ꦧꦸꦢꦪ

Merawat Tradisi Maulid Nabi di Durenan Magetan

×

Merawat Tradisi Maulid Nabi di Durenan Magetan

Sebarkan artikel ini
Tradisi yang terus dilestarikan dari generasi ke generasi di Durenan, Magetan yakni peringatan Maulid.
Example 468x60

Magetan, Jatimmandiri.id –  Tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW di Dukuh Durenan, Desa Durenan, Kecamatan Sidorejo, Kabupaten Magetan, tidak sekadar diisi lantunan selawat dan Maulid Barzanji. Warga juga mempertahankan sajian ketan, pisang, dan ambengan yang telah menjadi bagian dari tradisi kampung selama ratusan tahun.

Rangkaian peringatan berlangsung di Masjid Baitul Nursyadin, masjid tua yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai salah satu peninggalan sejarah perkembangan Islam di wilayah Magetan. Sejak pukul 08.00 hingga 15.00 WIB, warga bergantian mengikuti pembacaan Maulid Barzanji atau yang dikenal sebagai perjanjen dalam bahasa Jawa.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Lantunan selawat menggema tanpa diiringi musik gembrung, meski masyarakat Durenan sebenarnya memiliki kesenian tersebut.

Tokoh masyarakat Durenan, Muhammad Siis, 86, mengatakan setiap sajian dalam tradisi tersebut memiliki makna tersendiri. Ketan yang disantap pada pagi hari, misalnya, dimaknai sebagai simbol kesetaraan antarwarga.

“Ketan itu punya makna kesetaraan, tidak ada banding-bandingan, apalagi saling iri,” ujarnya.

Setelah pembacaan Maulid Barzanji, warga kemudian membagikan pisang kepada masyarakat yang hadir. Buah tersebut menjadi sajian khas yang tidak pernah dilewatkan dalam peringatan Maulid Nabi di Durenan.

Sementara ambengan dimaknai sebagai bentuk sedekah sekaligus ungkapan syukur dan kebahagiaan atas peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

“Nah, kalau ambengan itu semacam sedekah sebagai ucapan rasa syukur, bahagia, dan penghormatan kepada kanjeng nabi. Setelah didoakan dimakan bersama,” jelas Mbah Siis.

Tradisi pembacaan Barzanji juga memiliki lantunan khas yang diwariskan antargenerasi. Untuk menjaga agar tidak hilang, warga rutin mempelajarinya setiap malam Minggu.

Meski memiliki kesenian gembrung, warga tidak menggunakannya dalam peringatan Maulid Nabi.

“Gembrungnya ada, tapi kalau maulidan nggak dipake. Nek ngangge gembrung niku selawatan dandanan,” tambahnya.

Baca Juga  Kemenbud Kembangkan Talenta Seni Lewat BBM

Masjid Tua dan Jejak Leluhur

Tradisi Maulid Nabi di Durenan tidak dapat dipisahkan dari keberadaan Masjid Baitul Nursyadin. Menurut Mbah Siis, masjid tersebut dikenal sebagai masjid tiban, yakni masjid tua yang keberadaannya dikaitkan dengan kisah perkembangan Islam pada masa lalu.

Berdasarkan cerita yang diwariskan secara turun-temurun, masjid itu telah ada sejak sekitar 1800-an. Bangunan masjid kemudian dipindahkan dari lokasi awalnya, sementara sejumlah benda peninggalan lama masih dirawat hingga kini.

“Dulu masjidnya ada di atas, terus dipindah ke sini sampe sekarang. Kentongan sama bedugnya itu masih asli dari 1 pohon nangka yang dibuat beberapa bedug dan ditempatkan di beberapa masjid tiban,” ungkapnya.

Tokoh masyarakat lainnya, Kaslan (79) mengatakan dirinya sudah mengenal tradisi tersebut sejak kecil. Ia bahkan tidak mengetahui secara pasti kapan Maulid Nabi dengan sajian ketan, pisang, dan ambengan mulai dilakukan karena tradisi tersebut telah diwariskan sejak zaman leluhur.

Menurut Kaslan, warga mempertahankan sajian tersebut karena telah menjadi identitas Maulid Nabi di Durenan. Perubahan dikhawatirkan membuat warisan budaya tersebut perlahan menghilang.

“Memang sudah sejak dulu, budaya ini sudah lama sekali. Kalau diubah nggak bisa, warga senangnya lebih kaya gini,” tuturnya.

Bagi warga, mempertahankan tradisi tersebut bukan hanya soal menjaga kebiasaan lama, tetapi juga bentuk penghormatan kepada para leluhur. Masjid Baitul Nursyadin pun dianggap sebagai bagian dari jejak sejarah awal perkembangan Islam di wilayah Magetan.

“Ini bentuk nguri-uri budaya, yang dibaca itu kisah Nabi sejak lahir sampai meninggal. Dibaca bersama-sama untuk mengenang perjalanan Nabi kita,” kata Kaslan.

Dari ketan, pisang, ambengan hingga lantunan Barzanji, peringatan Maulid Nabi di Durenan menjadi ruang bagi warga untuk merawat kebersamaan sekaligus mempertahankan identitas kampung yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Menelusuri Jejak Peradaban Kuno Game Atlantis Rise of the Java Sea dikembangkan AI META Group untuk membawa pemain menjelajahi Sundaland…