Blora, Jatimmandiri.id – Lonjakan drastis harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamina Dex mengancam kelancaran kelangsungan distribusi air bersih bagi warga Kabupaten Blora pada musim kemarau mendatang.
Kenaikan harga dari Rp14.500 menjadi Rp24.500 per liter sejak Maret 2026 membuat biaya operasional armada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat membengkak secara signifikan.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Blora, Widodo, menjelaskan bahwa lembaganya mengandalkan lima truk tangki yang seluruhnya menggunakan bahan bakar Pertamina Dex.
Ia mengkhawatirkan kenaikan harga BBM ini akan mengganggu target penyaluran 1.200 tangki air bersih yang telah dianggarkan tahun ini.
“Permasalahan harga BBM bisa mengurangi jumlah air yang didistribusikan ke masyarakat apabila anggarannya terbatas,” ungkap Widodo, Kamis (2/7).
Sebelum lonjakan harga terjadi, beban biaya operasional BBM untuk satu armada hanya berkisar antara Rp200 ribu hingga Rp300 ribu per hari.
Kini, anggaran tersebut melonjak tajam hingga menyentuh angka Rp500 ribu per hari untuk menunjang satu truk yang rata-rata melakukan tiga kali pengiriman.
Situasi darurat ini menempatkan BPBD dalam dilema antara keharusan melakukan efisiensi anggaran dan kewajiban melayani kebutuhan dasar masyarakat.
Sebagai langkah antisipasi krisis operasional, BPBD Blora bersiap menerapkan sistem skala prioritas pendistribusian air bersih ke wilayah terdampak paling parah.
Selain itu, pemerintah daerah akan mengoptimalkan kolaborasi dengan pihak swasta melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).
Perusahaan swasta dipersilakan menyalurkan bantuan air secara mandiri maupun menggunakan armada milik BPBD dengan merujuk pada data daerah terdampak yang valid.
Lebih lanjut, Widodo akan segera berkoordinasi secara intensif dengan Pemerintah Kabupaten Blora guna mencari solusi konkret pembiayaan operasional tersebut.
Pihaknya sangat berharap ada kebijakan khusus atau suntikan dana pada Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) jika kemarau tahun ini berlangsung lebih panjang.
Langkah taktis ini dinilai krusial agar pelayanan air bersih tidak terhenti sepenuhnya hanya karena kendala bahan bakar.












