Surabaya, Jatimmandiri.id– Di balik hiruk-pikuk aktivitas Pasar Turi yang legendaris, tersimpan cerita perjuangan para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang terus bertahan di tengah perubahan zaman dan ketidakpastian ekonomi.
Sektor UMKM tetap menjadi tulang punggung perekonomian rakyat. Hal itu tercermin dari semangat para pedagang kuliner yang setiap hari mengais rezeki di kawasan ini, meski harus menghadapi berbagai tantangan, mulai dari persaingan hingga perubahan pola konsumsi masyarakat.
Salah satunya adalah Zainal Arifin, penjual nasi penyetan yang telah menekuni usahanya selama tiga tahun terakhir. Aroma sambal dan gurihnya lauk menjadi bagian dari kesehariannya.
Setelah sempat berpindah lokasi, Zainal kini mantap berjualan di tempatnya saat ini. Namun, ia mengakui penjualan belakangan ini mengalami penurunan, salah satunya akibat maraknya layanan pesan antar berbasis daring.
Meski demikian, ia tetap bertahan. Dengan omzet kotor harian sekitar Rp200.000 hingga Rp250.000, Zainal masih mampu membawa pulang pendapatan bersih sekitar Rp150.000 per hari.
“Suka duka pasti ada. Akhir-akhir ini memang agak sepi pembeli. Tapi saya tetap bersyukur, yang penting cukup untuk makan anak dan istri. Harapan saya ke depan usaha ini bisa lebih sukses,” ujarnya.
Cerita serupa datang dari Mustaqim, penjual minuman tradisional legen yang telah berjualan sejak 2011. Ia menjadi saksi bagaimana perubahan harga bahan baku memengaruhi jalannya usaha kecil.
Dulu, ia hanya membutuhkan modal untuk membeli satu jerigen legen seharga Rp65.000. Kini, harga tersebut melonjak menjadi Rp120.000 per jerigen.
Meski menghadapi kenaikan biaya, Mustaqim tetap bertahan. Saat ini, pendapatan hariannya berada di kisaran Rp130.000 hingga Rp150.000.
“Kalau diingat, dulu modal saya sangat kecil. Sekarang harga sudah naik, tapi alhamdulillah masih bisa membawa pulang rezeki untuk keluarga,” tuturnya.
Sementara itu, Muhammad Yadit, penjual soto yang telah bertahun-tahun berjualan, juga merasakan pasang surut dunia usaha. Dengan modal awal sekitar Rp2 juta hingga Rp3 juta, ia membangun usahanya dari nol.
Yadit mengaku pernah merasakan masa kejayaan dengan omzet mencapai Rp1,5 juta. Namun, kondisi pasar saat ini membuat capaian tersebut sulit terulang.
“Perjalanan usaha ini panjang. Saya sudah merasakan pindah-pindah tempat dan naik turunnya pendapatan. Sekarang kondisinya memang berbeda,” ungkapnya.
Meski demikian, ia tetap optimistis dan memilih bertahan.
Kisah Zainal, Mustaqim, dan Yadit menjadi potret nyata ketangguhan pelaku UMKM di tengah dinamika ekonomi. Mereka membuktikan bahwa kunci bertahan bukan hanya soal modal, tetapi juga ketekunan, rasa syukur, dan harapan yang terus dijaga.
Di tengah gempuran modernisasi dan persaingan pasar, para pelaku UMKM ini tetap berdiri, menjaga denyut ekonomi rakyat dari sudut-sudut sederhana seperti Pasar Turi.












