Jateng

Dispertan Cilacap Optimalkan Pompanisasi, Antisipasi Kekeringan 1.121 Hektare Sawah

×

Dispertan Cilacap Optimalkan Pompanisasi, Antisipasi Kekeringan 1.121 Hektare Sawah

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

CILACAP, JATIM MANDIRI – Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, mengoptimalkan program pompanisasi untuk mengantisipasi ancaman kekeringan yang berpotensi berdampak pada lahan pertanian padi seluas 1.121 hektare.

Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga ketersediaan air bagi tanaman sekaligus memastikan produktivitas pertanian tetap terjaga di tengah musim kemarau.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Kepala Dispertan Kabupaten Cilacap Sigit Widayanto mengatakan pihaknya telah memetakan sejumlah wilayah yang berpotensi terdampak kekeringan. Berbagai langkah mitigasi juga disiapkan, terutama dengan memberikan bantuan pompa bagi lahan yang masih memiliki sumber air.

“Beberapa sudah kita mitigasi dan kita usulkan penanganannya, misalnya melalui pompa. Di daerah-daerah yang masih memungkinkan ada air, kita coba memberikan bantuan pompa,” kata Sigit di Cilacap, Rabu (26/8/2026).

Pompa tersebut digunakan untuk menyedot air dari saluran irigasi maupun sumber air lain yang masih tersedia. Air kemudian dialirkan menuju lahan pertanian untuk memenuhi kebutuhan tanaman padi.

Salah satu wilayah yang mendapatkan bantuan pompa yakni Desa Panikel, Kecamatan Kampung Laut, serta Desa Grugu, Kecamatan Kawunganten. Kedua wilayah tersebut masih memiliki sumber air yang memungkinkan dimanfaatkan untuk pengairan sawah.

Selain bantuan yang telah diberikan, Dispertan Cilacap juga segera mendistribusikan pompa dari Kementerian Pertanian ke sejumlah lokasi yang masih memiliki sumber air.

“Yang kita kirim untuk lokasi-lokasi yang memang masih memungkinkan ada sumber air untuk disedot, hampir 300 unit,” ujarnya.

1.121 Hektare Sawah Berpotensi Terdampak

Sigit menjelaskan, potensi kekeringan seluas 1.121 hektare tersebut tersebar di 35 desa pada 10 kecamatan. Wilayah yang paling berpotensi terdampak berada di kawasan barat dan selatan Cilacap.

Beberapa di antaranya yakni Kecamatan Patimuan, Kedungreja, Kawunganten, Bantarsari, Gandrungmangu, dan Kampung Laut.

Baca Juga  BMKG Ingatkan Warga Waspada Hujan Lebat, Risiko Banjir dan Longsor Meningkat Saat Puncak Musim Hujan

Namun, tidak semua lahan dapat ditangani dengan metode pompanisasi. Kondisi tersebut terutama terjadi di sejumlah wilayah pesisir yang sumber airnya memiliki kadar garam cukup tinggi, seperti Patimuan dan Kawunganten.

Karena itu, Dispertan mengandalkan sumber air lain yang masih tersedia, termasuk saluran irigasi maupun saluran pembuang untuk memenuhi kebutuhan pengairan tanaman.

Di sisi lain, kondisi pertanaman padi di Cilacap secara umum sudah mendekati masa panen. Sebagian besar tanaman telah memasuki fase akhir pertumbuhan, sementara target luas tambah tanam (LTT) pada Agustus mencapai sekitar 4.000 hektare.

Lahan yang masih ditanami umumnya berada di wilayah dengan ketersediaan air yang relatif mencukupi, termasuk lahan yang mendapat intervensi melalui pompanisasi.

Menurut Sigit, sebagian tanaman yang memperoleh bantuan pompa telah berusia sekitar dua bulan atau lebih. Ketersediaan air harus dipastikan tetap terjaga hingga tanaman memasuki masa panen.

“Kalau tidak diintervensi dengan bantuan, nanti tanamannya bisa busuk,” katanya.

Target Produksi 834.712 Ton

Meski ancaman kekeringan masih membayangi sejumlah wilayah, Dispertan Cilacap tetap optimistis target produksi pertanian pada 2026 dapat dipertahankan.

Hal itu didukung kondisi sebagian besar tanaman padi yang saat ini sudah mendekati masa panen.

“Insyaallah kalau dari sisi target produksi masih bisa,” ujar Sigit.

Pada 2026, Kabupaten Cilacap menargetkan produksi padi mencapai 834.712 ton. Sementara luas lahan baku sawah tercatat sekitar 67.031 hektare.

Sepanjang Januari hingga Juli 2026, realisasi panen telah mencapai 90.689 hektare. Adapun proyeksi panen pada Agustus mencapai sekitar 24.000 hektare dengan produktivitas rata-rata 64,44 kuintal gabah kering panen per hektare.

Pompanisasi pun diharapkan menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga tanaman yang masih berada di lahan hingga masa panen, sekaligus meminimalkan dampak kekeringan terhadap produksi pangan Cilacap.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *