Intisari Berita:
Ketua Satgas MBG Jatim Emil Dardak tegaskan insiden viral MBG di MTsN 4 Bondowoso jadi bahan evaluasi pencegahan food loss.
Klarifikasi sekolah menyatakan sisa makanan sengaja dikumpulkan untuk dimanfaatkan kembali sebagai pakan ternak, bukan dibuang secara acak.
Menjadi masukan evaluasi bagi Badan Gizi Nasional (BGN) terkait penyesuaian porsi dan penyajian gizi seimbang agar tepat sasaran.
Surabaya, Jatimmandiri id — Video berdurasi singkat yang memperlihatkan tumpukan sisa makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di MTsN 4 Bondowoso mendadak menjadi perhatian publik.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Satuan Tugas (Satgas) MBG Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menegaskan bahwa peristiwa ini harus disikapi secara bijak sebagai momentum introspeksi dan pembenahan program.
Berdasarkan klarifikasi resmi yang diterima pihaknya, Emil meluruskan persepsi liar di masyarakat yang menganggap makanan MBG tersebut sengaja dibuang secara sia-sia oleh para siswa.
“Sudah ada klarifikasi bahwa itu sebenarnya bukan dibuang, tetapi memang dikumpulkan sisa-sisa makanan. Kesannya dibuang, padahal sisa makanan dikumpulkan karena ingin dimanfaatkan supaya tidak terbuang secara acak, tapi dikumpulkan kemudian bisa diolah (sebagai pakan ternak),” kata Emil.
Layani 2.386 Penerima Manfaat, Pentingnya Verifikasi dan Pemorsian
Peristiwa tersebut tercatat terjadi di area layanan SPPG Wonosari Tumpeng, Kabupaten Bondowoso, yang mendistribusikan paket makanan kepada 2.386 penerima manfaat.
Emil menambahkan, video viral MBG di MTsN 4 tersebut direkam oleh pihak di luar jajaran guru maupun staf karyawan MTsN 4 Bondowoso.
Meskipun makanan sisa tersebut dialokasikan kembali secara produktif, Emil menyoroti volume sisa makanan yang tergolong signifikan. Kondisi ini menjadi evaluasi krusial bagi Badan Gizi Nasional (BGN) dalam memetakan standar pemorsian yang tepat bagi peserta didik.
Evaluasi mencakup:
-
Ketepatan Pemorsian: Menyesuaikan takaran porsi makanan dengan kapasitas konsumsi siswa di jenjang sekolah terkait.
-
Keseimbangan Gizi: Menjaga rasio ideal antara karbohidrat/nasi dengan lauk-pauk utama tanpa mengurangi standar kecukupan gizi.
-
Mitigasi Food Loss: Memastikan efisiensi penyajian agar makanan habis dikonsumsi (zero waste sejak penyajian).
PR Besar bagi Badan Gizi Nasional (BGN)
Mantan Wakil Gubernur Jatim ini menekankan pentingnya sinergi BGN dan pengelola lapangan agar program nasional ini makin presisi dan tidak menyisakan ruang bagi pemborosan bahan pangan (food loss).
“Kelihatannya jumlah sisa makanan cukup signifikan, ini menjadi PR bagi BGN untuk memastikan tidak terjadi food loss. Meskipun makanan sisa bisa diolah, idealnya kalau bisa lebih tepat porsi dan tepat saji lagi,” pungkas Emil.












