir bukan dari garis keturunan dalang maupun trah seniman panggung.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Dari Darah Mantan Petinju Lahir Bibit Dalang Cilik

Satriya tumbuh di lingkungan keluarga yang jauh dari nuansa gamelan. Sang ayah, Darwanto (57), merupakan figur mantan atlet tinju Kota Surabaya pada era 1987 silam. Ketertarikan Satriya pada wayang murni tumbuh dari rasa penasaran saat sang ayah kerap mengajaknya menyaksikan pergelaran wayang kulit secara langsung.

Sejak kecil, rasa penasaran itu berlanjut menjadi ikatan batin ketika jemari mungilnya mulai menyentuh dan memainkan figur tatah sungging tersebut di rumah. Bakat alaminya kian terasah hingga membawanya melakoni debut perdana di atas panggung pewayangan. Saat itu, Satriya baru menginjak usia enam tahun. Ia menunjukkan kemampuannya di Pagesangan dalam momentum Hari Wayang.

Kala itu, Satriya mencuri perhatian khalayak seni saat berkolaborasi dengan 12 dalang lainnya dan tercatat sebagai penampil termuda di atas panggung. Jam terbang pentasnya terus berkembang melintasi berbagai wilayah, dengan jangkauan pertunjukan terjauh hingga ke kawasan Krian.

Menempa Suluk dan Olah Suara Tokoh Werkudara

Baca Juga  Mengapa Belum Ada Bukti Kota Atlantis?

Guna mematangkan teknik pedalangannya, Satriya rutin menimba ilmu seminggu sekali di Sanggar Prayogo Laras yang berlokasi di Dusun Bonosari, Desa Pabean, Kecamatan Sedati, Sidoarjo. Di bawah asuhan dalang senior Ki Prayogo, Satriya digembleng menguasai keahlian olah suara, pelafalan suluk, hingga dinamika gerak wayang (sabet).

Dari ragam pakem yang pernah dibawakan, lakon Pandawa Syukur menjadi cerita yang paling ia sukai. Kendati demikian, menirukan karakter kesatria perkasa seperti Werkudara diakui sebagai ujian terberat dalam setiap lakon.

“Karakter Werkudara paling sulit dilakoni karena artikulasi dan suara tokohnya itu sangat berat,” ungkap Satriya usai menjalani latihan di Sanggar Prayogo Laras, Minggu (27/9).

Satriya menaruh asa besar agar generasi sebayanya tidak malu merawat warisan nusantara ini. Ia juga menaruh harapan agar pihak regulator kebudayaan lebih proaktif menyediakan fasilitas pertunjukan untuk anak-anak muda.

“Harapan saya ke depan, semoga pemerintah terus mendukung dalang-dalang muda agar diberi lebih banyak kesempatan untuk tampil. Untuk teman-teman sebaya, ayo kita menjaga budaya wayang ini bersama-sama menceritakan dan melestarikan budaya ini supaya tidak terkikis oleh zaman,” tuturnya.

Membawa Wayang ke Ruang Modern

Menjawab tantangan zaman, Ki Prayogo mendobrak kebiasaan lama dengan membawa pertunjukan wayang kulit ke ruang-ruang modern, seperti pusat perbelanjaan papan atas di Jawa Timur: Pakuwon Mall, Tunjungan Plaza (TP), hingga Royal Plaza. Cara ini dinilai efektif mengenalkan seni tradisi langsung di hadapan ruang publik remaja perkotaan.

“Tantangan zaman sekarang luar biasa. Karena itu, seniman dan sanggar harus kreatif mensyiarkan wayang. Kami sangat berharap pemerintah daerah (Pemkab) juga ikut peduli dengan rutin menggelar ajang perlombaan maupun wadah tampil, karena itu sangat memotivasi anak-anak untuk maju,” tandasnya.

Baca Juga  Membaca Simbol pada Artefak Kuno

Dukungan penuh senantiasa mengalir dari sang ayah, Darwanto. Meski memiliki latar belakang dunia olahraga baku hantam, ia merasa bangga putranya memilih jalur kebudayaan adiluhung. Kendati demikian, ia menaruh batasan tegas agar prestasi seni tidak menomorduakan kewajiban akademik di sekolah formal.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Menelusuri Jejak Peradaban Kuno Peneliti Dhani Irwanto mengembangkan pendekatan semiotik-linguistik untuk membaca kisah Atlantis sebagai rangkaian petunjuk geografis yang dapat…

Berita

Menelusuri Jejak Peradaban Kuno Sundaland pernah menjadi bentang daratan luas dengan air, tanah subur, mineral, gunung, dan laut yang mendukung…