Beritaꦧꦸꦢꦪ

Mengapa Belum Ada Bukti Kota Atlantis?

×

Mengapa Belum Ada Bukti Kota Atlantis?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi berbagai upaya penelitian dalam menegaskan peradaban Atlantis, namun belum menemui titik terang.
Example 468x60

Menelusuri Jejak Peradaban Kuno

Atlantis masih menjadi misteri yang belum terpecahkan, meski kisahnya telah berusia ribuan tahun dan terus mendorong penelitian tentang kemungkinan lokasi peradaban tersebut. Salah satu hipotesis menempatkan pusat Atlantis di Laut Jawa, tetapi hingga kini belum ditemukan bukti fisik yang dapat memverifikasinya secara ilmiah. Mengapa?

————————

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

KISAH Atlantis pertama kali dikenal melalui tulisan filsuf Yunani Plato sekitar 360 sebelum Masehi. Sejak itu, keberadaan kota yang disebutnya sebagai peradaban besar tersebut menjadi bahan perdebatan panjang.

Hingga kini, belum ada artefak, struktur bangunan, maupun sisa peradaban yang berhasil dikonfirmasi secara ilmiah sebagai bukti keberadaan Atlantis. Jejak peradaban kuno juga menghadapi tantangan alam.

Sedimentasi dapat menimbun sisa bangunan di dasar laut, sementara abrasi dan erosi mampu menghancurkan struktur yang tersisa. Kenaikan permukaan laut sejak akhir zaman es turut mengubah bentang alam dan menenggelamkan sejumlah wilayah yang dahulu berupa daratan.

Pelapukan selama ribuan tahun juga berpotensi mengikis material bangunan, terutama benda berbahan organik atau batu yang relatif lunak. Perpaduan berbagai proses tersebut membuat pencarian peninggalan peradaban kuno di bawah laut menjadi pekerjaan yang tidak sederhana.

Hipotesis di Laut Jawa

Di tengah misteri tersebut, Dhani Irwanto, pakar hidrologi Indonesia, mengajukan hipotesis bahwa Atlantis berada di kawasan Laut Jawa. Setelah melakukan penelitian selama lebih dari enam tahun, Dhani mengidentifikasi Gosong Gia atau Annie Florence Reef sebagai lokasi yang diduganya merupakan bekas ibu kota Atlantis.

“Hasil penelitian saya. Kotanya, ibukota Atlantis itu ada di Laut Jawa,” kata Dhani Irwanto dalam presentasinya. Gosong Gia berada sekitar 150 kilometer timur laut Pulau Bawean, Gresik, Jawa Timur. Dhani menilai karakteristik kawasan tersebut memiliki sejumlah kesesuaian dengan gambaran Atlantis dalam tulisan Plato.

Baca Juga  Optimalkan Promo Kredit Agunan Rumah

Ia menyebut bentuk kota, kondisi geografis, serta proses bencana alam menjadi bagian dari dasar analisisnya. Dalam kajiannya, Dhani menyatakan terdapat 60 kecocokan antara informasi yang disampaikan Plato dan hasil penelitiannya.

“Ada 60 kecocokan dengan apa yang diungkapkan oleh Plato dengan hasil riset yang saya lakukan, dan diyakini pusat peradaban Atlantis kini berada di dasar laut yang tertutup terumbu karang dekat Pulau Bawean di Laut Jawa,” kata Dhani dalam Geosharing 2016 di Bandung.

Menurut Dhani, Atlantis hancur sekitar 9.000 tahun sebelum zaman Solon akibat gempa bumi dan tsunami, kemudian tenggelam secara bertahap akibat kenaikan permukaan air laut.

Terhalang Terumbu

Hipotesis tersebut belum mudah diverifikasi karena lokasi yang diduga berada di bawah laut dengan kondisi lingkungan yang sulit dijangkau. Dhani menyebut terumbu karang setinggi sekitar 60 meter telah menutupi area yang diduganya sebagai bekas ibu kota Atlantis.

