Beritaꦧꦸꦢꦪ

Sundaland Nyata, Atlantis Masih Hipotesis

Editor: ibn
×

Sundaland Nyata, Atlantis Masih Hipotesis

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Menelusuri Jejak Peradaban Kuno

Paparan Sunda terbukti pernah menjadi daratan luas yang kemudian menyusut akibat kenaikan laut. Tapi fakta geologis itu belum membuktikan kawasan tersebut sebagai Atlantis. Perbedaan antara bukti dan hipotesis menjadi penting ketika Dhani Irwanto menempatkan pusat kota legendaris itu di kawasan Laut Jawa.

———————

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Sundaland atau Paparan Sunda bukan nama kerajaan maupun peradaban yang hilang. Istilah itu digunakan untuk menyebut kawasan daratan Asia Tenggara yang pada akhir Zaman Es mencakup wilayah yang kini terpisah menjadi Semenanjung Malaya, Sumatra, Jawa, dan Kalimantan.

Pada masa glasial, sebagian besar air dunia tersimpan dalam lapisan es sehingga permukaan laut lebih rendah. Laut Jawa, Selat Karimata, dan sejumlah perairan dangkal lainnya ketika itu merupakan bagian dari bentang daratan yang luas.

Penelitian yang diterbitkan dalam Communications Biology pada 2023 memperkirakan permukaan laut global naik sekitar 135 meter sejak periode glasial terakhir. Luas daratan Sundaland berkurang lebih dari 50 persen hingga pertengahan Holosen. Penelitian tersebut memadukan rekonstruksi paleogeografi dengan 763 data genom dari 59 kelompok etnis di Asia Selatan dan Asia Tenggara.

Kajian itu juga menunjukkan bahwa manusia modern telah menghuni kawasan Sundaland yang masih terbuka sejak sekitar 70.000–50.000 tahun lalu. Kenaikan permukaan laut memecah daratan, memisahkan populasi, dan mendorong perpindahan manusia setelah wilayah hunian mereka menyusut.

Temuan tersebut menjadi dasar ilmiah bahwa perubahan lingkungan besar pernah terjadi di Asia Tenggara. Namun, penelitian itu tidak menyimpulkan bahwa Sundaland adalah Atlantis atau menemukan kota Atlantis di dasar Laut Jawa.

Bukti ilmiah menunjukkan bahwa Paparan Sunda pernah menjadi daratan luas pada akhir Zaman Es sebelum sebagian wilayahnya tergenang akibat kenaikan permukaan laut. Kajian arkeologi dan genetika juga mendukung keberadaan manusia di Asia Tenggara sejak masa prasejarah serta terjadinya migrasi yang berkaitan dengan perubahan lingkungan.

Baca Juga  Jika Atlantis Ada, Di Mana Pelabuhannya?

Namun, fakta tersebut belum membuktikan bahwa Paparan Sunda merupakan Atlantis. Gagasan bahwa kota Atlantis berada di Laut Jawa, artefak tertentu berasal dari peradaban Atlantis, dan semua legenda banjir di dunia bersumber dari satu peristiwa masih berstatus hipotesis. Berbagai dugaan itu memerlukan bukti arkeologis, penanggalan, dan pengujian ilmiah lebih lanjut sebelum dapat diterima sebagai kesimpulan sejarah.

Perbedaan di atas menentukan cara publik membaca kaitan Sundaland dan Atlantis. Bukti geologi dapat memastikan bahwa sebuah daratan pernah ada dan kemudian tergenang. Tetapi tidak otomatis membuktikan identitas kebudayaan yang pernah berkembang di atasnya.

Dhani Irwanto, insinyur sipil bidang hidrologi sekaligus peneliti independen, mengembangkan hipotesis bahwa Atlantis yang diceritakan Plato merupakan tempat nyata. Ia menafsirkan uraian dalam dialog Timaeus dan Critias secara geografis, kemudian mencocokkannya dengan bentang Sundaland.

Dalam kajiannya pada 2025, Dhani mengusulkan model yang menempatkan pusat Atlantis di Gosong Gia, kawasan Laut Jawa. Model itu menghubungkan dataran Kalimantan bagian selatan, bentang perairan Laut Jawa, pola kanal, kedalaman laut, dan formasi melingkar yang terlihat melalui data batimetri.

Dhani menyebut pendekatannya sebagai rekonstruksi berpusat di Laut Jawa yang dapat diuji. Ia menawarkan pengujian melalui survei batimetri beresolusi tinggi, pemeriksaan lapisan bawah dasar laut, dan penelitian terhadap pola yang diduga berkaitan dengan kanal.

Namun, pola dasar laut atau rekonstruksi sungai purba belum sama dengan temuan sebuah kota. Untuk mengubah hipotesis menjadi kesimpulan arkeologis, penelitian masih membutuhkan struktur buatan manusia, artefak dalam konteks yang jelas, penanggalan yang dapat diuji, serta pemeriksaan oleh peneliti independen.

Batas serupa berlaku ketika legenda banjir dari berbagai kebudayaan dibandingkan dengan kisah Atlantis. Kesamaan cerita dapat menjadi bahan kajian sejarah, lingkungan, atau mitologi, tetapi belum membuktikan semua kisah itu berasal dari satu bencana yang sama.

Baca Juga  Menelusuri Jejak Peradaban Kuno, Ketika Laut Jawa Masih Menjadi Daratan

Dhani sendiri mengakui batas tersebut ketika membandingkan kisah Atlantis dengan sejumlah tradisi dunia. “Ini bukan ‘bukti’ Atlantis, melainkan kesejajaran—gema bencana, surga, atau negeri yang hilang,” tulisnya.

Karena itu, hipotesis Atlantis di Laut Jawa tetap dapat ditempatkan sebagai gagasan yang terbuka untuk diuji, bukan fakta yang telah ditetapkan. Nilai terpentingnya terletak pada dorongan untuk meneliti bentang purba Paparan Sunda secara lebih serius.

Sundaland telah memiliki dasar ilmiah melalui geologi, paleogeografi, genetika, dan arkeologi prasejarah. Atlantis masih menunggu bukti fisik yang mampu menghubungkan kisah Plato dengan satu tempat, masa, dan kebudayaan tertentu.

Memisahkan keduanya tidak menutup ruang imajinasi atau penelitian. Justru di situlah kredibilitas liputan dijaga: fakta ditempatkan sebagai fakta, sedangkan kemungkinan tetap disebut sebagai hipotesis. (*/ibn)

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Sidoarjo, Jatim Mandiri Bupati Sidoarjo Subandi menyoroti biaya perawatan ratusan santri yang diduga keracunan MBG di Kalitengah, Sidoarjo. Di sisi…

Berita

Surabaya, Jatim Mandiri PT Bank Central Asia Tbk melanjutkan BCA Expo 2026 secara daring dengan menawarkan pembiayaan hunian dan kendaraan…

Berita

Surabaya, Jatim Mandiri Operasi modifikasi cuaca untuk mengupayakan hujan buatan dilanjutkan ke kawasan Gunung Argopuro dan Gunung Ijen. Upaya yang…