ꦧꦸꦢꦪ

Jaga Riwayat Pusaka, Ethnic Indonesia Rilis Sertifikasi Keris

Penulis: Hari AgungEditor: Alif Bintang
×

Jaga Riwayat Pusaka, Ethnic Indonesia Rilis Sertifikasi Keris

Sebarkan artikel ini
Ethnic Indonesia
KRA Rivo Cahyono, pendiri Yayasan Ethnic Indonesia Berbagi
Example 468x60

Intisari Berita:

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id
  • Pendiri Yayasan Ethnic Indonesia Berbagi, KRA Rivo Cahyono, menghadirkan layanan sertifikasi kuratorial Tosan Aji berbasis arsip digital.
  • Kajian fisik pusaka melibatkan 3 kurator bersertifikat BNSP dan dilengkapi fitur QR Code untuk melacak dhapur, pamor, ricikan, hingga tangguh.
  • Inovasi dokumentasi digital ini dirancang mencegah hilangnya informasi asal-usul, riwayat, dan filosofi saat keris berpindah kepemilikan.

Surabaya, Jatimmandiri.id – Sebilah keris memiliki ketahanan fisik yang mampu melintasi zaman dan bertahan melewati pergantian beberapa generasi. Namun, keberadaan fisik benda pusaka adiluhung ini kerap kali tidak diiringi dengan terjaganya informasi otentik mengenai asal-usul, identitas, hingga riwayat narasi yang menyertainya.

Ketika sebuah keris diwariskan dalam lingkup keluarga atau berpindah kepemilikan antar-kolektor, data krusial mengenai dhapur, motif pamor, estimasi tangguh (periodisasi), filosofi simbolik, maupun rekam jejak kepemilikannya berisiko terputus dan tidak lagi diketahui secara utuh.

Persoalan degradasi informasi sejarah tersebut menjadi perhatian serius KRA Rivo Cahyono, pendiri Yayasan Ethnic Indonesia Berbagi. Mengatasi tantangan tersebut, ia mengembangkan layanan sertifikasi kuratorial keris dan Tosan Aji modern yang diintegrasikan langsung dengan sistem dokumentasi arsip digital.

“Konsep ini memberikan alternatif bagi kolektor untuk tidak hanya menyimpan benda pusaka secara fisik, tetapi juga memiliki arsip digital yang dapat membantu proses pendokumentasian dan penyampaian informasi kepada generasi berikutnya,” jelas Rivo, Minggu (30/8).

Standar Uji Melibatkan 3 Kurator Bersertifikasi Profesi BNSP

Dalam skema layanan yang dirancang secara terstruktur ini, sertifikat kuratorial menyajikan hasil kajian mendalam terhadap anatomi dan material pusaka. Informasi yang dicatat secara rinci meliputi identifikasi dhapur, pamor, estimasi tangguh atau periodisasi pembuatan, perabot kelengkapan keris, dokumentasi visual resolusi tinggi, serta nomor registrasi identifikasi unik.

Baca Juga  Menyisir Perdagangan Purba di Nusantara

Guna menjaga akuntabilitas dan kaidah ilmiah, proses kajian kuratorial dilaksanakan langsung oleh tiga kurator keris profesional yang mengantongi sertifikat kompetensi resmi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), yaitu:

  • Ilham Triadi (Nomor Registrasi BNSP: KRS. 2457 00056 2025)
  • Hario Herlambang (Nomor Registrasi BNSP: KRS. 2457 00005 2024)
  • KRA Rivo Cahyono (Nomor Registrasi BNSP: KRS. 2457 00278 2025)

Rivo menerangkan bahwa hasil penilaian kuratorial yang diterbitkan merupakan dokumentasi objektif berdasarkan kondisi fisik pusaka saat dilakukan pemeriksaan. Mengingat khazanah keilmuan perkerisan terus berkembang dinamis, lembar kajian tersebut bersifat ilmiah dan tetap terbuka terhadap ruang penelitian lanjutan maupun koreksi di masa mendatang.

