Indonesia Masih Bercita-Cita Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
Ketika Indonesia bercita-cita pertumbuhan ekonomi 8 persen, dan berjibaku mengejar pertumbuhan 6 persen, Bank Dunia justru memproyeksi pertumbuhan 5,2 persen. Tapi Vietnam sudah melaju kencang mencatat pertumbuhan ekonomi 9,01 persen pada Januari-September 2026.
Pertumbuhan ekonomi 9,01 persen Negeri Paman Ho itu ditopang manufaktur, ekspor, investasi, dan infrastruktur yang mengubah negara itu menjadi salah satu pusat produksi global. Pada kuartal III-2026, Produk Domestik Bruto Vietnam tumbuh 9,95 persen. Industri dan konstruksi menjadi penopang utama dengan pertumbuhan 11,21 persen serta kontribusi 49,62 persen terhadap PDB.
Dari 34 provinsi yang ada, sebanyak 12 wilayah bahkan mencatat pertumbuhan minimal 10 persen pada Januari-September 2026. Ini mencerminkan kinerja mereka tidak hanya bertumpu pada satu wilayah.
Lantas bagaimana pendapat pemerintah Indonesia? Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai Vietnam lebih agresif mengembangkan industri teknologi tinggi dan kawasan ekonomi khusus (KEK).
“Kesempatan untuk naik dari lima persen (pertumbuhan ekonomi), kita rata-rata lima persen, kalau kita mau mengejar Vietnam yang bisa mencapai 9 persen, maka kita harus lari juga ke digitalisasi, semikonduktor, AI. Jadi itu seluruhnya leverage yang Vietnam sudah lakukan lebih dulu dari Indonesia,” kata Airlangga seperti dikutip cnnindonesia.
Vietnam memiliki KEK sekitar dua juta hektare, jauh lebih luas dibandingkan Indonesia yang sekitar 24 ribu hektare. “Bayangkan Indonesia punya Special Economic Zone itu kira-kira 24 ribu hektar. Vietnam punya Special Economic Zone 2 juta hektar. Jadi dia (Vietnam) lebih masif dari kita, lebih berani, dan sebetulnya dari segi kepastian usaha, mereka juga memberikan pelayanan yang baik kepada para investor,” terangnya.
Kinerja manufaktur juga diperkuat perusahaan global seperti Samsung, Intel, Apple, Foxconn, dan LG. Lebih dari 50 persen smartphone Samsung serta sebagian produk iPad dan MacBook Apple dirakit di Vietnam.
Industri elektronik menyumbang sekitar 20 persen manufaktur Vietnam, sedangkan nilai ekspornya menembus USD 100 miliar pada 2024. Posisi tersebut memperkuat peran Vietnam dalam rantai pasok global.
Di sisi lain, ketegangan perdagangan Amerika Serikat-China turut membuka peluang bagi Vietnam. Perusahaan multinasional mencari basis produksi alternatif, sementara kedekatan Vietnam dengan rantai pasok China menjadi salah satu keunggulannya.
Daya tarik investasi juga merambah sektor keuangan. Bank-bank Vietnam diperkirakan berpotensi menyerap hampir USD 7 miliar modal asing melalui penjualan saham hingga akhir 2027.
“Namun, mereka tidak punya domestik market. Jadi mereka yang menanam investasi di Vietnam itu harus mendorong untuk menuju ekspor,” tutur Airlangga.
Transformasi Vietnam menunjukkan bagaimana manufaktur, ekspor, teknologi, KEK, dan investasi dapat dipadukan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi. Bagi Indonesia, perkembangan tersebut semestinya menjadi referensi untuk memperkuat industri bernilai tambah dan daya saing ekspor. (*/ibn)












