Edu-Life & Sport

Atasi Kunci Manual Rentan Duplikasi, Mahasiswa UWIKA Ciptakan Sistem Keamanan Lab Multi Proteksi Berbasis Arduino

×

Atasi Kunci Manual Rentan Duplikasi, Mahasiswa UWIKA Ciptakan Sistem Keamanan Lab Multi Proteksi Berbasis Arduino

Sebarkan artikel ini
Mahasiswa Uwika
Mahasiswa Program Studi Teknik Elektro Universitas Widya Kartika (UWIKA) Surabaya, Muhammad Syarifuddin (tengah), menciptakan inovasi sistem keamanan akses laboratorium
Example 468x60

Intisari Berita:

  • Mahasiswa Teknik Elektro UWIKA Surabaya, Muhammad Syarifuddin, menciptakan prototipe sistem keamanan akses laboratorium multi proteksi berbasis Arduino.

  • Inovasi ini mengombinasikan autentikasi ganda melalui RFID/NFC dan Face Recognition (ESP32-CAM) yang terbukti meraih akurasi keberhasilan 100 persen saat pengujian.

  • Penelitian ini juga berhasil memanfaatkan smartphone REALME sebagai pengganti kartu akses digital yang praktis tanpa mengubah algoritma sistem.

Surabaya, Jatimmandiri.id — Keamanan laboratorium hingga kini masih menjadi tantangan serius di berbagai institusi pendidikan. Penggunaan kunci mekanis konvensional dinilai sangat rentan terhadap risiko kehilangan, duplikasi, hingga penyalahgunaan akses oleh pihak yang tidak berwenang.

Berangkat dari masalah tersebut, mahasiswa Program Studi Teknik Elektro Universitas Widya Kartika (UWIKA) Surabaya, Muhammad Syarifuddin, menciptakan inovasi sistem keamanan akses laboratorium yang jauh lebih modern dan presisi.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Syarifuddin mengembangkan prototipe sistem keamanan multi proteksi berbasis mikroprosesor Arduino yang menerapkan mekanisme autentikasi ganda.

Sistem ini mengintegrasikan teknologi Radio Frequency Identification (RFID), Near Field Communication (NFC), serta Face Recognition (pengenalan wajah).

Inovasi ini lahir dari penelitian tugas akhir berjudul “Rancang Bangun Prototipe Sistem Keamanan Akses Laboratorium dengan Multi Proteksi Berbasis Arduino”.

Dalam proses pengembangannya, Syarifuddin didampingi oleh Dwi Taufik Hidayat, S.Kom., M.Kom. sebagai dosen pembimbing pertama dan Mahesa Sangga Bhuana, S.T., M.T. selaku dosen pembimbing kedua.

Syarifuddin menjelaskan bahwa sistem ini dirancang secara ketat untuk memastikan hanya pengguna yang terdaftar saja yang dapat memasuki area laboratorium.

“Kami ingin menghadirkan sistem keamanan yang lebih aman dibandingkan penggunaan kunci manual. Pengguna harus lolos verifikasi RFID atau NFC sekaligus pengenalan wajah sebelum pintu dapat dibuka sehingga risiko penyalahgunaan akses dapat diminimalkan,” ujar Muhammad Syarifuddin kepada Jatim Mandiri, Senin (10/8/2026).

Baca Juga  Hanya Satu Kata bagi Celebest, Menang! Hadapi Perslotim Besok di Pertandingan II Grup K Liga 4 Putaran Nasional

Arsitektur Teknologi dan Akurasi Pengujian Capai 100 Persen

Sistem keamanan ini mengandalkan Arduino UNO sebagai pusat kendali utama yang memproses seluruh instruksi perangkat. Modul PN532 disematkan untuk memindai kartu RFID maupun perangkat berbasis NFC.

Sementara itu, pemrosesan pemindaian wajah ditangani oleh modul kamera ESP32-CAM sebelum perintah penguncian otomatis (magnetic door lock) terbuka.

Dalam pengujian eksperimental, sistem menunjukkan performa dan akurasi yang sangat tinggi. Pemindaian kartu RFID dan perangkat NFC terdaftar berhasil meraih tingkat kelolosan sebesar 100 persen.

Begitu pula pada pengujian Face Recognition, modul kamera mampu mengenali wajah pengguna secara optimal pada jarak 15 hingga 50 sentimeter dengan tingkat keberhasilan mencapai 100 persen.

Proses autentikasi berjalan secara hirarkis dan bertahap. Setelah pemindaian kartu atau smartphone berhasil terverifikasi oleh modul PN532, ESP32-CAM akan langsung mencocokkan struktur wajah pengguna dengan database yang tersimpan sebelum memberikan akses masuk.

Smartphone REALME Sukses Jadi Kartu Akses Digital

Salah satu poin penting dalam penelitian ini adalah ditemukannya efektivitas penggunaan smartphone REALME sebagai media autentikasi.

Melalui fitur Access Card bawaan perangkat, smartphone tersebut mampu dibaca oleh sistem secara konsisten layaknya kartu RFID fisik, tanpa perlu melakukan perubahan pada algoritma sistem yang telah dirancang.

Temuan ini menjadi solusi praktis, sebab pengguna tidak perlu lagi membawa kartu akses tambahan secara terpisah karena seluruh verifikasi dapat diproses langsung lewat ponsel pintar yang digunakan sehari-hari.

“Penggunaan smartphone sebagai media autentikasi menjadi salah satu nilai tambah penelitian ini. Selama pengujian, smartphone REALME dapat dikenali sistem secara konsisten sehingga berfungsi sebagai alternatif kartu akses laboratorium,” jelas Syarifuddin.

Potensi Implementasi dan Pengembangan Berbasis IoT

Dosen pembimbing pertama, Dwi Taufik Hidayat, S.Kom., M.Kom., mengapresiasi keberhasilan pengaplikasian teknologi ini dan menilai karyanya sangat potensial untuk langsung diterapkan di lingkungan kampus.

Baca Juga  Penalti di Menit ke-124 Buyarkan Mimpi Senegal untuk Lolos 16 Besar Piala Dunia

“Mahasiswa tidak hanya dituntut memahami teori, tetapi juga mampu menghasilkan solusi yang aplikatif terhadap kebutuhan nyata. Penelitian ini menunjukkan bagaimana teknologi mikrokontroler dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan sistem keamanan laboratorium,” ungkap Dwi Taufik Hidayat.

Senada dengan hal tersebut, dosen pembimbing kedua, Mahesa Sangga Bhuana, S.T., M.T., berharap prototipe ini menjadi fondasi bagi riset keamanan digital selanjutnya.

“Ke depan, sistem ini masih memiliki peluang untuk dikembangkan melalui integrasi Internet of Things (IoT), pencatatan riwayat akses secara real-time, hingga peningkatan keamanan autentikasi sehingga implementasinya menjadi lebih optimal,” tutur Mahesa Sangga Bhuana.

Inovasi mahasiswa UWIKA Surabaya ini diharapkan dapat menjadi rujukan dan solusi alternatif bagi institusi pendidikan yang ingin mentransformasi sistem penguncian laboratorium konvensional menjadi sistem keamanan yang lebih modern, efisien, serta terintegrasi.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *