Tak Berkategori

Carmenita, Mahkota di Tengah Duka

Penulis: ayundaEditor: Ayn
×

Carmenita, Mahkota di Tengah Duka

Sebarkan artikel ini
Lusia Carmenita Rosalia Lamba, Putri Pariwisata Indonesia.
Example 468x60

Ende, Jatimmandiri.id – Senyum Lusia Carmenita Rosalia Lamba merekah saat turun dari pesawat di Bandara H. Hasan Aroeboesman Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur, Jumat (4/9/2026) sekitar pukul 12.30 Wita. Mahkota Putri Pariwisata Indonesia 2026 masih bertengger di kepalanya, sementara busana tenun NTT yang dikenakan membuat kepulangannya terasa istimewa.

Namun, di balik senyum dan sapaan kepada warga yang menyambut, Carmenita membawa suasana hati yang berbeda. Kondisinya sedang kurang fit dan pada hari yang sama harus menghadapi kabar duka. Sang kakek berpulang dan dimakamkan Jumat (4/9/2026).

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Kebahagiaan atas gelar nasional yang baru diraih pun bercampur dengan kehilangan orang yang dicintainya. Meski demikian, Carmenita berusaha tetap tegar. Satu per satu orang yang datang menyambut disapanya, termasuk puluhan siswa SMP Frateran Ndao.

Sekolah tersebut memiliki tempat khusus dalam perjalanan Carmenita. Dari sana, langkahnya sebagai putri daerah mulai tumbuh hingga akhirnya membawanya tampil di panggung nasional.

Perjalanan itu bermula dari ajang Ko’o Fai Nua Muri di Kabupaten Ende pada awal 2026. Carmenita terpilih mewakili daerahnya, kemudian melaju ke tingkat provinsi sebelum membawa nama NTT dalam ajang Putri Pariwisata Indonesia di Jakarta.

Berhadapan dengan wakil dari berbagai daerah, Carmenita sempat merasakan keraguan. Namun, keinginannya membawa identitas Flores dan NTT membuatnya terus melangkah.

Salah satu cara yang dipilihnya adalah mengenakan tenun khas NTT. Upaya itu mempertemukannya dengan Levico Butik di Jakarta, milik Anggota DPR RI dari daerah pemilihan NTT I, Julie Sutrisno Laiskodat.

Julie memberikan dukungan dengan mempersilakan Carmenita memilih sendiri busana tenun yang akan dikenakan selama rangkaian kompetisi. Busana tersebut diberikan secara gratis.

Dukungan itu menjadi bagian penting dari perjalanan Carmenita. Tenun NTT tidak sekadar menjadi busana, tetapi juga identitas daerah yang ia bawa ke panggung nasional.

Baca Juga  Jatim Tambah Lima Ton Beras

Perjuangan tersebut akhirnya berbuah gelar Juara Utama (I) Putri Pariwisata Indonesia 2026.

Mahkota untuk Ende dan Flores

Kepulangan Carmenita ke Ende berlangsung dalam suasana yang tidak sepenuhnya meriah. Di tengah duka keluarga dan kondisi Flores yang sedang menghadapi masa sulit, ia memilih memaknai kemenangan tersebut sebagai hadiah bagi tanah kelahirannya.

“Gelar Putri Pariwisata Indonesia 2026 ini bukan hanya untuk saya tetapi juga untuk seluruh masyarakat Kabupaten Ende, buat Flores dan juga buat NTT,” ujar Carmenita.

Ia bersyukur pencapaian tersebut datang ketika masyarakat Flores tengah menghadapi bencana. Menurutnya, kemenangan itu menjadi pengingat bahwa selalu ada kekuatan untuk bangkit.

“Di tengah duka Flores hari ini saya mengucapkan syukur karena pencapaian ini sebagai hadiah kecil dari Tuhan yang Tuhan berikan kepada tanah Flores agar orang-orang bisa melihat, di tengah bencana yang kita alami Tuhan masih berikan kita ketangguhan untuk bisa kembali bangkit dari keterpurukan kita,” katanya.

Carmenita pun tidak ingin mahkota yang diraihnya hanya menjadi simbol kemenangan pribadi. Ia ingin menggunakannya untuk ikut memperkenalkan sekaligus mendorong kemajuan budaya dan pariwisata daerah.

“Agar bisa kembali menata budaya dan pariwisata yang ada Flores dan NTT agar lebih baik lagi,” lanjutnya.

Setelah tiba di Ende, Carmenita melanjutkan rangkaian penyambutan ke Kantor Bupati Ende di kawasan El Tari. Di sana, ia bertemu Bupati Ende Yosef Benediktus Badeoda dan Wakil Bupati Ende drg. Domi Mere.

Badeoda menyampaikan kebanggaannya atas capaian putri daerah tersebut. Menurutnya, perjalanan Carmenita membuktikan anak muda Ende mampu bersaing di tingkat nasional.

“Saya sangat bangga bahwa anak-anak muda kita, putra-putri Ende tidak kalah dengan daerah lain,” ujar Badeoda.

Baca Juga  Gempa NTT, 70 Tewas, 40 Ribu Mengungsi

Ia berharap keberhasilan Carmenita dapat memacu generasi muda lainnya untuk berani tampil di tingkat nasional.

“Ke depan harus semakin banyak anak-anak yang bisa tampil di ajang nasional seperti ini,” lanjutnya.

Julie Sutrisno Laiskodat juga menilai pencapaian Carmenita sebagai bukti besarnya potensi generasi muda dari daerah.

“Keberhasilan ini adalah bukti bahwa anak muda daerah memiliki potensi besar untuk bersinar di kancah nasional. Teruslah menjadi inspirasi, membawa semangat kebudayaan, dan memperkenalkan keindahan serta kekayaan potensi daerah kita kepada masyarakat,” ujar Julie.

Ia mengingatkan Carmenita bahwa mahkota tersebut membawa tanggung jawab yang lebih besar.

“Emban amanah ini dengan penuh tanggung jawab untuk terus menginspirasi generasi muda dan memajukan sektor pariwisata serta ekonomi kreatif Indonesia,” tukas Julie.

Kini Carmenita telah kembali ke tanah kelahirannya. Ia pulang membawa mahkota, tetapi juga membawa duka atas kepergian sang kakek.

Perjalanan dari Ko’o Fai Nua Muri hingga panggung nasional menjadi bukti bahwa putri daerah dapat membawa nama Ende, Flores dan NTT lebih jauh.

Bagi Carmenita, mahkota itu bukan sekadar penghargaan. Di baliknya ada identitas budaya yang ingin terus diperkenalkan, pariwisata yang ingin dibangkitkan, serta harapan agar generasi muda Flores berani bermimpi dan melangkah ke panggung yang lebih luas.

Di tengah duka yang menyelimuti keluarganya dan Flores, Carmenita memilih tetap bersyukur. Kemenangan itu menjadi pengingat bahwa dari tengah masa sulit pun dapat lahir ketangguhan, harapan, dan kebanggaan.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *