Surabaya, Jatimmandiri.id – Lembaga Accurate Research and Consulting Indonesia (ARCI) merilis peta preferensi politik pemilih muda menjelang Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Timur 2029.
Hasil survei menunjukkan Emil Elestianto Dardak bertengger kokoh di posisi puncak, disusul kejutan dari figur nonkepala daerah, Lia Istifhama, yang berhasil melesat ke peringkat kedua.
Survei yang menyasar kelompok usia produktif 17–40 tahun ini menegaskan bahwa generasi muda akan menjadi kunci penentu arah politik Jatim di masa depan.
Berdasarkan hasil survei, elektabilitas kandidat yang berpotensi bertarung pada Pilgub Jatim 2029 terbagi sebagai berikut:
- Emil Elestianto Dardak: 32,1%
- Lia Istifhama: 17,5%
- Eri Cahyadi: 10,3%
- Ahmad Fauzi: 7,7%
- Muhammad Fawait: 5,8%
- Muhammad Nur Arifin: 5,2%
- Yuhronur Efendi: 4,1%
- Aditya Halindra Faridzky: 3,9%
- Hanindhito Himawan Pratama: 2,1%
- Pilihan Nama Lain: 7,1%
- Belum Menentukan Pilihan: 4,2%
Direktur ARCI, Nanang Haromain, menilai bahwa pemilih muda Jatim saat ini semakin kritis dalam menentukan pilihan politiknya.
Keunggulan Emil Dardak sebesar 32,1% membuktikan kapasitasnya menggabungkan popularitas tinggi dengan penerimaan positif di kalangan generasi muda.
Kendati demikian, ARCI mencatat bahwa dua pertiga suara pemilih muda sejatinya masih berada di luar basis dukungan mantan Wakil Gubernur Jatim tersebut.
“Survei ini memberikan pesan bahwa generasi muda Jawa Timur mulai membentuk preferensi politiknya jauh sebelum tahapan Pilgub dimulai. Mereka tidak hanya mempertimbangkan popularitas, tetapi juga melihat rekam jejak, kedekatan dengan publik, dan kemampuan figur dalam membangun komunikasi,” kata Nanang, Minggu (26/7/2026).
Nanang menambahkan bahwa posisi puncak yang ditempati Emil saat ini belum bisa dikategorikan sebagai zona aman.
“Emil Dardak memang memimpin cukup jauh pada survei kali ini. Namun angka 32,1 persen belum dapat dianggap sebagai posisi yang aman karena mayoritas pemilih muda masih berada di luar basis dukungannya. Artinya, kontestasi menuju Pilgub Jawa Timur masih sangat terbuka.”
Poin krusial dalam survei ini adalah mencuatnya nama Lia Istifhama di posisi kedua dengan 17,5%.
Capaian tersebut terbilang impresif mengingat Lia bukan merupakan kepala daerah aktif.
Kehadirannya dinilai merepresentasikan keinginan publik akan lahirnya figur alternatif.
“Lia Istifhama menjadi salah satu kejutan dalam survei ini. Sebagai figur yang bukan kepala daerah aktif, elektabilitasnya mampu menempati posisi kedua. Ini menunjukkan bahwa peta politik Jawa Timur mulai mengalami regenerasi dan publik mulai memberi ruang kepada figur-figur alternatif,” ujar Nanang.
Di sisi lain, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi berada di peringkat ketiga dengan 10,3%.
Temuan ini mengindikasikan bahwa modal popularitas sebagai pemimpin kota terbesar di Jatim tidak serta-merta menggaransi konversi dukungan secara otomatis di tingkat provinsi.
Sementara itu, persaingan di papan tengah, yang diisi Ahmad Fauzi, Muhammad Fawait, Muhammad Nur Arifin, Yuhronur Efendi, hingga Aditya Halindra, berlangsung sangat ketat dan cair.
Selisih angka yang tipis di antara mereka membuat peta kekuatan papan tengah masih berpeluang besar berubah dinamis seiring berjalannya waktu.
“Survei ARCI ini dilaksanakan pada 25 Juni hingga 5 Juli 2026, melibatkan 1.200 responden berusia 17–40 tahun yang tersebar secara proporsional di 38 kabupaten/kota se-Jawa Timur,” beber Nanang.
Penarikan sampel, kata dia, menggunakan metode Stratified Multistage Random Sampling dengan margin of error sebesar ±2,8% pada tingkat kepercayaan 95%.
ARCI memberikan catatan khusus agar selisih angka pada kelompok menengah dibaca secara cermat karena berada dalam rentang margin of error.
“Artinya, perbedaan elektabilitas yang tipis di papan tengah belum menunjukkan perbedaan kekuatan politik yang signifikan secara statistik,” tandas Nanang.
Sebaliknya, keunggulan Emil Dardak di posisi teratas cenderung lebih stabil. Kombinasi responden yang memilih nama lain dan yang belum menentukan pilihan mencapai 11,3%, menegaskan bahwa panggung kompetisi masih sangat terbuka bagi siapapun.
“Pilgub Jawa Timur 2029 kemungkinan besar tidak hanya ditentukan oleh kekuatan partai politik, tetapi juga oleh siapa yang paling mampu membangun kedekatan emosional dengan generasi muda,” tutur Nanang.
“Kelompok usia 17–40 tahun akan menjadi salah satu penentu utama arah politik Jawa Timur dalam beberapa tahun ke depan,” sambungnya.












