Jogja

Sri Sultan Ajak Warga Cermat Mengelola Keuangan

Penulis: Habib Al Bay Haqqi
×

Sri Sultan Ajak Warga Cermat Mengelola Keuangan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Yogyakarta, Jatim Mandiri – Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X mengajak keluarga dan masyarakat menerapkan nilai Gemi, Nastiti, Ngati-ati dalam keputusan keuangan sehari-hari. Ajakan itu disampaikan pada acara Financial Expo dan Puncak Bulan Inklusi Keuangan (BIK) 2026 di Yogyakarta, Minggu, 18/10.

“Dalam khasanah budaya Jawa, dikenal falsafah Gemi, Nastiti, Ngati-ati. Maka saya ingin mengajak kita membawa nilai tersebut lebih dekat, kepada keputusan keuangan sehari-hari,” kata Sri Sultan.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Ia menjelaskan, Gemi mengajarkan kebijaksanaan dalam menggunakan penghasilan. Keluarga perlu membedakan kebutuhan dengan keinginan dan menyisihkan sebagian pendapatan untuk masa depan. Pengendalian pengeluaran, menurutnya, menjadi bekal dalam menentukan arah kehidupan.

“Kemampuan mengendalikan pengeluaran, merupakan bekal untuk menentukan arah kehidupan sendiri,” ujar Sri Sultan.

Nilai Nastiti berarti cermat sebelum memutuskan. Masyarakat diminta memahami manfaat, kewajiban, biaya, dan risiko sebelum memilih tabungan, pembiayaan, asuransi, maupun investasi. Pertimbangan tersebut membantu warga menyesuaikan pilihan dengan kebutuhan dan kemampuan.

Sementara itu, Ngati-ati mengingatkan masyarakat agar waspada saat menggunakan layanan keuangan. Sri Sultan meminta warga menjaga kerahasiaan data pribadi, memeriksa legalitas penyedia layanan, serta mempertimbangkan kemampuan membayar sebelum berutang.

“Adapun Ngati-ati mengingatkan kita, agar kemudahan selalu disertai kewaspadaan. Jagalah kerahasiaan data pribadi. Periksa legalitas penyedia layanan, dan pertimbangkan kemampuan membayar sebelum berutang,” katanya.

Sri Sultan menyebut masyarakat berhak memperoleh penjelasan jujur, produk sesuai kebutuhan, serta pendampingan saat menghadapi persoalan layanan keuangan. Ia juga mengajak lembaga jasa keuangan menjadikan pameran sebagai ruang mendengarkan kebutuhan warga. Pedagang kecil mungkin membutuhkan pembiayaan dengan angsuran sesuai perputaran usaha, sedangkan pekerja dapat membutuhkan cara menabung terjangkau.

“Saya mengajak lembaga jasa keuangan menjadikan pameran ini sebagai ruang mendengarkan. Seorang pedagang kecil, mungkin membutuhkan pembiayaan dengan angsuran yang sesuai perputaran usahanya. Seorang pekerja, bisa jadi membutuhkan cara menabung yang terjangkau,” kata Sri Sultan. Ia berharap kegiatan dilanjutkan dengan edukasi dan pelayanan berkelanjutan, serta pendampingan menjangkau pasar, sekolah, hingga kalurahan.

Baca Juga  Mahasiswa FISIPOL UGM Kritik Pemerintahan Prabowo-Gibran, Tegaskan “Kami Menolak Bungkam”

Sri Sultan mengajak warga meningkatkan pemahaman keuangan agar keputusan sesuai kebutuhan dan kemampuan. Ia mengingatkan bahwa uang menjadi sarana untuk memuliakan kehidupan dan mendukung harapan masyarakat.

“Di balik setiap rekening terdapat harapan manusia. Ada pendidikan anak yang diperjuangkan, usaha yang dirintis dan hari tua yang hendak dijalani dengan tenang. Kepada harapan-harapan itulah, seluruh ikhtiar inklusi keuangan kita abdikan,” tuturnya.

Kepala OJK DIY Eko Yunianto menyampaikan hasil survei nasional literasi dan inklusi keuangan 2026. Literasi keuangan masyarakat Indonesia tercatat 69,57 persen, sedangkan inklusi keuangan mencapai 93,61 persen. Di DIY, literasi mencapai 76,44 persen atau peringkat tujuh nasional, sementara inklusi sebesar 98,74 persen atau peringkat dua nasional.

“Yang patut kita syukuri adalah untuk masyarakat DIY berdasarkan hasil survei tersebut tingkat literasi keuangan mencapai 76,44 persen, atau peringkat tujuh nasional, sedangkan tingkat inklusi keuangannya mencapai 98,74 persen, atau peringkat dua nasional,” kata Eko.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *