Jatim

Jairi Irawan Desak Pemda Beri Panggung Seni Tradisi

×

Jairi Irawan Desak Pemda Beri Panggung Seni Tradisi

Sebarkan artikel ini
jairi irawan
Salah satu kesenian tradisional dalam Pagelaran Purnama Seruling Penataran (PSP) di Candi Penataran, Kabupaten Blitar (ist)
Example 468x60

Intisari Berita:

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id
  • Anggota Komisi E DPRD Jatim Jairi Irawan mendesak pemda sediakan panggung rutin bagi seni tradisi tingkat desa dan kecamatan.
  • Seni lokal seperti wayang jemblung dan langen bekasan terancam punah akibat minim ruang tampil dan pemain yang kian sepuh.
  • DPRD dorong kemudahan izin tampil di ruang publik, modifikasi durasi pertunjukan ramah anak muda, serta pemanfaatan YouTube.

Surabaya, Jatimmandiri.id — Keberlangsungan seni tradisi lokal di tingkat akar rumput membutuhkan intervensi nyata dari pemerintah daerah. Anggota Komisi E Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Timur, Jairi Irawan, mendesak pemerintah kabupaten dan kota untuk menyediakan wadah pementasan berkala bagi kelompok kesenian tradisional yang tumbuh di level kecamatan hingga pelosok desa.

Langkah penyediaan ruang tampil dinilai sangat krusial agar sanggar dan komunitas seni lokal tetap bergairah menggelar aktivitas kebudayaan, sekaligus membuka gerbang regenerasi bagi kalangan seniman muda di Jawa Timur.

“Makanya kami mengangkat tema bagaimana menghidupkan tradisi itu menjadi kebiasaan dan kegiatan di masyarakat,” kata Jairi dalam keterangannya, Jumat (21/8/2026).

Potret Seni Tradisi Blitar-Tulungagung: Ada Penikmat, Minim Ruang Pentas

Jairi mengungkapkan, fakta di lapangan menunjukkan masih banyak ragam kesenian rakyat yang memiliki pelaku dan penikmat setia, namun tidak memiliki kesempatan unjuk gigi secara reguler. Persoalan ini ia temukan secara langsung saat menggelar agenda jaring aspirasi masyarakat (reses) di daerah pemilihan (Dapil) Jawa Timur VII yang meliputi Blitar dan Tulungagung.

Ia mencontohkan beberapa khazanah seni khas seperti wayang jemblung, wayang lesung, dan langen bekasan. Ragam seni tutur dan pertunjukan tersebut masih bertahan di masyarakat, namun pamornya belum sepopuler wayang purwa, jaranan, ataupun ketoprak.

Baca Juga  DPRD Jatim Soroti Validitas DTSEN, Sampah, dan Bedah Rumah

Menurut Jairi, kendala utama kelompok seni ini bukan ketiadaan seniman, melainkan ketiadaan panggung pertunjukan. Tanpa adanya agenda tampil di hadapan publik, eksistensi seni tradisi terancam punah secara perlahan.

“Kalau latihan tidak diimbangi dengan penampilan, ya akhirnya lambat laun akan berkurang. Apalagi pemainnya sekarang sudah mulai sepuh,” ujarnya mengingatkan.

Usulkan Skema Kurasi, Panggung Rotatif, dan Kemudahan Izin

Guna mengatasi persoalan tersebut, Jairi mengusulkan agar pemerintah daerah menginisiasi agenda pementasan secara terjadwal, misalnya dengan siklus tiga atau empat bulan sekali. Pemerintah diharapkan aktif menghubungkan kelompok kesenian rakyat dengan berbagai agenda daerah maupun sentra ruang publik.

“Kalau mereka itu diwadahi dan ada kurator tertentu, berarti mereka bisa reguler untuk tampil di mana, dicarikan tempat untuk tampil,” paparnya.

Selain wadah pertunjukan, Jairi turut menyoroti kendala birokrasi dan meminta pemerintah memberikan diskresi serta kemudahan regulasi perizinan ketika komunitas seni hendak mementaskan karyanya di fasilitas publik.

“Kalau memang mereka diberikan tempat tampil, harus ada perizinan dan diskresi khusus. Tidak perlu diributkan. Diberi kemudahan untuk mereka tampil di mana pun,” tegasnya.

Adaptasi Durasi dan Pemanfaatan Digital untuk Rangkul Generasi Muda

Terkait strategi regenerasi, Jairi menilai kemasan pertunjukan tradisional perlu diadaptasi agar lebih kontekstual dan menarik minat generasi muda tanpa mereduksi nilai filosofis budayanya. Salah satunya dengan memadatkan durasi pentas.

“Kalau wayangan kan biasa sampai semalam suntuk, mereka diambil tiga jam atau empat jam dengan dimampatkan ceritanya,” saran Jairi.

Adanya panggung fisik dinilai menjadi magnet utama yang memantik minat generasi penerus untuk belajar dan menekuni kesenian warisan leluhur.

“Karena dengan penampilan itu maka mereka akan segera regenerasi. Kalau tidak ada penampilan, ya mereka hanya latihan tertentu,” tambahnya.

Baca Juga  Stadion Brawijaya Berbenah Jelang Musim Baru, Persik Kediri Apresiasi Langkah Pemkot

Jairi mengkritisi arah kebijakan pembinaan kebudayaan yang dinilai masih kerap terpusat pada kelompok seni skala besar yang telah memiliki nama, sementara seni tradisi di pedesaan kerap luput dari perhatian.

“Masih terfokus pada seni tradisi yang besar. Tapi seni tradisi yang kecil-kecil di wilayah kecamatan, bahkan di desa atau dusun, itu yang memang belum tersentuh,” ungkapnya.

Perkuat Interaksi Langsung dan Aksi Nyata Komitmen Daerah

Meski mendorong pemanfaatan platform digital seperti YouTube untuk mendokumentasikan dan memperluas jangkauan pemirsa, Jairi menegaskan pertunjukan tatap muka tetap tidak tergantikan guna menjaga koneksi batin antara seniman dan masyarakat.

Sebagai wujud komitmen dan dukungan konkret, Jairi menyebut Partai Golkar Tulungagung berinisiatif menghadirkan panggung bagi kelompok kesenian rakyat secara berkala.

“Golkar Tulungagung akan menampilkan mereka setidaknya tiga bulan sekali bergantian secara rotatif,” tuturnya.

Melalui kolaborasi lintas elemen dan tersedianya ruang berekspresi yang berkelanjutan, ia berharap seniman desa tetap termotivasi berkarya sehingga kekayaan seni tradisi Jawa Timur tetap lestari lintas generasi.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *