Beritaꦧꦸꦢꦪ

Mengapa Hipotesis Dhani Menarik Dikaji

×

Mengapa Hipotesis Dhani Menarik Dikaji

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Menelusuri Jejak Peradaban Kuno

Hipotesis Dhani Irwanto mengenai Atlantis di Laut Jawa menarik dikaji karena mempertemukan teks Plato dengan geografi Paparan Sunda melalui pendekatan hidrologi. Sejak 2010, insinyur hidrologi itu menelusuri petunjuk lokasi, bentang alam, saluran air, dan bencana dalam kisah berusia lebih dari dua milenium tersebut.

————————————

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Dhani tidak memulai pencarian dari benda yang diklaim sebagai peninggalan Atlantis. Ia menjadikan dialog Timaeus dan Critias, yang ditulis Plato sekitar 360 sebelum Masehi, sebagai sumber utama untuk menyusun gambaran mengenai lokasi yang dicari.

Pendekatan itulah yang membuat hipotesisnya tidak biasa. Kisah yang selama ini lebih sering ditempatkan dalam wilayah mitologi, dibaca seperti kumpulan petunjuk geografis: yakni arah hadap daratan, pegunungan, dataran luas, sungai, kanal, pelabuhan, hingga proses kehancurannya.

Dhani mulai meneliti teks tersebut pada 2010. Hasilnya kemudian dituangkan dalam buku Atlantis: The Lost City Is in Java Sea yang terbit pada April 2015. “Hasil penelitian saya. Kotanya, ibu kota Atlantis itu ada di Laut Jawa,” kata Dhani dalam diskusi daring yang diselenggarakan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, seperti dikutip Mongabay Indonesia.

Menurut hipotesisnya, wilayah Atlantis berada di kawasan Paparan Sunda, sedangkan pusat kotanya diperkirakan terletak di Laut Jawa, sekitar Pulau Bawean. Daratan utamanya dikaitkan dengan wilayah yang kini mencakup bagian selatan Kalimantan dan kawasan laut di sekitarnya.

Salah satu alasan hipotesis itu menarik dikaji adalah latar belakang keilmuan Dhani sebagai insinyur hidrologi. Dia memberikan perhatian besar pada uraian Plato mengenai dataran, sungai, saluran irigasi, kanal pengangkutan, dan sistem pengelolaan air.

Dhani menggunakan metode yang dianalogikan sebagai penyusunan pecahan tembikar. Setiap keterangan dalam teks Plato diperlakukan sebagai potongan informasi yang harus ditempatkan bersama petunjuk lain agar membentuk gambaran utuh.

Baca Juga  Tata Kelola Digital di Muktamar NU

“Pecahan tembikar disambungkan dengan tepat. Tembikar ini narasi yang ditulis Plato,” ujarnya. Dhani kemudian mencocokkan puluhan ciri dalam narasi Plato dengan keadaan geografis, iklim, sumber daya alam, serta bentang perairan Paparan Sunda. Ia antara lain menyoroti dataran luas yang menghadap ke selatan, terlindungi pegunungan di utara, memiliki banyak sungai, dan berada di kawasan beriklim tropis.

Hipotesis itu juga bersinggungan dengan fakta geologi bahwa Paparan Sunda pernah menjadi daratan lebih luas. Pada zaman es terakhir, permukaan laut jauh lebih rendah dibandingkan sekarang, sehingga Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan daratan Asia Tenggara terhubung dalam satu kawasan.

Nah, ketika es mencair, kenaikan permukaan laut secara bertahap mengubah bentang alam Asia Tenggara, kemudian menenggelamkan sebagian Paparan Sunda. Kajian ilmiah telah membuktikan perubahan lingkungan itu, tetapi belum membuktikan bahwa peradaban Atlantis pernah berdiri di sana.

Di sinilah batas penting antara fakta dan hipotesis perlu dijaga. Tenggelamnya daratan purba merupakan kajian geologi, sedangkan penetapan wilayah tersebut sebagai Atlantis masih membutuhkan bukti arkeologis yang dapat diperiksa, diuji, dan dikonfirmasi secara independen.

Dhani pun mengakui perlunya penelitian lanjutan. “Perlu ada eksplorasi mendalam untuk mengetahui keberadaan Atlantis,” katanya, sebagaimana diberitakan Antara.

Karena itu, hipotesis Dhani lebih produktif ditempatkan sebagai pintu masuk penelitian, bukan kesimpulan akhir. Pengujiannya memerlukan kerja lintas disiplin yang melibatkan arkeologi bawah air, geologi, oseanografi, paleoklimatologi, filologi, sejarah, dan teknologi pemetaan dasar laut.

Tantangan lainnya berasal dari sumber utama yang digunakan. Banyak ahli membaca kisah Atlantis sebagai alegori politik dan filsafat Plato tentang negara ideal, kekuasaan, keserakahan, dan kehancuran.

Pandangan itu berbeda dari pendekatan Dhani yang menempatkan uraian Plato sebagai petunjuk menuju tempat nyata. Perbedaan itu tidak harus berakhir sebagai pertentangan. Justru di sanalah letak daya tarik kajiannya: apakah kemiripan yang ditemukan menunjukkan hubungan historis, merupakan hasil penafsiran, atau sekadar kesesuaian yang muncul setelah lokasi dipilih?

Baca Juga  Koordinator KPPG Surabaya Dicopot

Jawabannya tidak cukup diperoleh melalui perdebatan. Penelitian lapangan, pemetaan batimetri beresolusi tinggi, pengambilan sampel sedimen, penentuan umur material, dan penemuan struktur buatan manusia diperlukan untuk menguji dugaan tersebut.

Hipotesis Dhani menjadi menarik, bukan karena telah membuktikan Atlantis berada di Indonesia. Gagasan itu menarik karena menawarkan pertanyaan yang dapat diuji sekaligus mengajak masyarakat melihat Paparan Sunda. Ya, Paparan Sunda sebagai kawasan penting dalam pembahasan lingkungan dan kehidupan manusia masa lalu.

Atlantis mungkin masih berada di antara sejarah, mitologi, dan filsafat. Namun, selama ditempatkan secara kritis, hipotesis Dhani dapat mendorong penelitian lebih serius terhadap bentang purba yang kini tersembunyi di bawah Laut Jawa. (*/ibn)

 

 

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Surabaya, Jatim Mandiri Basha Market PARADIS yang berkolaborasi dengan Livin’ by Mandiri dan Visa menghadirkan produk fashion, kuliner, perawatan kulit,…

Berita

Surabaya, Jatim Mandiri Perwakilan warga dan sekolah di Kaliwaron, Surabaya, berencana mengajukan rapat dengar pendapat kepada DPRD Kota Surabaya untuk…

Semeru
Berita

Lumajang, Jatim Mandiri Sebanyak 170 pendaki Gunung Semeru dipastikan aman saat dievakuasi dari Ranu Kumbolo, Kabupaten Lumajang, Kamis (27/8), menyusul…