Jatim

Gubernur Jatim Terjunkan Tim Trauma Healing Gempa Flores

×

Gubernur Jatim Terjunkan Tim Trauma Healing Gempa Flores

Sebarkan artikel ini
Gubernur Jatim
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa saat memeluk ibu penyintas bencana gempa bumi di Flores
Example 468x60

Intisari Berita:

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id
  • Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengunjungi korban gempa di SD Inpres Robo, Manggarai, NTT, Minggu (23/8/2026).
  • Pemprov Jatim menyalurkan bantuan kemanusiaan, CSR, dan menerjunkan 4 personel tim Layanan Dukungan Psikososial (LDP).
  • Khofifah mengajak anak-anak bernyanyi, memotivasi cita-cita, serta menekankan pentingnya pendampingan trauma healing berkelanjutan.

Manggarai, Jatimmandiri.id — Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak anak-anak penyintas bencana gempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk bangkit kembali, berani bermimpi, dan menatap masa depan.

Khofifah menegaskan bahwa dalam situasi pascabencana, pemulihan korban anak-anak tidak cukup hanya bertumpu pada pemenuhan bantuan logistik fisik, melainkan wajib diimbangi dengan pendampingan psikososial secara berkesinambungan.

Pesan penguatan moral tersebut disampaikan Khofifah saat meninjau langsung pengungsian serta menyerahkan bantuan kemanusiaan Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama dukungan program Corporate Social Responsibility (CSR) di SD Inpres Robo, Desa Ranaka, Kecamatan Wae Ri’i, Kabupaten Manggarai, Minggu (23/8/2026).

Cairkan Trauma: Ajak Anak Bernyanyi dan Memupuk Cita-Cita

Di hadapan puluhan anak yang berkumpul di lokasi penampungan, Gubernur Khofifah berupaya mencairkan ketegangan psikologis pascagempa dengan mengajak mereka berdialog interaktif seputar cita-cita masa depan.

“Ada yang ingin jadi gubernur? Coba angkat tangan,” tanya Khofifah. “Ada yang ingin jadi bupati? Coba angkat tangan,” lanjutnya yang langsung disambut antusiasme anak-anak sembari berteriak, “Saya bu, saya!”

Melihat semangat tersebut, Khofifah memberikan suntikan motivasi agar anak-anak Flores tidak kehilangan harapan meski tengah menghadapi masa-masa sulit pascabencana.

“Mudah-mudahan semua cita-cita kalian tercapai. Yang ingin jadi tentara atau polisi, semoga bisa menjadi jenderal. Jadilah anak-anak Indonesia yang luar biasa,” tutur Khofifah.

Baca Juga  PMII dan GMNI Nganjuk Gelar Aksi Damai, Sampaikan 8 Tuntutan ke Pemkab

Khofifah juga mengecek kesiapan mental mereka untuk kembali ke bangku pendidikan formal begitu gedung sekolah dinyatakan aman dari ancaman gempa susulan.

“Kalau sekolah sudah bisa digunakan, siap sekolah lagi?” tanya Khofifah.
“Siap!” jawab anak-anak serentak.
“Bahagia kita mendengar semangat mereka. Sekolahnya nanti kalau sudah aman dan sudah bisa digunakan, kita kembali sekolah,” imbuhnya.

Suasana di SD Inpres Robo kian semarak saat Khofifah memandu anak-anak melantunkan lagu-lagu nasional, mulai dari lagu “Hari Merdeka” hingga “Garuda Pancasila”, yang disambut gelak tawa dan tepuk tangan meriah di area pengungsian.

Pemprov Jatim Kerahkan 4 Personel Tim Layanan Dukungan Psikososial

Sebagai bentuk intervensi konkret penanganan trauma, Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah menerjunkan tim khusus Layanan Dukungan Psikososial (LDP) yang telah beroperasi di lokasi terdampak selama tiga hari terakhir.

“Kami mengirim tim LDP, layanan dukungan psikososial. Tim LDP ini ada 4 orang yang sudah 3 hari mereka di sini. Jadi ini tim trauma healing. Yang bisa kita lakukan adalah memberikan penguatan kepada anak-anak, bapak-ibu, dan lansia. Mereka membutuhkan waktu untuk mendapatkan pendampingan, konseling, dan trauma healing,” jelas Khofifah.

Sasaran dan Prinsip Pemulihan Psikososial Pascabencana

Layanan LDP ini tidak hanya ditujukan bagi kelompok anak, melainkan juga menyasar para lansia dan orang tua yang mengalami guncangan psikologis pascagempa.

Khofifah mengingatkan bahwa penanganan psikologis membutuhkan proses bertahap dan tidak instan.

  • Pendampingan Berkelanjutan: Pemulihan trauma tidak dapat tuntas dalam satu sesi pertemuan saja dan memerlukan konseling berkala.
  • Pemulihan Rasa Aman: Mengikis rasa takut dan kecemasan mendalam akibat guncangan gempa bumi.
  • Restorasi Rutinitas: Mendorong anak-anak agar kembali berani beraktivitas, bermain bersama rekan sebaya, dan siap belajar di sekolah.
  • Kolaborasi Multisektor: Melibatkan orang tua, guru, tenaga medis, relawan, dan pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas mental pengungsi.
Baca Juga  131 PNS Raih Penghargaan

“Jadi prosesnya tidak cukup hanya sekali. Penguatan, konseling dan trauma healing ini membutuhkan waktu. Karena itu, pendampingan harus terus dilakukan agar anak-anak, bapak-ibu dan lansia bisa kembali kuat setelah menghadapi bencana,” tegasnya.

Semangat Gotong Royong: ‘Kalian Tidak Sendiri, Kita Semua Bersaudara’

Menutup kunjungannya, Khofifah menitipkan pesan moral mendalam kepada seluruh anak-anak dan warga terdampak agar senantiasa tabah melewati masa darurat ini.

“Anak-anakku, kalian tidak sendiri. Kita semua bersaudara. Tetap semangat, sehat dan kuat untuk menghadapi ujian ini. Mudah-mudahan yang sakit segera sembuh dan anak-anak dengan ceria dan semangatnya bisa kembali bersekolah untuk mencapai cita-cita yang luar biasa. Kita hadir bersama-sama untuk membantu saudara-saudara kita di sini,” pungkas Khofifah.

Menurutnya, penanganan bencana yang paripurna harus mengintegrasikan seluruh dimensi: bantuan logistik untuk pangan dan sandang harian, tenaga kesehatan untuk pemulihan fisik, serta pendampingan psikososial guna membangkitkan kembali kekuatan mental para penyintas.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *