Intisari Berita:
Kopi Titik Koma sukses bertransformasi dari sebuah UMKM berkapasitas 20 kursi di Surabaya menjadi jaringan kedai kopi nasional dengan 47 cabang.
Menu Es Kopi Susu Gula Aren terbukti menjadi katalis pertumbuhan bisnis utama dengan menyumbang hingga 50 persen dari total omzet penjualan.
Di tengah gempuran kompetitor, manajemen memfokuskan strategi pada kualitas SDM, pelayanan prima, dan pengendalian mutu bahan baku secara ketat.
Surabaya, Jatimmandiri.id — Kisah sukses transformatif di sektor industri kreatif kuliner lokal kembali lahir dari Kota Pahlawan. Kopi Titik Koma, yang kini bertransformasi menjadi salah satu jaringan kedai kopi nasional papan atas, ternyata mengawali roda bisnisnya dari sebuah unit Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sederhana di sudut Kota Surabaya.
Dalam kurun waktu satu dekade sejak pertama kali didirikan, bisnis yang dirintis oleh Andrew Goenardi tersebut sukses menggurita hingga memiliki 47 cabang yang tersebar di berbagai wilayah strategis di Indonesia.
Kisah inspiratif ini dibagikan langsung oleh Andrew saat hadir sebagai pembicara utama dalam perhelatan akbar Java Coffee and Flavors Festival 2026 yang digelar di Alun-Alun Surabaya, Jumat (17/7/2026).
Di hadapan para pelaku industri, Andrew membongkar resep rahasia di balik strategi ekspansi bisnis sekaligus kiat menjaga standardisasi mutu di tengah iklim kompetisi kedai kopi yang kian jenuh.
Andrew mengenang, Kopi Titik Koma resmi menyapa pencinta kafein pada tahun 2016 silam. Saat itu, modal awalnya hanyalah sebuah kedai mungil berkekuatan 20 kursi di kawasan Jalan Juwono, Surabaya.
Sejak awal berdiri, mereka konsisten mempertahankan idealisme menyajikan menu berbasis kopi espresso menggunakan biji kopi lokal berkualitas tinggi.
“Awalnya kami benar-benar memulai sebagai UMKM. Tujuan kami sederhana, mengenalkan kopi berkualitas kepada masyarakat,” ujar Andrew Goenardi.
Ledakan Tren Es Kopi Susu Gula Aren
Perjalanan bisnis Kopi Titik Koma mengalami lompatan kuantum (quantum leap) ketika meluncurkan menu Es Kopi Susu Gula Aren. Formula minuman yang memadukan rasa pahit espresso, kelembutan susu, dan legitnya pemanis tradisional ini meledak di pasaran.
Produk ini dengan cepat menjadi signature menu sekaligus penyumbang terbesar yang mengamankan 50 persen dari total omzet penjualan korporasi.
Bagi Andrew, varian kopi susu gula aren bukan sekadar komoditas dagang terlaris, melainkan berfungsi sebagai pintu masuk kultural (entry point) untuk mengedukasi masyarakat awam agar perlahan melirik keunikan rasa biji kopi Nusantara lainnya.
Namun, mengelola 47 gerai dengan jarak geografis yang saling berjauhan membawa tantangan tersendiri pada aspek rantai pasok. Faktor anomali cuaca di perkebunan hingga pergeseran karakter bahan baku mentah menjadi musuh utama bagi konsistensi cita rasa kopi.
Menjawab kendala tersebut, Kopi Titik Koma menerapkan sistem quality control (pengendalian mutu) yang super ketat dari hulu ke hilir.
Resep Bisa Ditiru, Kualitas SDM Tidak
Di akhir sesinya, pengusaha muda ini melontarkan pandangan menarik terkait peta persaingan bisnis kedai kopi modern. Menurut Andrew, di era keterbukaan informasi saat ini, komposisi resep minuman sangat mudah ditiru dan dimodifikasi oleh kompetitor mana pun.
Oleh karena itu, diferensiasi utama yang membuat sebuah merek mampu bertahan jangka panjang bertumpu pada kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan sentuhan kehangatan dalam pelayanan pelanggan (customer experience).
“Semua orang bisa menjual kopi. Yang membedakan adalah bagaimana membangun tim, pelayanan, dan pengalaman pelanggan,” tegas Andrew.
Melalui konsistensi menjaga mutu produk, penguatan kapasitas SDM, serta komitmen mengangkat keunikan komoditas kopi lokal, Andrew optimistis Kopi Titik Koma siap melangkah lebih jauh untuk menembus pasar internasional.












