Beritaꦧꦸꦢꦪ

Membaca Simbol pada Artefak Kuno

×

Membaca Simbol pada Artefak Kuno

Sebarkan artikel ini
Sejumlah kapak bermotif menjadi bagian dari koleksi Suyanto yang diyakini memiliki nilai sejarah tinggi.
Example 468x60

Menelusuri Jejak Peradaban Kuno

Keberadaan artefak-artefak kuno yang dikoleksi Suyanto tidak hanya memunculkan pertanyaan mengenai usia dan asal-usulnya. tetapi juga mengundang perhatian terhadap ragam simbol dan ornamen yang terukir di permukaannya.

 

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Bagi Suyanto, setiap ukiran pada benda-benda tersebut menunjukkan bahwa pembuatnya memiliki kemampuan teknis dan artistik yang tinggi. Menurut Suyanto, kualitas pahatan pada sebagian besar koleksinya sangat halus dan dikerjakan dengan presisi. Detail ukiran terlihat konsisten, proporsional, serta memiliki kedalaman yang relatif seragam.

“Kalau diperhatikan dengan saksama, ukirannya sangat halus. Ini bukan pekerjaan yang dibuat asal-asalan. Saya meyakini pembuatnya adalah orang-orang yang benar-benar ahli pada zamannya,” ujar Suyanto.

Ia menilai, pengerjaan seperti itu membutuhkan penguasaan teknik, peralatan yang memadai, serta pemahaman terhadap komposisi bentuk. Karena itu, menurutnya, artefak tersebut merupakan hasil karya masyarakat yang telah memiliki tingkat keterampilan tinggi.

Berbagai ornamen yang menghiasi artefak juga memperlihatkan keragaman simbol. Beberapa di antaranya berupa motif geometris, garis spiral, adapula figur menyerupai naga, burung, hingga lambang menyerupai matahari.

Dalam kajian arkeologi dan sejarah kebudayaan, simbol-simbol semacam itu lazim dijumpai pada berbagai peradaban kuno di dunia. Motif matahari umumnya dikaitkan dengan sumber kehidupan, kekuasaan, atau siklus alam. Ornamen spiral sering dimaknai sebagai lambang perjalanan hidup, pertumbuhan, maupun kesinambungan waktu.

Sementara figur naga dan burung dalam banyak tradisi budaya, kerap melambangkan kekuatan, pelindung, atau hubungan antara dunia manusia dan dunia spiritual.

Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa makna simbol pada suatu artefak tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan kemiripan bentuk. Diperlukan penelitian terhadap konteks penemuan, bahan, teknik pembuatan, serta perbandingan dengan temuan lain agar interpretasinya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Baca Juga  Polri Goes to Campus, Edukasi Mahasiswa Cegah Judol

Temuan berupa ukiran yang rumit dan pengerjaan yang presisi juga menarik untuk dikaitkan dengan hipotesis yang dikemukakan peneliti independen Dhani Irwanto mengenai Atlantis. Dalam bukunya Atlantis: The Lost City is in the Java Sea, Dhani berpendapat bahwa Atlantis merupakan peradaban maju yang telah menguasai berbagai teknologi dan kebudayaan pada masanya, sebelum akhirnya hilang akibat bencana besar.

Menurut hipotesis tersebut, masyarakat Atlantis bukanlah kelompok yang hidup secara sederhana. Melainkan memiliki kemampuan dalam bidang arsitektur, teknik, pelayaran, pertanian, hingga seni.

Bagi Suyanto sendiri, terlepas dari berbagai hipotesis yang berkembang, nilai terpenting dari artefak-artefak tersebut adalah sebagai warisan budaya yang menyimpan nilai luhur. Mulai dari jejak kemampuan, pengetahuan, hingga ekspresi artistik masyarakat masa lampau. (*/ibn)

 

 

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jawa Timur, Arumi Bachsin Elestianto Dardak, kepincut dengan baju bodo, busana tradisional khas Sulawesi…