Jatim

Dinilai Bebas Ambisi Politik, Alumni GMNI Jipang Raya Nilai Gus Gudfan Layak Nahkodai PBNU

×

Dinilai Bebas Ambisi Politik, Alumni GMNI Jipang Raya Nilai Gus Gudfan Layak Nahkodai PBNU

Sebarkan artikel ini
Koalisi Alumni GMNI Jipang Raya mendukung Gus Gudfan atau H. Gudfan Arif Ghofur memimpin PBNU karena dinilai tawadhu dan fokus pada kemandirian ekonomi.
Example 468x60

Bojonegoro, Jatimmandiri.id-Koalisi Alumni GMNI Jipang Raya menyampaikan pandangan terkait dinamika kepemimpinan Nahdlatul Ulama (NU) dalam memasuki abad kedua.

Mereka menilai NU membutuhkan sosok pemimpin yang mampu menjaga marwah organisasi, memperkuat kemandirian ekonomi, sekaligus merawat nilai-nilai kebudayaan dan spiritualitas pesantren.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Pandangan tersebut disampaikan sebagai refleksi atas dinamika organisasi serta tantangan NU dalam menghadapi perubahan zaman. Koalisi Alumni GMNI Jipang Raya menilai perlu ada kepemimpinan yang mampu menyeimbangkan tata kelola organisasi modern, kemandirian ekonomi, dan kedalaman spiritual berbasis tauhid sosial.

Menurut mereka, NU sejak awal didirikan oleh para kiai sepuh bukan sekadar sebagai organisasi dengan orientasi kelembagaan, melainkan juga sebagai benteng kebudayaan dan ruang pengabdian keumatan.

Karena itu, ketegangan struktural serta pragmatisme politik dinilai perlu dikelola agar tidak menggerus modal sosial dan simbolik yang selama ini dibangun melalui pesantren dan komunitas nahdliyin.

Koordinator Koalisi Alumni GMNI Jipang Raya, Muhammad Sahdan, mengatakan refleksi terhadap kompas moral organisasi menjadi hal penting dalam menentukan arah kepemimpinan NU ke depan.

“Keteladanan KH Abdurrahman Wahid adalah kompas moral yang tidak boleh dipadamkan. Gus Dur telah mengajarkan puncak makrifat politik kepada kita: tidak ada jabatan di dunia ini yang layak dipertahankan dengan pertumpahan darah atau perpecahan persaudaraan,” ujar Sahdan.

Menurutnya, sikap zuhud dan itsar yang pernah ditunjukkan Gus Dur dapat menjadi teladan dalam membangun tradisi kepemimpinan yang mengutamakan persaudaraan serta kepentingan umat di atas ambisi kekuasaan.

Sahdan menilai, kepemimpinan PBNU pada abad kedua membutuhkan sosok pemersatu yang mampu meredam faksionalisme dan mengembalikan fokus organisasi pada pelayanan kepada warga.

Ia menyebut nilai futuwah atau kesatriaan spiritual, serta keseimbangan antara ketegasan dan kelembutan, penting diterapkan dalam kepemimpinan organisasi.

Baca Juga  Khofifah Lantik Pejabat Tinggi Pemprov Jatim Sore Ini: Berikut Daftar 6 Nama yang Resmi Ditetapkan

“Jiwa kolektif nahdliyin membutuhkan sosok pemersatu. Kepemimpinan sejati hadir ketika seseorang telah selesai dengan ambisi pribadinya,” katanya.

Kemandirian Ekonomi Dinilai Penting

Selain aspek kepemimpinan, Koalisi Alumni GMNI Jipang Raya juga menyoroti pentingnya kemandirian ekonomi PBNU. Menurut mereka, pengelolaan aset, transparansi keuangan, serta penguatan ekonomi warga merupakan bagian penting dalam menjaga independensi organisasi.

Sahdan mengatakan, kemandirian ekonomi tidak semata-mata berkaitan dengan pengelolaan bisnis dan keuangan, tetapi juga berkaitan dengan upaya menjaga kedaulatan organisasi dari kepentingan eksternal.

“Kemandirian ekonomi PBNU bukan sekadar urusan teknis akuntansi atau bisnis yang dingin, melainkan sebuah ikhtiar spiritual. Mengelola aset secara transparan dan membangun kekuatan ekonomi warga adalah perisai utama agar marwah jam’iyah tidak mudah digadaikan oleh kepentingan politik pragmatis atau oligarki,” tegasnya.

Ia menilai penguatan ekonomi organisasi dapat menjadi instrumen untuk menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi warga nahdliyin sekaligus memperkuat posisi NU sebagai organisasi kemasyarakatan yang mandiri.

Dukung Gus Gudfan Pimpin PBNU

Berdasarkan pertimbangan filosofis, historis, dan spiritual tersebut, Koalisi Alumni GMNI Jipang Raya menyatakan dukungan kepada Gus Gudfan atau H. Gudfan Arif Ghofur untuk memimpin PBNU di abad kedua.

Sahdan menilai Gus Gudfan memiliki kombinasi pengalaman dan latar belakang yang dianggap sesuai dengan kebutuhan organisasi saat ini.

“Kami melihat Gus Gudfan sebagai sintesis ideal yang menghubungkan modal kultural-spiritual pesantren dengan kecakapan teknokratis-profesional. Sebagai dzurriyah para wali yang sekaligus berpengalaman dalam pengelolaan finansial organisasi, beliau hadir tanpa ambisi politik praktis,” ujarnya.

Menurut Sahdan, karakter tawadhu serta perhatian Gus Gudfan terhadap kemandirian ekonomi menjadi salah satu alasan pihaknya memberikan dukungan.

Ia berharap kepemimpinan PBNU ke depan dapat menghadirkan ketenangan, persatuan, serta kemandirian organisasi sehingga NU mampu menjalankan perannya dalam menghadapi tantangan peradaban pada abad kedua.

Baca Juga  Rokok Ilegal Dimusnahkan di Pamekasan

“Sosoknya yang tawadhu dan berfokus pada kemandirian ekonomi adalah jawaban atas kerinduan jam’iyah akan kepemimpinan Nafs al-Muthma’innah, jiwa yang tenang untuk membawa NU melintasi abad keduanya sebagai pemandu peradaban dunia,” pungkas Sahdan.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *