Menelusuri Jejak Peradaban Kuno
Bukan reruntuhan yang pertama kali ditemukan pemain, melainkan sebuah Atlantis yang masih hidup. Pelabuhan ramai, perdagangan bergerak, masyarakat beraktivitas, hingga ancaman kehancuran perlahan mulai datang. Misteri Atlantis yang selama ribuan tahun belum memiliki jawaban final, kini dihidupkan kembali melalui game.
—————————————-
Kisah peradaban yang hilang itu mempertemukan sejarah, ilmu pengetahuan, kebudayaan, teknologi, dan kreativitas. Hal itulah yang kemudian menjadi pesan atas pengembangan game yang dilakukan anak-anak muda.
Adalah PT Meta Artificial Technology atau AI META Group yang mengembangkan Atlantis sebagai dunia digital berbasis riset, hipotesis, teknologi, dan imajinasi, tanpa mengklaim teori Atlantis sebagai fakta sejarah. Bagi Direktur PT Meta Artificial Technology Iwan Setiady, ST, daya tarik game bertajuk “Atlantis Rise Of The Java Sea” itu justru terletak pada misterinya.
“Atlantis adalah salah satu misteri peradaban terbesar dunia. Sampai hari ini keberadaannya masih menjadi perdebatan. Tetapi justru di situlah daya tariknya,” kata Iwan. Menurut dia, proyek tersebut tidak dibuat untuk memaksakan satu teori mengenai lokasi Atlantis.
Game itu dirancang sebagai ruang bagi pemain (gamer) untuk bertanya, mencari informasi, membandingkan teori, dan mengenal sejarah kawasan Nusantara. “Game ini tidak dibangun untuk memaksa orang mempercayai satu teori sejarah. Yang ingin dibangun adalah pengalaman yang membuat orang bertanya, mencari tahu, membaca, membandingkan, dan melihat bahwa Indonesia memiliki sejarah geografis dan kebudayaan yang sangat luar biasa,” ujarnya.
Salah satu gagasan utama dalam pengembangan game tersebut adalah mengeksplorasi kemungkinan Atlantis melalui perspektif Nusantara. Atlantis dalam budaya populer selama ini kerap divisualisasikan sebagai kota bawah laut, kerajaan fantastis, atau peradaban dengan teknologi futuristik.
Tapi AI META Group mencoba menawarkan pendekatan berbeda. Developer mengeksplorasi gambaran peradaban tropis-maritim yang berkembang di kawasan dengan karakter geografis kepulauan. Laut ditempatkan bukan sekadar batas, tetapi sebagai penghubung antarkawasan.
Pelabuhan, perdagangan, hutan, gunung, sungai, pertanian, sumber daya alam, serta kehidupan masyarakat menjadi bagian dari pembangunan dunia tersebut. Pendekatan itu tidak dimaksudkan memindahkan kebudayaan Indonesia modern ke masa Atlantis.
Konsepnya merupakan interpretasi kreatif yang mengambil inspirasi dari kondisi geografis dan budaya Nusantara. Salah satu pijakannya adalah hipotesis yang menghubungkan Atlantis dengan Sundaland. Yakni kawasan daratan purba Asia Tenggara yang memiliki konfigurasi berbeda sebelum kenaikan permukaan laut.
Yang menarik, pemain tidak langsung dibawa ke Atlantis sebagai kota yang telah menjadi reruntuhan. Developer justru ingin pemain memasuki peradaban tersebut ketika kehidupan masih berlangsung. Pelabuhan ramai, perdagangan berjalan, masyarakat beraktivitas, pusat pengetahuan berfungsi, dan kekuasaan masih bekerja.
Dari situ, pemain akan mendapatkan gambaran perubahan secara bertahap ketika alam mulai menghadirkan ancaman. Perubahan cuaca, kenaikan air, bencana, dan ketegangan sosial menjadi bagian dari perkembangan cerita. Peradaban yang merasa kuat akhirnya menghadapi sesuatu yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan.
Konsep tersebut diharapkan membangun keterikatan emosional pemain. Jika reruntuhan hanya memunculkan rasa ingin tahu, peradaban yang pernah dikenal dan dijelajahi pemain dapat menghadirkan rasa kehilangan ketika kehancuran mulai terjadi. Pemain tidak sekadar menyaksikan Atlantis hilang, tetapi merasakan proses menuju hilangnya sebuah peradaban.
Konflik dalam game juga dirancang lebih luas daripada pertarungan antarkerajaan.
Manusia menghadapi alam, kekuasaan berhadapan dengan kepentingan masyarakat, kemajuan berhadapan dengan keserakahan, serta teknologi berhadapan dengan kebijaksanaan.
Pada titik tertentu, konflik terbesar adalah perjuangan sebuah peradaban menghadapi waktu. Pemain dapat menjelajahi wilayah, berinteraksi dengan masyarakat, menemukan artefak, mempelajari pengetahuan, membuka wilayah baru, mengambil keputusan, dan menghadapi berbagai konflik.
Dengan konsep tersebut, Atlantis dibangun sebagai world-building, bukan sekadar latar permainan. Dunia itu dirancang memiliki masyarakat, ekonomi, budaya, teknologi, kekuasaan, perdagangan, alam, serta kepentingan yang saling berhubungan. (*/ibn)