Kondisi tersebut membuat penelitian membutuhkan teknologi khusus, termasuk perangkat sonar, kendaraan bawah laut, serta metode pengambilan sampel yang sesuai. Laut dengan kedalaman lebih dari 60 meter juga membutuhkan biaya dan peralatan penelitian yang jauh lebih besar dibandingkan eksplorasi di perairan dangkal.

Tantangan lain adalah belum ditemukannya artefak budaya material yang dapat dikaitkan langsung dengan Atlantis, seperti tembikar, logam, maupun tulisan. Ketiadaan bukti tersebut menjadi salah satu persoalan utama dalam proses pembuktian hipotesis tentang lokasi Atlantis di Laut Jawa.

Perdebatan Ilmiah

Hipotesis Dhani tidak terlepas dari perdebatan di kalangan peneliti. Sebagian pihak melihat pendekatan lintas disiplin sebagai salah satu cara untuk menguji berbagai kemungkinan mengenai Atlantis.

Namun, kritik juga muncul terhadap metode tertentu yang digunakan dalam penelitian tersebut. Jason Colavito, penulis dan peneliti independen, mengkritik upaya menghitung kapasitas aliran sungai Atlantis berdasarkan informasi terbatas yang terdapat dalam tulisan Plato.

Baca Juga  Menelusuri Jejak Peradaban Kuno, Mengapa Plato Menulis Atlantis?

Menurut Colavito, informasi tersebut tidak memadai untuk menghasilkan perhitungan ilmiah mengenai kapasitas sungai Atlantis. Perbedaan pandangan tersebut menunjukkan bahwa pembahasan Atlantis tidak hanya menyangkut pencarian lokasi, tetapi juga menyentuh persoalan metode dan standar pembuktian ilmiah.

Berharap Teknologi

Perkembangan teknologi bawah laut membuka kemungkinan baru bagi penelitian kawasan yang selama ini sulit dijangkau. Sonar berkemampuan tinggi, pemetaan dasar laut, kendaraan bawah laut tanpa awak, serta teknik geologi modern dapat membantu peneliti memperoleh gambaran lebih detail mengenai kondisi bawah permukaan.

Bagi Dhani, perkembangan teknologi tersebut memberikan harapan untuk memperoleh data baru yang dapat menguji hipotesisnya. Ia terus mengumpulkan data dan menganalisis teks Plato bersama informasi geografis serta geologis di kawasan Laut Jawa.

Dalam berbagai forum, Dhani juga mengangkat tema “Mengenal Kehidupan Masyarakat Atlantis Melalui Pendekatan Kontekstual”. Pendekatan itu menggunakan model triad yang menggabungkan teks, konteks, dan konsiliensi untuk memahami kemungkinan kehidupan serta lingkungan peradaban kuno.

Pada akhirnya, Atlantis masih berada di antara cerita kuno, hipotesis, dan pencarian ilmiah yang belum menemukan titik akhir. Bagi peneliti yang terus menelusurinya, pencarian tersebut membutuhkan ketekunan, data yang dapat diuji, teknologi yang memadai, serta keterbukaan terhadap berbagai kemungkinan.(*/ibn)

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Kapolri Prioritaskan Keselamatan Masyarakat Manggarai, Jatim Mandiri Gempa berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur, menewaskan 70 orang…

Berita

Surabaya – Jatim Mandiri Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) kembali dibuka untuk wisatawan mulai Kamis besok (20/8). Ini seiring…

Berita

Probolinggo, Jatim Mandiri Polisi Cilik (Pocil) binaan Satlantas Polres Probolinggo tampil kompak dalam upacara penurunan bendera HUT ke-81 Kemerdekaan RI…

Berita

Probolinggo – Jatim Mandiri Pemkot Probolinggo menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) di Pasar Baru, Kota Probolinggo, Selasa (18/8), untuk menjaga…