Surabaya, Jatimmandiri.id-Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) terus bergerak progresif dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs).
Melalui penguatan jejaring dan kolaborasi internasional, Unusa secara nyata mengimplementasikan poin ke-17 SDGs, yakni kemitraan untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.
Langkah strategis ini diwujudkan lewat penjajakan kerja sama antara Unusa dan Kyoto Computer Gakuin (KCGI) Jepang. Kedua institusi sepakat membidik pengembangan pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) demi memacu transformasi di lingkungan pendidikan tinggi.
Sinyal kolaborasi kuat tersebut mengemuka dalam kunjungan Prof Ananda Nepal saat memberikan kuliah tamu bertajuk “AI Architecture in Higher Education” di Auditorium Unusa Lantai 9.
Di hadapan peserta, Prof Ananda mengupas tuntas bagaimana akselerasi teknologi AI mulai merombak lanskap pendidikan tinggi di berbagai belahan dunia.
Salah satu konsep revolusioner yang ia tawarkan adalah pengakuan kredit akademik melalui pembelajaran mandiri berbasis sertifikat digital.
Di era modern ini, mahasiswa tidak lagi terpaku pada ruang kelas formal untuk menyerap ilmu, melainkan bisa meraih kompetensi dari platform global seperti Coursera dan edX, hingga pelatihan industri profesional.
“Sertifikat digital tersebut nantinya dapat diverifikasi menggunakan sistem berbasis AI untuk memastikan keaslian dokumen, kesesuaian materi, serta relevansinya dengan capaian pembelajaran di perguruan tinggi,” ujarnya, Selasa, 19 Mei 2026.
Meski teknologi memegang kendali pada tahap awal, Prof Ananda menambahkan bahwa proses peninjauan akademik tetap melibatkan sentuhan manusia. Fakultas dan dosen tetap bertindak sebagai kurator akhir sebelum bobot SKS resmi dihadiahkan kepada mahasiswa.
“Universitas tidak lagi menjadi satu-satunya tempat mahasiswa mendapatkan kredit akademik, tetapi menjadi lembaga yang mengakui kompetensi dari berbagai sumber pembelajaran,” jelasnya.
Tak hanya soal kurikulum, Prof Ananda Nepal juga memaparkan kepiawaian AI dalam menyulap aktivitas akademik konvensional menjadi media publik berbasis digital.
Melalui sentuhan teknologi, dokumentasi kuliah, seminar, praktikum, hingga proyek mahasiswa dapat direkam dan dikonversi menjadi konten edukatif yang dinamis.
Data pembelajaran mentah berupa video, audio, maupun transkrip dapat diolah AI untuk menghasilkan ringkasan materi otomatis, penerjemahan multibahasa, hingga pengelompokan informasi yang ramah pengguna.
“Hasilnya dapat dipublikasikan dalam bentuk podcast, video edukasi, maupun micro-credentials yang dapat dimanfaatkan lebih luas,” katanya.
Melalui skema ini, perguruan tinggi didorong untuk bermutasi menjadi pusat distribusi pengetahuan digital, bukan sekadar tempat belajar yang kaku di dalam ruang kelas.
Pada sesi diskusi yang berlangsung interaktif, Prof Ananda membuka lebar pintu kerja sama antara KCGI dan Unusa. Berbagai program potensial siap digulirkan, mulai dari pertukaran mahasiswa dan dosen, joint courses, hingga kolaborasi riset mutakhir di bidang teknologi dan AI.
“Dalam hal ini kita bisa menentukan bidang kolaborasi yang dapat dikembangkan bersama,” ujarnya.
Gayung bersambut, Wakil Rektor III Unusa, Prof Bambang Sektiari Lukiswanto, menyambut hangat peluang emas ini. Ia menegaskan bahwa hubungan internasional yang dibangun Unusa tidak boleh mandek di atas kertas, melainkan harus berorientasi pada eksekusi nyata yang berdampak langsung bagi sivitas akademika.
“Kami berharap kolaborasi dengan KCGI Jepang ini dapat menjadi katalisator bagi mahasiswa dan dosen Unusa untuk menyelami ekosistem AI lebih dalam, sekaligus memperkokoh daya saing global di tengah derasnya arus transformasi digital,” pungkasnya. (bin)












