Menelusuri Jejak Peradaban Kuno
Batuan di dasar laut Gosong Gia menyimpan pertanyaan penting bagi penelitian geologi dan arkeologi: Apakah formasinya terbentuk secara alami, atau menunjukkan tanda buatan manusia? Untuk menjawabnya, hipotesis Dhani Irwanto tentang kemungkinan struktur kuno di Laut Jawa perlu diuji melalui pemeriksaan bentuk, komposisi, dan susunan material.
—————–
Dhani menafsirkan pola terumbu dan bentuk dasar laut di kawasan itu sebagai kemungkinan jejak struktur yang menyerupai kota bercincin dalam tulisan Plato. Dalam kajiannya, Dhani juga membandingkan gambaran batu berwarna putih, hitam, dan merah dalam kisah Atlantis dengan jenis batuan yang dijumpai di Pulau Bawean.
Dia menyebut batuan beku berwarna terang, abu-abu kehitaman, dan kemerahan sebagai kemungkinan pembanding geologis. Batuan beku terbentuk dari magma atau material cair dari dalam bumi yang mendingin dan mengeras. Warna serta sifatnya dipengaruhi komposisi mineral dan proses pembentukannya. Namun, kemiripan warna batuan dengan uraian dalam tulisan kuno belum membuktikan hubungan sejarah antara keduanya.
Perbedaan antara batu alam dan batu bangunan tidak selalu mudah dikenali, terutama jika material telah lama terendam dan tertutup karang. Terlebih, permukaan yang tampak datar atau bersudut dapat terbentuk secara alami melalui rekahan, pelapukan, atau proses geologi lainnya.
Sebaliknya, bukti pengerjaan manusia dapat terlihat melalui pola pemotongan yang berulang, permukaan yang sengaja diratakan, lubang buatan, atau susunan batu yang menunjukkan rancangan tertentu. Ciri-ciri tersebut harus diperiksa bersama konteks lokasi dan hubungan antarmaterial, bukan berdasarkan bentuk tunggal.
Dalam hipotesisnya, Dhani berpendapat bahwa struktur keras yang diduga berkaitan dengan kota kuno dapat tertutup terumbu setelah terendam. Ia mengingatkan bahwa pemeriksaan tidak cukup dilakukan pada permukaan karang saja.
Dalam materi penelitiannya, Dhani menulis bahwa penelitian lanjutan diperlukan untuk mengetahui apa yang terdapat di dalam terumbu karang. Hal itu menegaskan bahwa asal-usul material di bawahnya belum dapat dipastikan tanpa pemeriksaan langsung.
Penelitian juga dapat dimulai dengan pemetaan dasar laut secara terperinci untuk memilih lokasi pemeriksaan. Pemindai lapisan bawah permukaan dapat membantu memperkirakan susunan material di bawah sedimen. Sedangkan kendaraan bawah laut yang dikendalikan dari jarak jauh dapat merekam kondisi terumbu.
Jika perizinan dan perlindungan lingkungan memungkinkan, sampel terpilih dapat diperiksa di laboratorium. Analisis mineral dan struktur batuan membantu mengidentifikasi jenis material, sementara pemeriksaan permukaan dapat mencari tanda pemotongan atau pengerjaan.
Penentuan umur juga memerlukan metode yang sesuai dengan jenis sampel. Umur karang, misalnya, tidak otomatis menunjukkan kapan batuan di bawahnya terbentuk atau kapan suatu struktur dibuat.
Karena itu, hasil laboratorium perlu dibaca bersama data lokasi, susunan lapisan, dan kemungkinan proses alam yang membentuk material tersebut. Penelitian independen diperlukan agar hasilnya dapat diperiksa dan dibandingkan oleh peneliti lain.
Seperti diberitakan Gosong Gia, juga dikenal sebagai Annie Florence Reef, berada sekitar 150 kilometer timur laut Pulau Bawean, Gresik. Gosong Gia menjadi bagian dari hipotesis Dhani karena bentuk terumbu dan kedalaman dasar laut yang ia tafsirkan memiliki kemiripan dengan gambaran Atlantis.
Namun, belum ada bukti arkeologis independen yang memastikan kawasan itu sebagai bekas kota kuno. Membedakan batu alam dari batu bangunan merupakan langkah penting untuk menguji dugaan tersebut. (*/ibn)












