Jogja

Mata Air Kali Wonosari Jadi Oase Warga Gunungkidul Saat Kemarau

×

Mata Air Kali Wonosari Jadi Oase Warga Gunungkidul Saat Kemarau

Sebarkan artikel ini
Warga Dusun Duwet, Kalurahan Purwodadi, Kapanewon Tepus, Gunungkidul, mengambil air dari thuk Kali Wonosari yang menjadi penopang utama kebutuhan air saat musim kemarau
Example 468x60

Jatim Mandiri – Gunungkidul — Di tengah perbukitan Dusun Duwet, Kalurahan Purwodadi, Kapanewon Tepus, Kabupaten Gunungkidul, ada sebuah mata air yang sejak lama menjadi tumpuan hidup warga saat musim kemarau. Warga setempat menyebutnya thuk Kali Wonosari. Meski airnya tampak keruh dan debitnya menyusut tajam ketika kemarau tiba, sumber air ini tetap menjadi penolong utama bagi warga yang kesulitan mendapatkan air bersih.

Saat musim kemarau datang, lokasi itu selalu ramai. Warga berdatangan membawa jeriken, galon bekas air mineral, hingga ember untuk mengisi kebutuhan air rumah tangga. Aktivitas mengambil air secara turun-temurun ini dikenal dengan istilah ngangsu banyu.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Di sekitar kolam mata air, terdapat dua bilik mandi sederhana yang terbuat dari semen. Tidak ada atap, tidak ada cat, dan hanya dipisahkan tembok rendah antara bilik laki-laki dan perempuan. Untuk mandi, warga harus menimba air menggunakan ember yang diikat dengan tali agar bisa menjangkau permukaan air di dasar kolam.

Bagi warga Dusun Duwet, kondisi air yang keruh bukan alasan untuk meninggalkan mata air itu. Justru di saat sumber air lain mulai kering, thuk Kali Wonosari menjadi tempat bergantung. Hampir setiap hari, lokasi tersebut tak pernah benar-benar sepi, terutama ketika musim kemarau mulai menekan ketersediaan air bersih di permukiman.

Salah satu warga, Wiwin (30), mengaku sudah terbiasa bolak-balik ke mata air itu sejak awal kemarau. Ia biasanya berangkat pagi-pagi sebelum memulai aktivitas lain. Dalam sehari, Wiwin bisa datang empat hingga lima kali untuk mengambil air yang dipakai memasak dan memenuhi kebutuhan rumah tangga.

“Sudah dari dulu, sejak zaman nenek moyang, warga di sini ngangsu banyu karena setiap musim kemarau air pasti susah,” kata Wiwin.

Baca Juga  PDAM Batang Pastikan Pasokan Air Bersih Aman Selama Musim Kemarau

Jarak mata air dari rumahnya sekitar dua kilometer. Saat persediaan air di rumah mulai menipis, ia bahkan tak jarang datang pada malam hari agar kebutuhan keluarga tetap terpenuhi.

Warga lain, Wahyu (34), juga bergantung pada mata air tersebut. Ia membawa dua jeriken berkapasitas masing-masing 30 liter yang diangkut menggunakan sepeda motor yang sudah dimodifikasi bagian belakangnya. Menurut dia, tradisi ngangsu banyu hanya dilakukan saat kemarau, sementara pada musim hujan kebutuhan air warga biasanya terbantu oleh tampungan air hujan di rumah masing-masing.

Sebagian besar wilayah di Kapanewon Tepus memang kerap terdampak kekeringan setiap tahun. Di beberapa titik, jaringan PDAM juga belum menjangkau seluruh permukiman. Kondisi itu membuat warga harus mencari berbagai cara untuk memperoleh air bersih, termasuk membeli dari truk tangki, meski waktu tunggunya tidak singkat.

Di mata warga, air dari thuk Kali Wonosari tetap menjadi penolong meski kualitasnya tidak bening. Sebelum digunakan, air biasanya direbus dan disaring terlebih dahulu agar lebih layak dipakai.

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul melalui BPBD juga terus menyalurkan bantuan air bersih ke wilayah terdampak kekeringan. Hingga kini, ratusan ribu liter air sudah didistribusikan ke sejumlah kapanewon, termasuk Tepus yang menjadi salah satu wilayah paling terdampak.

Di tengah kondisi itu, thuk Kali Wonosari bukan sekadar sumber air. Bagi warga sekitar, ia adalah oase yang menjaga kehidupan tetap berjalan di tengah ancaman kekeringan yang datang setiap musim kemarau.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *