Nganjuk, Jatimmandiri.id — Menelusuri sudut Desa Paron, Kecamatan Bagor, Kabupaten Nganjuk, tersimpan sebuah artefak sejarah kolonial yang masih berdiri kokoh.
Di atas derasnya aliran Sungai Widas, sebuah jembatan baja tua berusia lebih dari 140 tahun menjadi saksi bisu dinamika masa lalu di kawasan tersebut.
Dibangun sekitar tahun 1880-an pada era kolonial Belanda, jembatan ini mulanya bukan diperuntukkan bagi mobilitas warga atau kendaraan bermotor.
Jalur besi tersebut dulunya berfungsi sebagai lintasan lori pengangkut kayu jati dan arang, yang hilir mudik membawa hasil bumi dari lereng Gunung Pandan menuju Stasiun Kereta Api Bagor.
Operasional jalur lori ini bertahan hingga sekitar tahun 1950-an.
Sejak aktivitas pengangkutan kayu dihentikan, warga sekitar mulai memanfaatkan jembatan antik tersebut sebagai akses penghubung vital menuju areal persawahan di sisi utara sungai.
Keberadaan jembatan bersejarah ini telah mendarah daging dalam keseharian masyarakat setempat, termasuk bagi Misnan, warga asli Desa Paron yang telah puluhan tahun bermukim di kawasan tersebut.
“Saya sudah puluhan tahun tinggal di sini, jembatan ini sudah ada sejak dulu sebelum kakek saya lahir,” ujar Misnan ketika ditemui, Senin (26/10/2026).
Bagi Misnan dan warga sekitar, rangka baja yang membentang kokoh itu bukan sekadar tumpukan besi tua, melainkan bagian dari memori kolektif yang merekam perjalanan peradaban lokal di Bagor.
Senada dengan hal tersebut, Karmi, salah satu warga yang sehari-hari rutin melintasi jembatan untuk menuju ladang, turut mengungkapkan kekagumannya sekaligus kekhawatirannya terhadap kondisi bangunan bersejarah tersebut.
Ia berharap adanya uluran tangan pemerintah untuk merawat warisan leluhur ini.
“Setiap hari saya lewat sini. Meskipun besinya sudah terlihat tua, jembatan ini masih kokoh. Semoga pemerintah lebih memperhatikan agar tidak rusak dan tetap bisa dinikmati anak cucu kelak,” harapnya.
Meski usianya telah menembus lebih dari satu abad, rangka baja Jembatan Paron tetap kokoh menantang zaman.
Lebih dari sekadar sarana penyeberangan fungsional, jembatan ini menyimpan nilai sejarah tinggi yang merefleksikan kejayaan masa lalu sektor kehutanan di Nganjuk.
Kelestariannya kini menjadi tanggung jawab bersama agar warisan berharga ini tidak lekang oleh gerusan waktu.












