Jakarta, Jatim Mandiri – Wakil Presiden Gibran Rakabuming mendorong penguatan inovasi dan pengembangan teknologi kendaraan listrik karya anak bangsa. Upaya tersebut dinilai penting untuk memperkuat kemandirian teknologi sekaligus daya saing industri nasional. Gibran menyampaikan hal itu saat menerima Prof. Ching-Chuen Chan di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Rabu.
Pertemuan itu membahas penguatan riset dan inovasi dalam negeri, dukungan pemerintah terhadap industri kendaraan listrik, serta peran generasi muda dalam mengembangkan teknologi secara mandiri. Keterangan resmi mengenai pertemuan tersebut diterima di Jakarta, Kamis. Chan merupakan akademisi kelahiran Magelang yang dikenal sebagai Father of Asian EV.
Gibran menilai Indonesia memiliki sumber daya yang dibutuhkan untuk mengembangkan industri kendaraan listrik. Namun, ia menekankan perlunya memperkuat inovasi agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menciptakan teknologi sendiri. Menurutnya, ketersediaan sumber daya perlu disertai pengembangan kemampuan riset dan inovasi di dalam negeri.
“Kita memiliki semua sumber daya yang dibutuhkan. Namun, dalam hal inovasi, kita masih berada pada tahap yang sangat awal,” kata Gibran. Ia juga menyampaikan bahwa pengembangan kendaraan listrik, termasuk sepeda motor listrik, menjadi perhatian pemerintah dan sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto.
Industri kendaraan listrik nasional disebut mulai berkembang dan memerlukan dukungan kebijakan yang tepat. Salah satu hal yang dibahas ialah pemberian insentif untuk meningkatkan minat masyarakat. Gibran mengatakan, “Bapak Presiden juga sedang fokus pada sepeda motor listrik. Industrinya sebenarnya sudah mulai melangkah maju. Jadi, kita tinggal melihat insentif apa yang bisa diberikan kepada konsumen,” jelasnya.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie menyoroti kebutuhan penyesuaian kurikulum dan penguatan sertifikasi kompetensi. Langkah tersebut diperlukan untuk memenuhi kebutuhan sumber daya manusia di industri kendaraan listrik. Stella juga menekankan bahwa pendidikan tinggi perlu memberi perhatian pada pengembangan teknologi di dalam negeri, bukan hanya penyediaan tenaga kerja bagi industri.
“Kementerian kami perlu mendorong perubahan kurikulum dan sertifikasi agar kita dapat memenuhi kebutuhan industri kendaraan listrik. Namun, kita juga harus memberikan perhatian besar pada pengembangan teknologi kita sendiri,” ujar Stella. Penyesuaian pendidikan dan sertifikasi menjadi bagian dari upaya menyiapkan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri sekaligus mendukung inovasi nasional.
Chan menekankan pentingnya kolaborasi Indonesia dan Tiongkok untuk memperkuat pengembangan mobilitas listrik, memperluas pertukaran pengetahuan, dan mendorong generasi muda menghasilkan terobosan teknologi. Ia menyebut dukungan serta insentif yang tepat dibutuhkan untuk membangun ekosistem inovasi. “Untuk mendorong inovasi di kalangan generasi muda Indonesia, perlu ada insentif yang dapat memacu mereka untuk berinovasi,” kata Chan.
Chan juga mengingatkan agar Indonesia tidak hanya mengandalkan teknologi dari negara lain. Menurutnya, penguasaan teknologi unggulan perlu dibangun melalui riset, pengembangan, dan inovasi mandiri. Dalam pertemuan yang sama, Adrianto Gani, General Manager International Academicians Science and Technology Innovation Centre (IASTIC) Indonesia, menyampaikan inisiatif peralihan sepeda motor berbahan bakar bensin ke kendaraan listrik. Inisiatif itu diharapkan mengurangi ketergantungan pada BBM dan membuka peluang pemanfaatan energi alternatif, termasuk energi surya. “Kita akan mengurangi ketergantungan terhadap BBM sebagai bahan bakar sepeda motor dan menggantinya dengan energi baru, seperti energi matahari,” tandas Adrianto.












