BeritaDalam NegeriHeadline

Arjuno Terbakar 146,85 Hektare

×

Arjuno Terbakar 146,85 Hektare

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Presiden Targetkan Tuntas Dua Pekan

Surabaya, Jatim Mandiri

Kebakaran kawasan Tahura Gunung Arjuno-Welirang, Jatim, belum padam hingga Selasa (25/8).  Padahal 146,85 hektare sudah hangus sejak 19 Agustus 2026 lalu. Seiring Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim melanjutkan pemadaman via darat dan water bombing, pemerintah mendesak pengelola kawasan meningkatkan kesiapsiagaan. Sedangkan Presiden Prabowo Subianto menargetkan karhutla di berbagai daerah bisa tuntas setidaknya dalam dua pekan mendatang.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Api masih terpantau di bawah Puncak Ogal Agil. Medan curam membuat sebagian lokasi sulit dijangkau petugas sehingga pemadaman mengandalkan helikopter. “Kondisi api saat ini masih terpantau berada di bagian bawah Puncak Ogal Agil. Helikopter PK-DAP melanjutkan operasi water bombing di dua titik yang ditentukan,” kata Kepala Pelaksana BPBD Jatim Gatot Soebroto, sebagaimana dari Kompas.com, Selasa (25/8).

Operasi udara dilakukan dua kali penerbangan dengan delapan kali pengambilan dan penjatuhan air. Total air yang digunakan mencapai 8 ribu liter. “Untuk giat operasi udara, hari ini dua kali sortie dan delapan kali rit. Jadi total menggunakan kapasitas 8 ribu liter,” ungkap Gatot.

Sementara itu, tim UPT Tahura R. Soerjo menyisir kawasan dan melakukan pemadaman manual di lokasi yang masih dapat dicapai melalui jalur darat. Pemadaman udara menghadapi kendala kabut dan kepulan asap tebal yang membatasi jarak pandang. Kondisi tersebut terutama terjadi menjelang sore dan malam hari.

“Kendalanya cuaca kurang mendukung, berkabut dan kepulan asap yang cukup tebal memengaruhi visibilitas unit helikopter dalam operasi water bombing,” katanya. BPBD Jatim akan berkoordinasi dengan BMKG Juanda untuk memantau prakiraan cuaca di kawasan Gunung Arjuno-Welirang.

Operasi water bombing dijadwalkan berlanjut dengan mempertimbangkan cuaca dan jarak pandang. Demi keselamatan pendaki dan petugas gabungan, UPT Tahura R. Soerjo menutup jalur pendakian Gunung Arjuno-Welirang hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Baca Juga  Jember Pecahkan Dua Rekor MURI di Hari Anak Nasional

Secara terpisah, Kementerian Kehutanan meminta seluruh pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) mengambil langkah ekstra untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan.

Kebijakan nasional itu diterapkan menghadapi potensi cuaca ekstrem akibat El Nino pada 2026–2027.

Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Lestari Kemenhut Laksmi Wijayanti menegaskan pengamanan areal konsesi tidak dapat lagi dilakukan dengan pola biasa. “Kondisi cuaca ekstrem menyebabkan kewajiban pengamanan areal konsesi masing-masing harus ekstra dan luar biasa. Melaksanakan dengan cara business as usual justru akan terlihat sebagai kelalaian karena tidak nampak urgensi untuk menangani krisis,” ujar Laksmi dalam keterangannya, Selasa (25/8).

Kepatuhan pemegang PBPH akan dinilai dari kesiapan sarana dan prasarana, sumber daya manusia, sistem deteksi dini, pencegahan, pelaporan, mobilisasi, serta kecepatan penanganan kebakaran.

Kualitas penanganan dan kolaborasi dengan berbagai pihak juga menjadi bagian dari evaluasi. Pemegang izin diminta membuktikan kesiapan melalui tindakan di lapangan, bukan hanya dokumen laporan.

“Pemegang izin dan pengelola kawasan wajib menjadi garda terdepan ketika titik api terdeteksi. Kehadiran dan kinerjanya harus dibuktikan, bukan hanya bagus di dokumen laporan,” katanya.

