SLEMAN – Tebing Breksi selama ini menjadi salah satu magnet wisata utama di Kalurahan Sambirejo, Sleman. Namun, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) melihat potensi kawasan tersebut masih bisa dikembangkan lebih jauh agar wisatawan tidak sekadar datang, berfoto, lalu pulang. Sejumlah atraksi berbasis budaya kini disiapkan untuk memperpanjang lama tinggal wisatawan sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat setempat.
Upaya itu dilakukan tim PPK Ormawa EDSA PBI UMY melalui pengembangan empat program diversifikasi wisata budaya di Kalurahan Sambirejo. Keempatnya yakni Sambirejo Cultural Lab, Sambirejo Guide Academy, Sambirejo Temple Trail, dan Narasimha Sunset Show.
Ketua tim PPK Ormawa EDSA PBI UMY Reva Audya Harianto mengatakan, program tersebut dirancang bukan sekadar untuk membuat kegiatan baru, tetapi menghadirkan pilihan pengalaman wisata yang lebih beragam bagi pengunjung.
“Kami tidak ingin sekadar membuat event, tetapi mencoba mengembangkan beberapa alternatif atraksi wisata yang bisa memperkaya pengalaman wisatawan di Sambirejo,” kata Reva.
Salah satu program yang dikembangkan adalah Sambirejo Temple Trail. Program ini menawarkan rute perjalanan sejarah sepanjang sekitar 7,3 kilometer dengan titik awal dan akhir di kawasan Tebing Breksi. Wisatawan diajak menyusuri sejumlah situs, mulai Candi Banyunibo, Candi Barong, Arca Ganesha hingga Spot Riyadi.
Pengembangan rute tersebut dilakukan melalui kolaborasi dengan Jogja International Heritage Walk. Konsepnya tidak hanya mengajak wisatawan menikmati pemandangan, tetapi juga mengenalkan sejarah dan kekayaan budaya yang berada di sekitar Sambirejo.
Sementara itu, Narasimha Sunset Show dikemas sebagai pertunjukan seni yang digelar menjelang matahari terbenam di Tebing Breksi. Pertunjukan tersebut mengangkat kisah penemuan arca Narasimha di kawasan Bukit Ijo pada 1975 dan dikemas melalui perpaduan drama, tari, musik serta visual storytelling.
“Pertunjukan seni ini melibatkan kolaborasi warga dari Sanggar Turonggo Mudo dan Sanggar Unggah-Ungguh Sambirejo,” ujar Reva.
Antusiasme masyarakat dan wisatawan terhadap program tersebut juga cukup tinggi. Kuota kegiatan Camping Kalcer dan Sambirejo Temple Trail bahkan habis dalam waktu kurang dari satu jam. Sementara Narasimha Sunset Show mampu menarik perhatian hingga ratusan penonton.
Program tersebut melibatkan Pemerintah Kalurahan Sambirejo, pengelola Tebing Breksi, pengelola Watu Payung, Kelompok Informasi Masyarakat (KIM), serta pemuda setempat. Keterlibatan warga menjadi bagian penting agar program yang dirintis mahasiswa tidak berhenti setelah kegiatan kampus selesai.
“Keterlibatan masyarakat justru menjadi salah satu bagian paling penting dalam program ini. Bahkan KIM menjadi pelaksana bersama mahasiswa dalam program Sambirejo Temple Trail,” kata Reva.
Ke depan, Sambirejo Temple Trail tengah dipersiapkan menjadi paket walking tour komersial yang dikelola KIM Sambirejo. Dengan demikian, program tersebut diharapkan dapat terus berjalan secara mandiri dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Pengembangan wisata budaya itu sekaligus membawa semangat “Gumregah Budayane, Sumunar Wisatane”, yang menjadi gambaran upaya menghidupkan kembali potensi budaya sekaligus memperkuat daya tarik wisata Sambirejo.












