Kupang, Jatim Mandiri – Wakil Wali Kota Kupang Serena Francis bersama Jemaat Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Eklesia Kota Batam membangun Graha GMIT Eklesia Batam. Fasilitas ini dirancang sebagai rumah aman, pusat pemulihan, dan tempat pemberdayaan pekerja migran Indonesia yang menghadapi persoalan di perantauan.
Peletakan batu pertama pembangunan berlangsung di Batam pada Minggu (1/11). Graha tersebut ditujukan untuk memperkuat perlindungan dan pendampingan, terutama bagi warga Indonesia Timur yang kembali dari negara penempatan melalui Batam, seperti Malaysia dan Singapura. Pembangunan ini menjadi upaya menghadirkan tempat bagi pekerja migran yang membutuhkan bantuan setelah kembali ke Tanah Air.
Wakil Ketua Sinode GMIT, Pdt. Sanep Blegur, menyebut pembangunan graha sebagai bentuk pelayanan gereja bagi pekerja migran yang membutuhkan perlindungan, pendampingan, dan pemulihan. Ia berharap fasilitas tersebut dapat menjadi tempat bagi mereka untuk menerima dukungan dan membangun kembali kehidupan.
“Kami mengapresiasi inisiatif Ibu Serena Francis bersama Majelis Jemaat GMIT Eklesia Kota Batam. Kita berharap rumah ini menjadi tempat saudara-saudara kita diterima, dipulihkan, dan dikuatkan untuk kembali membangun kehidupan,” kata Sanep.
Kebutuhan fasilitas perlindungan terlihat dari data Lembaga Jaringan Safe Migran. Jumlah kasus pekerja migran yang ditangani meningkat dari 164 kasus pada 2024 menjadi 448 kasus pada 2025. Kenaikan tersebut sekitar 173 persen. Data itu menjadi salah satu gambaran persoalan yang ditangani lembaga tersebut.
Graha direncanakan memiliki luas bangunan 1.033 meter persegi dengan kebutuhan anggaran sekitar Rp5,27 miliar. Fasilitas yang disiapkan mencakup asrama perempuan dan laki-laki dengan kapasitas total 56 orang, ruang konseling, ruang administrasi, serta ruang pembinaan dan pelatihan. Ruang-ruang tersebut menjadi bagian dari fasilitas pendampingan dan pemulihan.
Selain asrama, tersedia 12 kamar rumah singgah atau guest house berkapasitas 24 orang. Rencana fasilitas juga meliputi ruang makan, area komunal, dan aula multifungsi yang dapat menampung hingga 200 orang untuk kegiatan ibadah. Fasilitas tersebut melengkapi ruang yang disiapkan untuk mendukung pelayanan graha.
Serena mengatakan graha diharapkan menjadi ruang perlindungan sekaligus tempat pekerja migran mendapat pendampingan dan keterampilan sebelum kembali menjalani kehidupan secara mandiri. Ia menilai pekerja yang menghadapi persoalan di luar negeri perlu tetap memiliki akses terhadap perlindungan, pendampingan sosial, dan kesempatan membangun kembali kehidupan setelah pulang.
“Bersama Majelis Jemaat GMIT Eklesia Kota Batam, kami ingin menghadirkan tempat yang aman bagi saudara-saudara yang menghadapi kesulitan di perantauan. Melalui pendampingan dan pelatihan, kita berharap mereka dapat pulang dengan harapan serta kesiapan untuk hidup mandiri,” ujar Serena.
Pelayanan graha akan dikembangkan melalui empat pilar: rumah aman bagi pekerja migran, pusat pemberdayaan dan pelatihan keterampilan, pusat pembinaan jemaat, serta pusat pengembangan budaya Indonesia Timur. Pembangunannya mendapat dukungan Deputi Badan Pengusahaan Batam Fary Francis, anggota DPR RI Saraswati Djojohadikusumo, Pemerintah Kota Batam, dan Pengurus PGI Wilayah Kepulauan Riau. Dukungan berbagai pihak diharapkan memperkuat pembiayaan pembangunan dan keberlanjutan pelayanan, termasuk bagi pekerja migran yang membutuhkan penanganan setelah kembali dari luar negeri.