Hasil evaluasi awal, menunjukkan sekitar 10 persen pemegang PBPH masih harus meningkatkan ketertiban pelaporan kesiapsiagaan pengendalian karhutla. Respons terhadap instruksi, masukan, dan teguran akan menjadi indikator dalam penegakan kepatuhan.

Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia berkomitmen mendorong kerja sama antarpemegang PBPH. Termasuk berbagi pakai peralatan pemadaman. Kolaborasi itu diharapkan mempercepat mobilisasi sumber daya saat terjadi kebakaran.

Dukungan yang telah diberikan meliputi alat berat untuk membuat sekat bakar dan akses pemadaman, helikopter water bombing, kendaraan operasional, tenaga lapangan, serta Regu Pemadam Kebakaran.

Kemenhut meminta kerja sama tersebut terus diperkuat sebagai bagian dari pengendalian karhutla secara berkelanjutan. Standar kesiapan yang dinilai baik dalam situasi biasa belum tentu memadai ketika menghadapi cuaca ekstrem.

Baca Juga  Hadapi Karhutla 2026, Polri Perkuat Personel, Teknologi, dan Sarana Operasional

Sementara itu, Presiden Prabowo Subianto berharap penanganan karhutla di sejumlah wilayah dapat diselesaikan dalam satu hingga dua pekan. “Kita bersyukur, saya sudah keliling ke beberapa tempat, saya cek sendiri, syukur alhamdulillah semua unsur pemerintah daerah, KL, kementerian-kementerian lembaga, TNI, Polri, BNPB, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Kehutanan, semua bekerja secara efektif,” kata Prabowo di sela peluncuran Pembangkit Listrik Tenaga Surya 100 gigawatt peak di Monumen Operasi Lintas Laut Jawa-Bali, Kabupaten Jembrana., Bali, Selasa (25/8).

Pemerintah telah mengerahkan peralatan dan personel untuk mencegah sekaligus mengendalikan kebakaran. Puluhan helikopter dan pesawat digunakan untuk pemadaman udara atau water bombing di sejumlah lokasi.

Upaya mitigasi juga dilakukan melalui pembangunan sumur bor dan sekat kanal. Ribuan personel dikerahkan untuk menangani kebakaran sekaligus mencegah munculnya titik api baru.

“Sekarang saya kira sudah mulai teratasi, termitigasi. Di beberapa tempat, saya berharap dalam satu-dua minggu ini bisa selesai semua,” ujarnya.

Presiden mengapresiasi petugas yang bekerja di lapangan. Menurut dia, kemampuan menghadapi bencana menunjukkan kekuatan kerja bersama seluruh unsur negara. “Jadi saya besar hati, saya bangga dengan prestasi petugas-petugas kita di lapangan. Ini saya sampaikan pada kesempatan ini karena walaupun kita menghadapi cobaan, rintangan, hambatan, kita kuat, kita mampu, kita buktikan terus,” tuturnya.

Presiden menyebut dampak El Nino sedang dihadapi berbagai negara. Di Indonesia, fenomena tersebut antara lain memicu musim kemarau lebih kering dan meningkatkan potensi karhutla.

Ia juga menyinggung penanganan bencana di Aceh serta penanggulangan dampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur sebagai contoh pengerahan kekuatan pemerintah menghadapi kondisi darurat. (*/ibn)

 

 

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Surabaya, Jatim Mandiri Dinas Pendidikan Jatim menyiapkan gedung SMA dan SMK negeri sebagai tempat transit peserta Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama…

Berita

Surabaya, Jatim Mandiri Pemprov Jatim dijadwalkan mengirim tambahan lima ton beras hari ini (26/8) untuk memenuhi kebutuhan warga terdampak gempa…

Berita

Menelusuri Jejak Peradaban Kuno Atlantis berada di puncak kejayaan ketika perubahan alam perlahan mengancam kehidupan masyarakatnya. Melalui Atlantis Rise of…