Nganjuk, Jatimmandiri.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nganjuk menegaskan komitmennya dalam memutus mata rantai kemiskinan melalui jalur pendidikan.
Komitmen ini diwujudkan lewat peluncuran Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Nganjuk yang dirangkaikan dengan pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Jalan Gondang-Lengkong, Desa Balonggebang, Kecamatan Gondang, Senin (31/8/2026).
Bupati Nganjuk, Marhaen Djumadi, menegaskan bahwa keberadaan Sekolah Rakyat merupakan bentuk nyata kehadiran pemerintah untuk memastikan anak-anak dari keluarga kurang mampu tetap mendapatkan kesempatan pendidikan yang layak.
“Program ini dirancang secara sistematis untuk memberikan akses pendidikan holistik sekaligus memenuhi kebutuhan dasar siswa melalui sistem berasrama. Dengan demikian, keterbatasan ekonomi keluarga tak lagi menjadi penggalang bagi anak-anak untuk mengejar cita-cita,” kata Bupati Marhaen.
Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Nganjuk diprioritaskan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, khususnya yang terdata dalam kelompok desil 1, desil 2, dan sebagian desil 3.
Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Nganjuk, Zuana Nurul Huda, menyebut program ini memiliki orientasi jangka pendek, menengah, dan panjang.
Pada tahap awal, perhatian utama diarahkan pada kesehatan dan kesejahteraan siswa. Dalam jangka menengah, sekolah berupaya memastikan anak tetap melanjutkan pendidikan dan tidak putus sekolah.
“Sementara dalam jangka panjang, pendidikan ini diharapkan mampu melahirkan generasi tangguh yang mampu meningkatkan taraf hidup keluarganya,” bebernya.
Saat ini, sebanyak 200 siswa telah resmi memulai pendidikan di Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Nganjuk, terdiri dari 20 siswa SD, 90 siswa SMP, dan 90 siswa SMA.
Mengusung Kurikulum Merdeka yang disesuaikan dengan kompetensi peserta didik, proses pembelajaran berlangsung dalam ekosistem asrama agar pembinaan berjalan lebih terintegrasi.
Para siswa mendapatkan pendampingan intensif dari pengasuh serta wali asrama, sementara pemantauan kesehatan berkala dijalankan melalui kerja sama dengan Puskesmas setempat.
Kendati kapasitas total sekolah mampu menampung hingga 1.000 siswa, jumlah 200 peserta didik saat ini dinilai ideal untuk memaksimalkan fasilitas asrama dan ruang pendukung yang ada, meski beberapa sarana fisik masih dalam tahap penyempurnaan.
Guna menunjang keberlangsungan pendidikan terpadu ini, Pemkab Nganjuk menerjunkan 103 tenaga pendukung yang terdiri dari 32 guru dan 71 tenaga kependidikan.
Lewat konsep terintegrasi ini, para siswa tidak hanya memperoleh ilmu akademis di kelas, tetapi juga dibentuk menjadi pribadi yang disiplin melalui pola hidup berasrama.












