Intisari Berita:
- Dishub Surabaya mengoperasikan 18 mikrobus baru berkapasitas 24 penumpang di rute feeder TIJ–Lakarsantri mulai Senin (26/10/2026).
- Armada Gran Max lama dialihkan untuk memperkuat jaringan rute lain, termasuk kawasan Terminal Menanggal dan Terminal Manukan.
- Dishub merencanakan ekspansi jaringan hingga 11 rute bus utama dan 30 rute feeder guna merespons lonjakan pengguna transportasi umum.
Surabaya, Jatim Mandiri — Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya resmi meningkatkan kapasitas layanan angkutan pengumpan (feeder) WiraWiri Suroboyo pada koridor Terminal Intermoda Joyoboyo (TIJ)–Lakarsantri. Sebanyak 18 unit mikrobus model baru mulai beroperasi aktif melayani mobilitas warga per Senin (26/10/2026), didukung satu unit cadangan guna menjamin kelancaran layanan harian di Kota Pahlawan.
Pembaruan armada ini ditempuh Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Surabaya guna merespons lonjakan volume penumpang, sekaligus meningkatkan efisiensi operasional sistem transportasi massal perkotaan.
Kepala UPTD Pengelolaan Transportasi Umum (PTU) Dishub Kota Surabaya, Eni Sugiharti, memaparkan bahwa keputusan peremajaan ini berpijak pada audit berkala terhadap tingkat keterisian kursi (load factor) di setiap koridor jalan.
“Setiap rute kami evaluasi secara berkala, termasuk tingkat keterisian penumpangnya. Dari hasil evaluasi di lapangan, kebutuhan di rute Lakarsantri cukup tinggi. Karena itu, kami meningkatkan kapasitas kendaraannya agar bisa mengakomodasi kebutuhan masyarakat,” terang Eni, Senin (26/10/2026).
Upgrade dari Gran Max ke Mikrobus Berkapasitas 24 Orang
Sebelum peremajaan armada dilakukan, jalur TIJ–Lakarsantri dilayani oleh kendaraan jenis Daihatsu Gran Max dengan batas muat maksimal 10 penumpang. Melalui kehadiran mikrobus baru, kapasitas tampung melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi 24 penumpang, dengan rincian teknis 19 tempat duduk dan lima penumpang berdiri.
Eni menegaskan, total 19 unit mikrobus yang disiapkan telah melewati kajian teknis geometrik jalan dan kepadatan arus lalu lintas di kawasan Surabaya Barat.
“Dengan kendaraan yang kapasitasnya lebih besar, daya tampung penumpang meningkat dan operasional bisa lebih efisien. Kami menyesuaikan jenis kendaraan dengan kebutuhan rute agar pelayanan kepada masyarakat semakin optimal,” jelasnya.
Rotasi Armada: Perkuat Koridor Menanggal dan Manukan
Penambahan mikrobus baru ini tidak serta-merta mematikan operasional kendaraan yang lama. Armada Gran Max yang ditarik dari rute Lakarsantri langsung diredistribusikan guna menambah frekuensi kedatangan unit di koridor lain yang padat aktivitas.
Salah satu fokus distribusi armada eksisting tersebut diarahkan ke kawasan penyangga di Terminal Menanggal serta Terminal Manukan. Strategi rotasi ini membuat sebaran kendaraan menjadi lebih merata tanpa harus membebani anggaran operasional tambahan.
Berdasarkan data resmi Dishub Surabaya, sebelum peremajaan mikrobus ini beroperasi, total moda transportasi umum di Surabaya terdata sebanyak 107 unit feeder dan 80 unit bus besar/medium, dengan rincian:
- Armada Feeder (107 unit): 89 unit Gran Max dan 18 unit Toyota HiAce
- Armada Bus (80 unit): 26 unit Suroboyo Bus, 23 unit bus medium, 17 unit Trans Semanggi Suroboyo, 12 unit bus listrik, serta dua unit bus tingkat
Tren 7 Juta Penumpang dan Rencana Ekspansi 30 Koridor Feeder
Peningkatan kapasitas kendaraan ini selaras dengan tren adopsi angkutan umum yang terus melonjak di Surabaya. Sepanjang tahun 2025, angka keterangkutan penumpang transportasi publik di Kota Surabaya menembus kisaran tujuh juta orang.
“Kalau melihat grafik pengguna, kenaikannya cukup signifikan. Karena itu, kami terus mengevaluasi kapasitas kendaraan agar layanan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” tutur Eni.
Mengantisipasi pertumbuhan tersebut, Dishub Surabaya telah menyusun peta jalan integrasi transportasi dengan target pembukaan 11 rute koridor utama (bus) dan 30 rute pengumpan (feeder). Bus utama difungsikan membelah jalur protokol, sementara WiraWiri bertugas menyisir kawasan pemukiman padat penduduk.
Dalam skema jangka panjang, rute feeder dengan okupansi sangat tinggi berpeluang ditingkatkan melalui skema Buy The Service (BTS). Sementara itu, armada swakelola milik pemkot dapat dialihkan membuka rute rintisan baru.
“Kami berharap bisa membuka rute-rute baru sesuai perencanaan. Armada yang ada akan kami optimalkan agar semakin banyak wilayah terjangkau dan masyarakat memiliki lebih banyak pilihan transportasi untuk menunjang aktivitas sehari-hari,” tutup Eni.












