Surabaya, Jatimmandiri.id – Kekhawatiran pengendara sepeda motor terhadap mesin yang tiba-tiba mogok coba dijawab mahasiswa Teknik Elektro Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Vendy Febianto Ahmad.
Berawal dari hobinya di dunia otomotif, Vendy merancang sistem pemantau suhu mesin berbasis Internet of Things (IoT) yang mampu mendeteksi kenaikan temperatur sebelum mencapai kondisi kritis.
Perangkat tersebut tidak hanya memantau suhu mesin secara real-time, tetapi juga memberikan peringatan dini (early warning) ketika temperatur mulai meningkat dan berpotensi menyebabkan overheat.
Ide itu muncul dari pengamatan Vendy terhadap indikator temperatur bawaan kendaraan.
Menurut dia, indikator pada umumnya baru memberikan tanda ketika suhu mesin sudah mencapai kondisi panas yang cukup tinggi.
“Saya berpikir bagaimana kita bisa mengecek suhu sebelum terjadi overheat. Jadi sebelum overheat kita sudah bisa mengetahui lebih dahulu kondisi suhu mesin,” ujar Vendy, Rabu (12/8/2026).
Untuk menghasilkan pembacaan temperatur yang lebih presisi, sistem tersebut dilengkapi tiga jenis sensor, yakni PT100, thermocouple, dan GY-906.
Data yang diperoleh sensor kemudian diolah untuk memberikan peringatan secara bertingkat.
Ketika suhu mesin memasuki kondisi yang berpotensi membahayakan, pengendara mendapat tiga tanda sekaligus berupa bunyi buzzer, tampilan status pada layar LCD, serta notifikasi langsung ke ponsel melalui aplikasi IoT Blynk.
“Kalau sistem mendeteksi suhu overheat, early warning akan aktif. Ada tiga indikator, yaitu buzzer, status di LCD, dan notifikasi dari IoT Blynk,” jelasnya.
Sistem tersebut dirancang sebagai langkah pencegahan agar pengendara memiliki waktu untuk mematikan mesin sebelum terjadi kerusakan lebih serius.
Kondisi overheat dapat memicu sejumlah masalah, mulai dari mesin mengelitik hingga komponen di dalam mesin terkunci (seize).
Untuk menguji kinerja perangkat, Vendy memasangnya pada sepeda motor Honda PCX 150 miliknya.
Motor tersebut dikendarai hingga temperatur mesin meningkat untuk menguji akurasi sensor sekaligus melihat kecepatan respons sistem.
“Dari pengujian PCX 150 yang saya rakit, saya bawa jalan sampai kondisi suhu sekitar 100 derajat dan indikator bawaan motor menyala,” katanya.
Inovasi Vendy menjadi salah satu contoh upaya Untag Surabaya mendorong hasil riset mahasiswa agar tidak berhenti sebagai tugas akhir.
Kampus membuka peluang agar karya mahasiswa dapat dikembangkan lebih lanjut hingga tahap hilirisasi dan komersialisasi.
Rektor Untag Surabaya Harjo Seputro mengatakan kampus terus memberikan ruang bagi mahasiswa untuk menghasilkan karya inovatif yang memiliki manfaat lebih luas.
“Ini salah satu upaya bagi kami untuk meningkatkan kualitas akademik. Dengan pemilihan karya inovasi yang menarik, banyak mahasiswa akan termotivasi untuk membuat karya ilmiah semenarik mungkin,” ujar Harjo.
Menurut Harjo, karya inovasi mahasiswa dihimpun dari berbagai program studi melalui kelompok riset dan peta jalan (roadmap) penelitian fakultas.
Kampus juga memberikan fasilitas untuk pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) bagi karya yang dinilai memiliki potensi.
Untuk memperkuat ekosistem riset tersebut, Untag Surabaya telah menyiapkan dana penelitian internal sekitar Rp2,5 miliar.
Dana itu disalurkan melalui sejumlah skema, mulai penelitian dasar, pengembangan produk, hingga tahapan komersialisasi menuju industri.
Melalui dukungan tersebut, inovasi mahasiswa diharapkan tidak hanya menjadi karya akademik, tetapi dapat berkembang menjadi produk yang menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus memiliki nilai ekonomi.