Integrasi Sistem QR Code: Akses Jejak Digital Sekali Pindai

Nilai tambah utama dari terobosan kuratorial ini terletak pada penyematan kode respon cepat (QR Code) pada setiap lembar sertifikat fisik. Fitur teknologi ini berfungsi sebagai gerbang akses menuju basis data digital dari pusaka yang telah teregistrasi.

Hanya dengan memindai kode tersebut, pemilik maupun publik dapat langsung mengakses laman informasi komprehensif, mulai dari dokumentasi foto makro, nomor identifikasi sistem, telaah dhapur, pamor, detail ricikan, estimasi era pembuatan (tangguh), hingga catatan pendukung lainnya.

Layanan sertifikasi dan digitalisasi ini dibuka secara luas bagi masyarakat umum, pemerhati budaya, maupun kolektor senior yang ingin mengarsipkan koleksi Tosan Aji miliknya. Bagi kolektor pemula, sistem ini menjadi panduan edukasi untuk mengenali spesifikasi koleksi sejak awal, sedangkan bagi kolektor senior, dokumen ini berfungsi sebagai inventarisasi arsip yang sistematis.

Berangkat dari Pengalaman Pribadi dan Tantangan Menjadi Kurator

Lahirnya gagasan inovatif ini berakar dari pengalaman personal Rivo saat awal mula menapaki dunia perkerisan. Ia sempat mengalami kebingungan akibat adanya perbedaan penafsiran dan silang pendapat dari berbagai pihak mengenai karakteristik sebilah keris yang sama. Realitas tersebut memacunya untuk mendalami studi Tosan Aji secara akademis dan empiris.

Baca Juga  Tradisi Yaa Qowiyyu Kembali Hidupkan Spirit Bulan Safar

“Semakin lama mengoleksi, saya justru semakin sadar bahwa masih banyak yang harus dipelajari. Keris bukan hanya benda untuk dimiliki, tetapi warisan budaya yang harus dipahami dan didokumentasikan,” tuturnya.

Perjalanan menimba ilmu tersebut ditempuh melalui proses panjang yang tidak instan. Rivo menuturkan dirinya sempat tidak lulus pada ujian sertifikasi kompetensi kuratorial keris saat pertama kali mencoba, sebelum akhirnya berhasil lulus dan meraih lisensi resmi BNSP.

“Saya pernah salah memahami keris dan pernah tidak lulus ujian kurator. Bagi saya itu bukan sesuatu yang perlu ditutupi. Justru perjalanan itulah yang membuat saya terus belajar. Saya pernah berada di posisi kolektor pemula yang bingung harus bertanya kepada siapa dan mengapa penjelasan mengenai keris yang sama bisa berbeda-beda. Karena itu, saya ingin Ethnic Indonesia menjadi salah satu tempat di mana orang tidak hanya datang untuk memiliki keris, tetapi juga untuk belajar memahami apa yang dimilikinya,” ungkap Rivo.

Merawat Fisik Pusaka Sekaligus Menjaga Ekosistem Pengetahuan

Dalam ranah pelestarian cagar budaya, Rivo menegaskan bahwa keris dan Tosan Aji tidak boleh hanya dipandang sebatas komoditas yang memiliki nilai material atau keindahan estetika semata. Keris adalah artefak multidimensi yang memuat rekam jejak sejarah, simbol peradaban, nilai-nilai filosofi, serta kearifan lokal lintas generasi.

“Pusaka merupakan bagian dari kekayaan budaya yang tidak hanya memiliki nilai material, tetapi juga dapat menyimpan cerita, simbol, filosofi, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di tengah perkembangan teknologi digital, pendokumentasian menjadi semakin penting agar informasi mengenai sebuah koleksi tidak hilang dan dapat ditelusuri kembali pada masa mendatang,” pungkas Rivo seraya menegaskan komitmennya, “Kerisnya mungkin akan berpindah tangan, tetapi pengetahuannya jangan sampai ikut hilang.”

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Menelusuri Jejak Peradaban Kuno Setelah ribuan tahun, Atlantis belum dapat ditempatkan sebagai fakta sejarah karena belum ada reruntuhan, artefak, prasasti,…