Menelusuri Jejak Peradaban Kuno
POLA jaringan air menyerupai sarang laba-laba pada model 3D seismic Teluk Thailand memunculkan pertanyaan baru tentang kemungkinan pengelolaan air manusia di Sundaland sebelum kawasan itu tenggelam.
————————
Paparan tersebut disampaikan geolog Danny Hilman Natawidjaja dalam Seminar Nasional Warisan Peradaban Sundaland. Ini setelah data memperlihatkan pola air pada kedalaman tertentu yang menurut tafsirnya berbeda dari jaringan sungai alami.
Danny merujuk data 3D seismic dari penelitian geolog Andang Bachtiar di Teluk Thailand. Jejak sungai purba terlihat sekitar 70 meter di bawah permukaan laut modern. Namun, bagian yang menarik perhatian justru muncul ketika model dipotong pada kedalaman sekitar 100 meter.
Danny menyebut terlihat jaringan air berpola rapat seperti sarang laba-laba. “Yang mengejutkan, saat model ini di-slice pada kedalaman 100 meter, tak hanya terlihat jejak sungai yang lebih purba, tapi jaringan air yang membentuk seperti sarang laba-laba,” ujar Danny.
Ia kemudian menambahkan, “Jaringan seperti ini bukan jaringan sungai alamiah melainkan irigasi.” Pernyataan tersebut menjadi salah satu pertanyaan penting dalam pencarian jejak aktivitas manusia di lanskap Sundaland yang kini berada di bawah laut.
Pertanyaannya bukan lagi semata-mata di mana sungai purba mengalir. Pertanyaan berikutnya adalah apakah manusia pernah mengubah sebagian sistem air untuk mendukung pertanian atau aktivitas permukiman sebelum kenaikan muka laut.
Data 3D seismic memang mampu menampilkan bentuk bentang alam yang terkubur. Penelitian di Teluk Thailand menunjukkan metode ini dapat memetakan lembah, saluran, serta arsitektur fluvial bawah permukaan.
Kajian lain terhadap Paparan Sunda juga menunjukkan jaringan sungai purba terbentuk secara alami ketika kawasan tersebut masih menjadi daratan.
Di sisi lain, Dhani Irwanto melalui rekonstruksi berbasis batimetri dan topografi, memodelkan enam sistem sungai purba serta sebuah danau besar di Teluk Thailand. Hasil Dhani penting sebagai pembanding. Jaringan hidrologi yang terlihat pada rekonstruksi modern dapat terbentuk melalui proses alamiah, sehingga pola bercabang atau saling terhubung belum cukup untuk disebut sebagai irigasi buatan.
Karena itu, istilah “irigasi” perlu ditempatkan sebagai interpretasi yang masih harus diuji. Bentuk saluran, arah aliran, hubungan dengan dataran pertanian, serta pola percabangan harus dibandingkan dengan karakter jaringan sungai alami.
Pengalaman arkeologi di wilayah lain menunjukkan pembedaan tersebut memang tidak sederhana. Penelitian jaringan kanal kuno di Eridu, Mesopotamia, misalnya, membedakan saluran alami dan buatan dengan menggabungkan geomorfologi, topografi, citra penginderaan jauh, sejarah, serta pemeriksaan lapangan.
Untuk kawasan bawah laut, tahap berikutnya dapat berupa korelasi antarhorizon seismic, analisis bentuk saluran, pemodelan hidrologi, serta pengambilan data sedimen atau inti bor pada lokasi yang paling menjanjikan.
Ahli seismik diperlukan untuk memastikan bahwa pola tersebut benar-benar fitur geologi yang terekam konsisten. Ahli sedimentologi dapat membaca proses pembentukan dan pengisian saluran, sedangkan arkeolog mencari indikator aktivitas manusia.
Hidrolog juga penting untuk menguji apakah jaringan tersebut secara teknis mampu mengalirkan air dari sumber menuju lahan tertentu. Pengujian lintas disiplin akan membantu memisahkan fitur alam, modifikasi manusia, dan pola yang muncul akibat proses geologi.
Danny menyebut pendekatan 3D seismic serupa dapat diterapkan di Indonesia, termasuk Laut Jawa dan Selat Karimata di masa depan. Ia juga menyebut jejak sungai purba di Laut Jawa telah dapat terlihat melalui teknologi tersebut.
Temuan visual itu tidak perlu segera diberi label sebagai peninggalan peradaban. Justru nilai pentingnya terletak pada kemampuan membuka target penelitian baru di dasar laut, terutama untuk menguji hubungan antara lanskap purba dan aktivitas manusia.
Jika kelak ditemukan bukti kanal buatan yang terhubung dengan lahan, permukiman, atau fasilitas penyimpanan, pemahaman tentang masyarakat Sundaland dapat berkembang dari sekadar membaca bentang alam menjadi membaca cara manusia mengelola lingkungannya.
Untuk sementara, pola seperti sarang laba-laba tersebut adalah petunjuk yang menarik, bukan kesimpulan akhir. Data 3D seismic telah membuka jendela ke lanskap yang hilang, sedangkan arkeologi dan ilmu kebumian menentukan apa sebenarnya yang pernah terjadi di balik citra itu. (*/ibn)












