Jombang, Jatimmandiri.id – Gelaran Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang mengusung pesan strategis lewat tema besar Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmah untuk Kemaslahatan Bangsa.
Tema tersebut bukan sekadar slogan, melainkan refleksi mendalam mengenai pentingnya NU memperkuat jati diri sekaligus memperluas jangkauan pengabdian di tengah era yang terus bertransformasi.
Dalam peta masa depan NU, generasi Z memegang peran sentral sebagai penerus estafet kepemimpinan dengan cara pandang dan pendekatan yang khas terhadap dinamika global.
Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr Lia Istifhama MEI, menilai tema Muktamar ke-35 NU memiliki korelasional yang sangat kuat dengan kebutuhan dan karakteristik generasi muda saat ini.
“Menjaga marwah berarti menjaga nilai, adab dan jati diri. Sedangkan memperkaya khidmah berarti berani mencari cara-cara baru agar pengabdian tetap relevan. Di sinilah gen Z memiliki peran yang sangat penting. Mereka bukan hanya penerima warisan nilai NU, tetapi juga harus menjadi pelaku yang mengembangkan nilai itu sesuai tantangan zamannya,” ujar Ning Lia, Kamis (27/8/2026).
Ia menggarisbawahi bahwa menjaga integritas NU tidak berarti bersifat kaku terhadap perubahan, melainkan memastikan esensi nilai-nilai dasar organisasi tetap bernyawa di setiap zaman.
“Tradisi harus menjadi akar, bukan belenggu. Kita boleh menggunakan teknologi, masuk ke ruang digital, mengembangkan ekonomi kreatif dan membangun inovasi, tetapi nilai adab, toleransi, gotong royong dan cinta Tanah Air tidak boleh hilang,” tegasnya.
Sebagai digital native, gen Z dinilai berpotensi besar menjadi penggerak opini publik di ruang digital.
Karena itu, konsep memperkaya pengabdian (khidmah) harus direalisasikan melalui penetrasi ke ruang-ruang baru yang menjadi ranah aktivitas generasi muda.
“Kalau dahulu khidmah banyak dilakukan melalui pesantren, masjid, dan kegiatan sosial, hari ini khidmah juga bisa dilakukan melalui media digital. Membuat konten edukatif, melawan hoaks, menjaga persatuan, membangun usaha, menciptakan lapangan kerja, dan mengedukasi masyarakat juga merupakan bentuk khidmah,” kata Ning Lia.
Sinergi antara pengalaman sejarah NU dan kreativitas gen Z diyakini mampu menjadi penggerak utama kemajuan bangsa.
“Gen Z memiliki kecepatan, kreativitas, dan keberanian. NU memiliki pengalaman, tradisi keilmuan, dan nilai yang telah teruji. Kalau kekuatan ini dipertemukan, kita tidak hanya sedang menyiapkan generasi penerus NU, tetapi sedang menyiapkan generasi penerus bangsa,” ungkapnya.












