Sidoarjo, Jatimmandiri.id – Kasus perundungan (bullying) yang masih kerap membayangi lingkungan sekolah mendapat perhatian serius dari Pemerintah Pusat. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Prof. Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa satuan pendidikan wajib menjadi ruang yang aman dan nyaman bagi seluruh peserta didik agar proses belajar serta tumbuh kembang anak berjalan tanpa rasa takut.
Mendikdasmen menekankan bahwa pemerintah saat ini mendorong penanaman budaya saling menghormati di lingkungan sekolah. Hal ini sedang diupayakan secara massif guna mengikis berbagai potensi intimidasi fisik maupun verbal.
“Kita sekarang sedang mengembangkan budaya aman dan nyaman. Karena memang banyak sekali perundungan yang terjadi dan itu harus menjadi perhatian kita bersama,” ujar Abdul Mu’ti kepada media pada Selasa (28/07).
Perlunya Pendekatan Komprehensif
Pergaulan dan gaya interaksi anak-anak di sekolah terkadang luput dari pengawasan guru, dan tak dapat dielakkan pula bullyan-bullyan muncul begitu saja. Tentu saja ini hal ini akan menjadi masalah serius bila tidak segera dihentikan. Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa perundungan bukanlah persoalan sepele yang dapat diabaikan. Dampak psikologis dari aksi intimidasi tersebut berpotensi merusak kesehatan mental, menurunkan rasa percaya diri, hingga mengganggu masa depan anak secara jangka panjang.
Dalam menangani perundungan tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab instansi sekolah saja, namun butuh kolaborasi aktif segenap elemen.
“Budaya saling menghormati harus kita bangun bersama. Sekolah tidak bisa bekerja sendiri. Orang tua, guru, dan masyarakat harus ikut menciptakan lingkungan yang membuat anak merasa aman, nyaman, dan terlindungi,” tegasnya.
Penguatan Pendidikan Karakter Sejak Dini
Sebagai langkah preventif jangka panjang, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mendorong akselerasi pendidikan karakter sejak usia dini. Penanaman nilai-nilai dasar seperti empati, toleransi, kepedulian, dan rasa tanggung jawab dianggap sebagai benteng utama dalam membentuk iklim sosial yang sehat di kalangan pelajar.
Melalui fondasi karakter yang kokoh, para siswa diharapkan memiliki keberanian sosial untuk menolak segala bentuk tindak kekerasan dan perundungan di lingkungan mereka.
Dengan diperkuatnya sinergi antara lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat, Abdul Mu’ti optimistis ekosistem pendidikan Indonesia mampu melahirkan generasi unggul yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki empati tinggi dan berkarakter kuat












